Emisi Obligasi di BEI Capai Rp 26,49 Triliun

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta – Lambat tapi pasti, total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan sepanjang tahun ini terus tumbuh. Saat ini yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp26,49 triliun, yang disumbang 26 emisi dari 26 emiten. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan II Pegadaian Tahap II Tahun 2014 oleh PT pegadaian (Persero). Obligasi senilai Rp[960 miliar tersebut trediri atas tiga seri, yakni sei A senilai Rp360 miliar dengan tenor 370 hari, seri B senilai Rp202 miliar dengan tenor 3 tahun dan seri C senilai Rp398 miliar memiliki jangka waktu selama 5 tahun.

Sebelumnya juga telah dicattakan Obligasi I Pupuk Indonesia Tahun 2014 sebesar Rp1,699 triliun oleh PT Pupuk Indonesia. Obligasi itu terdiri atas dua seri, yakni seri A senilai Rp568 miliar dengan tenor 3 tahun dan seri B sebesar Rp1,131 triliun dengan tenor selama 5 tahun. Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 255 emisi dari 109 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp217,37 triliun dan US$ 100 juta.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 93 seri sebesar Rp1.137,44 triliun dan US$ 540 juta serta lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp2,05 triliun. Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing pernah bilang, pasar obligasi akan bergerak positif ketika sudah mendapatkan hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres). Karena sebelum pilpres, pasar obligasi bergerak cenderung mendatar lantaran tendensi BI rate yang tidak berubah, yield juga tak berubah bahkan untuk tenor yang 10 tahun cenderung mengalami penurunan menjadi 8,13%,”Akan tetapi semakin kesini para investor memberikan sentimen positif karena mereka para investor menilai pemenang dari pilpres sudah terlihat. Terlebih dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan pemilihan presiden dalam satu putaran. Ini tentunya memberikan dampak positif terhadap pasar karena kalau semakin lama maka akan menimbulkan ketidakpastian,” ungkap Tumpal..

Untuk pasar obligasi pasca pilpres, Tumpal memandang ada dua perbedaan yang akan ditimbulkan dari masing-masing Capres dan Cawapres. Untuk Capres nomer urut satu, lanjut dia, pola kebijakan ekonomi akan tidak jauh berbeda dengan pola ekonomi yang telah berjalan 10 tahun terakhir sejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Hatta Rajasa adalah orang pemerintahan, apalagi dia (Hatta) yang mempromosikan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Jadi saya rasa, ketika Capres nomer urut satu menang maka program MP3EI akan kembali digenjot dan dimaksimalkan,” katanya.

Sementara untuk Capres nomer urut dua, Tumpal menilai pola ekonomi akan jauh berbeda karena Capres tersebut lebih memaksimalkan potensi-potensi di daerah. Hal ini, kata dia, akan berjalan baik untuk pertumbuhan pembiayaan di daerah. “Antara ekonomi dan bonds itu terkait, artinya jika daerah semakin dikembangkan dan diberdayakan maka lembaga obligasi juga akan semakin berkembang dan ramai,” katanya. (bani)