Pasca Pilpres, IHSG Kembali Meradang - Imbas Lonjakan Hanya Sesaat

NERACA

Jakarta –Momentum pemilu presiden (Pilpres) memberikan dampak siginifikan terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berhasil tembus ke 5000. Namun ironisnya, euforia penguatan indeks BEI ini hanya bersifat sementara dan akhirnya kembali terkoreksi pada perdagangan Jum’at akhir pekan kemarin sebesar 65,411 poin (1,28%) ke level 5.032,599.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengingatkan bahwa semua pihak jangan terus terlena dengan lonjakan IHSG pasca Pilpres. Pasalnya,

IHSG tidak hanya berlandaskan sentimen, tetapi juga fundamental ekonomi. "Saya kira sentimen pertama ini cukup berperan sehingga indeks mengalami peningkatan. Namun, kita tetap harus berhati-hati karena saya pikir faktor regional, global. Kita dihadapkan beberapa persoalan relatif sama,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Meski demikian, sentimen masyarakat terhadap Pilpres baik dalam maupun luar negeri cukup baik. Bahkan kemarin investor asing banyak yang membeli saham, sehingga volume perdagangan kemarin mencetak Rp15 triliun untuk satu hari transaksi,”Jadi saya pikir sentimennya positif, mudah-mudahan bisa jadi bekal, tapi tentu saja tetap harus pantau lebih dekat. Karena teman-teman tahu, indeks itu turun naik. Hari ini bisa naik bisa turun. Tetap semua tentu saja dilandasi dengan fundamental ekonomi,”kata Muliaman.

Dia berharap IHSG akan terus membaik di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia yang seperti saat ini,”Dan tentu saja kita be ready dengan perkembangan sentimen dan perkembangan fundamental. Jadi saya pikir kita lihat nanti. Tapi intinya tidak lepas dari dua hal itu,”tandasnya.

Sebelumnya, pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidi pernah bilang, penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah akibat pengaruh pilpres hanya bersifat sementara saja dikarenakan pada bulan Agustus yang akan datang akan terjadi tantangan terhadap ekonomi domestik maupun global.

Setelah pilpres nanti, IHSG dan nilai tukar rupiah akan siap-siap terkoreksi atas fundemental ekonomi yang akan terjadi di Indonesia,”Penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah hanya berlangsung sesaat saja, sampai akhir tahun saja IHSG akan diprediksi 5.100 dan nilai tukar rupiah Rp11.300 perdollar sehingga tidak bergerak jauh atas penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah yang terjadi sekarang ini,”tandasnya.

Dirinya mengakui, pelaku pasar modal lebih menginginkan agar Joko Widoodo (Jokowi) untuk menjadi pemenang pilpres sehingga kepastian untuk berinvestasi di pasar modal lebih baik lagi, khususnya bagi investor asing. Namun, pelaku pasar modal menginginkan pemimpin nasional selanjutnya bisa mengerek perekonomian Indonesia menjadi lebih baik lagi.“Pelaku pasar modal ingin melihat kinerja pemimpin nasional yang akan datang dalam menumbuhkan pertumbuhan ekonomi menjadi 7% sehingga akan bisa menguatkan kondisi IHSG dan nilai tukar rupiah,” ujar Budi. (bani)

BERITA TERKAIT

Bulog Tangerang Siapkan OP Antisipasi Lonjakan Harga Sembako

Bulog Tangerang Siapkan OP Antisipasi Lonjakan Harga Sembako NERACA Tangerang - Aparat Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Tangerang, Banten, mempersiapkan…

Pengusaha Optimistis Ekonomi Bakal Menggeliat - Pasca Teror Bom Surabaya

    NERACA   Surabaya - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya optimistis perekonomian Kota Pahlawan akan membaik pascateror…

BI Kembali ke Khittah-nya

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi NERACA   Menurut rencana pekan ini, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan diserahterimakan dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harum Energy Bagikan Dividen US$ 45 juta

Sukses membukukan kinerja positif dengan perolehan laba bersih melesat tajam, PT Harum Energy Tbk (HRUM) akhirnya memutuskan untuk membagikan dividen…

PTPN X Terbitkan MTN Rp 500 Miliar

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menerbitkan "Medium Term Notes" (MTN) atau surat utang jangka menengah tahun 2018 senilai Rp500 miliar,…

Mitra Investindo Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, perdagangan saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) masuk dalam pengawasan PT Bursa…