Kadin Minta Presiden Baru Ramah Investor

Pengusaha Siap Dukung Pemimpin Terpilih

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Indutri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan pihaknya siap mendukung siapapun yang bakal terpilih menjadi presiden Indonesia 2014-1019. Lebih dari itu, Kadin, kata Suryo, juga akan bekerjasama dengan pemimpin baru di republik ini. Namun demikin, Suryo Bambang Sulisto meminta presiden baru untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. “Menarik dan ramah bagi investor,” tambah Suryo ketika diwawancara wartawan di Jakarta, pekan lalu.

Dunia usaha, lanjut Suryo, berharap pemerintah turut serta menjaga keamanan agar kegiatan bisnis tidak terganggu. Ketidakpastian politik pasca saling klaim antara dua kubu calon presiden sebagai buntut dari keterpilihan mereka di masing-masing hasil hitung cepat (quick count), menurut dia, harus segera diatasi. “Ketidakpastian itu sangat merugikan terutama bagi ekonomi dan bisnis,” jelasnya.

Lebih lanjut Suryo Bambang Sulisto berpesan, sejumlah pekerjaan berat telah menanti presiden dan pemerintah baru, mulai pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan yang lainnya.

Terkait tantangan bagi pemerintah baru, sebelumnya, menurut catatan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), presiden pengganti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan dihadapkan pada setidaknya 10 problem ekonomi yang krusial.

Berdasarkan identifikasi Indef, 10 masalah ekonomi krusial tersebut adalah tekanan sektor moneter, fiskal mandul stimulus, perlambatan investasi, daya saing industri menurun, ketergantungan impor energi, impor pangan yang terus meningkat, ketertinggalan infrastruktur, ancaman defisit neraca perdagangan yang kian melebar, peran intermediasi perbankan terbatas, dan pertumbuhan tidak berkualitas (fundamental rapuh).

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menuturkan, secara makro ekonomi pemimpin terpilih mendatang akan diwarisi segudang masalah ekonomi yang tidak mudah untuk diselesaikan. Butuh kebijakan-kebijakan yang tepat, efektif, konsisten dan strategis yang pas guna mencapai ekonomi yang lebih baik. Jika tidak mampu menyelesaikan segudang masalah ekonomi yang membelenggu negeri ini, pemerintah mendatang malah akan menambah kondisi kian terpuruk.

“Setidaknya 10 indikator itulah yang akan menjadi pekerjaan besar untuk diselesaikan pemimpin mendatang terpilih,” kata Enny kepada Neraca, saat ditemui pada acara seminar ekonomi yang diselenggrakan oleh Indef dengan mengusung tema “Pembaruan Ekonomi atau Status Quo,” di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, pemerintah saat ini mewariskan problem masalah ekonomi yang sudah ruwet. Ibarat mobil, kata Enny, separuh lebih dari komponennya sudah tidak berfungsi. Atau jika diistilahkan orang sakit, sudah stadium tinggi. “10 tahun pemerintah sekarang memimpin terbilang gagal dalam menjalankan roda perekonomian bangsa, segudang permasalahan itu tidak mudah diselesaikan,” imbuhnya. Dalam kacamata Indef, untuk memperbaiki ekonomi nasional, pemerintah mendatang harus mampu memformulasikan peta jalan pembaharuan ekonomi secara menyeluruh.

Menurut Ketua LP3E Kadin Prof Dr Didiek J. Rachbini, masalah ekonomi yang akan diwariskan kepada pemerintah mendatang akan sangat memberatkan, bahkan bisa menjadi bom waktu. “Jika diperumpamakan pemerintah sekarang akan mewariskan bom waktu yang akan meledak,” tegas Didik.

Alasannya, menurut dia, dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya di kisaran 5,1 -5,5%, inflasi tinggi, ruang fiskal yang semakin sempit, tax ratio yang kian melebar, beban subsidi BBM yang terus naik, membuat Indonesia seperti berada di tepi jurang krisis. “Jika bomnya meledak, maka Indonesia bakal terjebak dalam jurang krisis,” sambungnya.