Lahan Milik Seorang Petani Hanya 0,3 Hektar

Perlu Penambahan Sawah Baru

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Pertanian Suswono menyatakan umumnya petani di Indonesia merupakan petani gurem dengan kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,3 hektare per petani. Kondisi tersebut, kata Mentan, membuat pemerintah sulit untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu, kata Suswono, pemerintah mendatang harus memiliki kemauan politik untuk melakukan penambahan lahan pertanian.

Hal itu disampaikan Mentan, pekan lalu di Jakarta. Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional terdapat lahan telantar seluas 7,2 juta hektare, namun ternyata yang benar-benar tersedia hanya 4,8 juta hektare dan yang siap untuk dijadikan lahan pertanian 13 ribu hektare.

Menurut Suswono, penambahan lahan pertanian melalui dukungan anggaran untuk penambahan lahan pertanian sangat diperlukan sehingga kepemilikan lahan petani sedikitnya menjadi 2 hektar per kepala keluarga. Padahal, lanjut Suswono, Indonesia memiliki peluang yang besar sebagai negara yang kuat di bidang pangan apalagi potensi sumberdaya alam juga menunjang. Mentan juga menyatakan, banyak persoalan di sektor pertanian yang tidak bisa hanya diselesaikan oleh Kementerian Pertanian namun perlu dukungan kementerian maupun lembaga yang lain.

Terkait hal ini, dua pasang calon presiden dan wakil presiden telah menjanjikan jutaan sawah dan lahan baru untuk sektor pertanian. Sektor pertanian dijanjikan lahan baru jutaan hektar untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Calon Presiden Prabowo Subianto mengatakan pihaknya akan membuka dua juta hektare lahan pertanian dalam lima tahun ke depan, bila terpilih dalam Pemilihan Umum Presiden 2014. "Kami rencanakan akan menambah dua juta hektare sawah baru di Indonesia," kata Prabowo Subianto dalam debat calon presiden dan calon wakil presiden bertemakan Pangan Energi, dan Lingkungan di Jakarta, belum lama ini.

Lebih jauh mengatakan dengan membuka lahan pertanian baru tersebut maka diharapkan mampu menggantikan lahan pertanian yang saat ini terus berkurang sebanyak 60.000 hektare per tahun. Dengan demikian diharapkan mampu mendongkrak produksi pertanian di Indonesia. Prabowo juga mengungkapkan defisit lahan pertanian akan mencapai 750 ribu hektar di 2015.

Di samping itu, dia mengedepankan program intensifikasi melalui pemakaian pupuk majemuk yang spesifik. Saat ini, kata dia, Indonesia belum menggunakan pupuk majemuk yang spesifik, namun pupuk majemuk yang umum. Pupuk majemuk yang umum saja, menurut Prabowo telah mampu meningkatkan sekitar 40% produksi pertanian. Oleh Karena itu, dengan pupuk yang spesifik akan mampu meningkatkan lebih dari 40 persen produksi.

Dia mengatakan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, pasangan Prabowo Hatta akan menyediakan pangan yang berkecukupan, terjangkau oleh seluruh masyarakat, mengupayakan diversifikasi pangan, meningkatkan kualitas dan gizi masyarakat serta mitigasi untuk mencegah kerusakan pangan. Untuk menciptakan kedaulatan energi, akan dilakukan peningkatan produksi migas, mengurangi impor, melakukan penghematan, mengupayakan diversifikasi energi, menciptakan energi baru dan memanfaatkan energi terbaharukan.

Capres Joko Widodo menekankan pentingnya menyiapkan pasar untuk produk-produk pertanian sebelum meminta para petani untuk memproduksi komoditas pertanian. "Yang harus dilihat lebih dahulu adalah pasarnya, kalau kita ingin ekspor pastikan pasarnya ada. Kalau sudah ada baru, kita minta petani untuk berproduksi," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan hal itu merupakan jawaban bagi upaya dan strategi dalam menghadapi tantangan liberalisasi pangan dan perdagangan. Jokowi mencontohkan jika petani diminta untuk menanam pepaya, melon, atau semangka maka harus dipastikan pasar sudah ada dan tersedia. "Petani kita pada dasarnya asal diberi bibit, pupuk, dan sarana produksi pertanian, pasti bisa mencapai target produksi," katanya.

Akan tetapi, menurut Jokowi, selama ini menjadi persoalan di Indonesia yakni tidak pernah menyiapkan pasar yang memadai bagi produk-produk pertanian. Padahal Jokowi menambahkan Indonesia memiliki banyak pakar, ahli, petani, dan lahan yang subur yang memungkinkan untuk mencapai target produksi komoditas pertanian apapun.

Sementara itu, calon wakil presiden Jusuf Kalla menegaskan akan mencetak sedikitnya satu juta hektare sawah untuk memenuhi kebutuhan pangan. Menurut dia, Jokowi-JK akan bergerak cepat, akan cetak sawah setidaknya satu juta hektare untuk memenuhi kebutuhan pokok.

JK menjelaskan luas sawah di Tanah Air saat ini ada 12 juta hektare yang 8 juta hektare di antaranya ditanami padi. Pada 2012 menurut dia, impor banyak sekali beras, sebesar 2,7 juta. Padahal pada 2008 sudah swasembada. Untuk menyelesaikan soal pangan, lanjutnya, dimulai dengan bagaimana meningkatkan produktifitasnya. Selain itu, perlu disiapkan bibit yang unggul, pupuka dan pengairan yang baik. Pengembangan produk pertanian bukan hanya beras, tapi juga jagung, gula, kedelai dan sebagainya.

Jusuf Kalla mengatakan guna meningkatkan produksi pangan sekaligus kesejahteraan petani perlu diperlukan diversifikasi produksi serta pasar. Misalnya sawit perlu dibuat industri hilir sehingga ada nilai tambah bagi petani maupun negara. Jusuf Kalla menjelaskan, produksi sawit perlu dibuat bahan setengah jadi yakni "crude palm oil" (CPO) dan produk lainnya.