SDM Indonesia Minim Pengetahuan Wirausaha

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta - Wakil Rektor Universitas Indonesia Bambang Wibawarta menilai sistem pendidikan di Indonesia kurang sukses dalam menanamkan kesadaran masyarakat berwirausaha. Akibatnya minat masyarakat menjadi seorang pengusaha masih minim.

"Tidak ada sistem pendidikan kita untuk menanamkan sifat berwirausaha sejak dini, di SD, di SMP, SMA. Jadi pengetahuan tentang berwirausaha masih minim," katanya dalam seminar Komunitas Wirausaha Excellent di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Sabtu (12/7).

Bambang meyakini, solusi mengatasi masalah negara sebesar dan seluas Indonesia, adalah dengan memperbanyak jumlah pengusaha dari total 250 juta penduduk di Tanah Air. Persoalannya, kurikulum 2013 dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tak juga memasukkan materi kewirausahaan secara terpadu di pelbagai tingkat pendidikan.

"Wirausaha itu harus dibangun melalui budaya kita, hal itu kemudian didampingi dengan ilmu pengetahuan, sayangnya kurikulum 2013 yang baru ini masih belum jelas, kacau, apalagi mengenai ilmu kesenian dan budayanya," kata Bambang.

Akibat dari minimnya kesadaran berwirausaha, lulusan sekolah di negara ini, menurut Bambang kurang bermental baja dalam pekerjaan. "Lebih cenderung melahirkan orang-orang yang pandai membuat perencanaan dibandingkan orang yang tipe pekerja." ucarnya

Sedangkan saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia, tercatat hingga Februari 2014, ada 44,2 juta orang yang berusaha membuka lapangan kerja secara berdikari. Sementara, total penduduk bekerja di republik ini mencapai 118,1 juta orang.

Bila dibedah lagi, wirausahawan di Indonesia terdiri dari jumlah penduduk berusaha sendiri 20,32 juta orang, berusaha dibantu buruh tidak tetap 19,74 juta orang dan berusaha dibantu buruh tetap 4,14 juta orang. Dari data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, jumlah wirausahawan ini masih minim. Sebab, baru mencapai 1,56 persen dari total populasi.

dari jumlah itu, Bank Indonesia mencatat tingkat kewirausahaan Indonesia masih kalah dengan negara kawasan Asean lain, dimana jumlah pelaku usaha mandiri di Malaysia, Thailand, dan Singapura, melampaui 4% dari keseluruhan populasi masyarakatnya.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta generasi muda mendatang harus menjadi pelopor wirausahawan di Indonesia. Ciptakan lapangan kerja, jangan mengandalkan yang sudah ada.

Presiden menegaskan bahwa peningkatan lapangan pekerjaan saat ini selalu menjadi perhatian pemerintah. Apalagi, pemerintah memiliki batasan dalam menciptakan lapangan kerja khususnya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Banyak yang mau jadi pegawai, TNI, Polri, tetapi ada batasnya. Kami tidak mungkin menambah kapasitas PNS, TNI, Polri, tetapi tak sebesar itu yang kita butuhkan," ujar Presiden.

Sementara itu, untuk mendukung sektor riil yang masih minim diakses perusahaan pembiayaan (multifinance), khususnya UKM,Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perusahaan pembiayaan untuk mengembangkan sasaran pembiayaannya. [agus]