Pasca Pilpres, IHSG Kembali Meradang

Imbas Lonjakan Hanya Sesaat

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta –Momentum pemilu presiden (Pilpres) memberikan dampak siginifikan terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berhasil tembus ke 5000. Namun ironisnya, euforia penguatan indeks BEI ini hanya bersifat sementara dan akhirnya kembali terkoreksi pada perdagangan Jum’at akhir pekan kemarin sebesar 65,411 poin (1,28%) ke level 5.032,599.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengingatkan bahwa semua pihak jangan terus terlena dengan lonjakan IHSG pasca Pilpres. Pasalnya,

IHSG tidak hanya berlandaskan sentimen, tetapi juga fundamental ekonomi. "Saya kira sentimen pertama ini cukup berperan sehingga indeks mengalami peningkatan. Namun, kita tetap harus berhati-hati karena saya pikir faktor regional, global. Kita dihadapkan beberapa persoalan relatif sama,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Meski demikian, sentimen masyarakat terhadap Pilpres baik dalam maupun luar negeri cukup baik. Bahkan kemarin investor asing banyak yang membeli saham, sehingga volume perdagangan kemarin mencetak Rp15 triliun untuk satu hari transaksi,”Jadi saya pikir sentimennya positif, mudah-mudahan bisa jadi bekal, tapi tentu saja tetap harus pantau lebih dekat. Karena teman-teman tahu, indeks itu turun naik. Hari ini bisa naik bisa turun. Tetap semua tentu saja dilandasi dengan fundamental ekonomi,”kata Muliaman.

Dia berharap IHSG akan terus membaik di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia yang seperti saat ini,”Dan tentu saja kita be ready dengan perkembangan sentimen dan perkembangan fundamental. Jadi saya pikir kita lihat nanti. Tapi intinya tidak lepas dari dua hal itu,”tandasnya.

Sebelumnya, pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidi pernah bilang, penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah akibat pengaruh pilpres hanya bersifat sementara saja dikarenakan pada bulan Agustus yang akan datang akan terjadi tantangan terhadap ekonomi domestik maupun global.

Setelah pilpres nanti, IHSG dan nilai tukar rupiah akan siap-siap terkoreksi atas fundemental ekonomi yang akan terjadi di Indonesia,”Penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah hanya berlangsung sesaat saja, sampai akhir tahun saja IHSG akan diprediksi 5.100 dan nilai tukar rupiah Rp11.300 perdollar sehingga tidak bergerak jauh atas penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah yang terjadi sekarang ini,”tandasnya.

Dirinya mengakui, pelaku pasar modal lebih menginginkan agar Joko Widoodo (Jokowi) untuk menjadi pemenang pilpres sehingga kepastian untuk berinvestasi di pasar modal lebih baik lagi, khususnya bagi investor asing. Namun, pelaku pasar modal menginginkan pemimpin nasional selanjutnya bisa mengerek perekonomian Indonesia menjadi lebih baik lagi.“Pelaku pasar modal ingin melihat kinerja pemimpin nasional yang akan datang dalam menumbuhkan pertumbuhan ekonomi menjadi 7% sehingga akan bisa menguatkan kondisi IHSG dan nilai tukar rupiah,” ujar Budi. (bani)