Tambak Percontohan Stimulasi Gairah Budidaya Udang

Pantauan di Sepanjang Pantura Jawa Tengah

Senin, 14/07/2014

NERACA

Brebes – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus melancarkan program revitalisasi tambak percontohan (demfarm) guna mengoptimalkan kembali produktivitas tambak-tambak yang mangkrak (idle). Program tambak percontohan mulai 2013 lalu kini sudah menuai hasil. Berdasarkan pantauan Neraca di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah mulai dari Brebes, Pemalang, Pekalongan, hingga Kendal, program revitalisasi tambak berhasil menstimulasi dan menggugah minat masyarakat kembali berbudidaya udang vaname.

Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes yang dipantau Neraca di lapangan, dari 20 hektar tambak percontohan, kini telah berkembang dan bertambah menjadi 417 ha dengan rincian 14 ha budidaya udang secara intensif dan 403 ha berbudidaya udang secara tradisional plus. Sementara di Pekalongan yang awalnya hanya 20 ha tambak percontohan saat ini sudah lebih dari 50 ha, bahkan sudah ada sekitar 720 ha tambak yang siap dan mulai menebar benih udang vaname baik secara tradisional, semi intensif, maupun intensif. Adapun di Kendal, yang tadinya hanya 23 ha tambak percontohan, kemudian berkembang hingga 43 ha, dan masih ada ratusan hektar area tambak masyarakat yang sedang disiapkan untuk udang Vaname.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, menjelaskan bahwa data perkembangan produktivitas budidaya udang vaname tersebut merupakan sebuah kesuksesan yang luar biasa. Data tersebut juga membuktikan bahwa program tambak percontohan ini telah berhasil menggugah masyarakat kembali berbudidaya udang.

“Pelaksanaan revitalisasi tambak udang melalui tambak percontohan yang dijalankan di beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, telah memberikan hasil dan dampak yang positif terhadap masyarakat. Di samping itu menjadi sinyal positif adanya peningkatan produksi udang terutama vaname yang kini menjadi andalan perikanan budidaya sekarang,” kata Slamet kepada Neraca saat melakukan safari ramadhan di wilayah Pantura Jawa Tengah, pekan lalu, mulai dari Jumat pagi hingga malam (11/7).

Lebih jauh Slamet menambahkan, kembalinya minat yang tinggi berbudidaya udang selain berdampak positif terhadap peningkatan produksi, juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal ini paling tidak terlihat seperti di Pekalongan, di mana terjadi penyerapan tenaga kerja dari usaha budidaya udang dan meningkatkan kesejahteraan warga desa hingga 75%. Di Kendal, misalnya, dari program ini, setidaknya saat ini sudah menampung 50 tenaga kerja tetap dan 50 tenaga kerja lepas dari masyarakat sekitar, dalam bendera PT Suri Tani Pramuka. “Melihat keberhasilan tersebut, maka program ini akan terus digulirkan. Bukan hanya untuk wilayah Pantura Jawa Tengah saja, melainkan daerah-daerah lain Jawa dan luar Jawa, terutama untuk optimalisasi dan pemanfaatan kembali tambak idle,” ujarnya.

Kebangkitan Udang

Pantura Jawa Tengah dulu pernah menjadi salah satu daerah atau wilayah produsen udang terutama udang windu. Namun wabah penyakit yang menerpa industri budidaya udang windu di wilayan ini membuat para pembudidaya tidak lagi bergairah. Dan, menurut Slamet, keberhasilan program revitalisasi tambak ini mengindikasikan sinyal positif akan kebangkitan produksi udang di kawasan pantura Jawa Tengah.

“Hasil positif ini menandakan kebangkitan budidaya udang di Jawa Tengah. Dimana kebutuhan dunia terhadap produk udang masih besar, dan Indonesia menjadi negara produsen udang yang bebas penyakit. Oleh karenanya kesempatan ini harus kita ambil dan dengan potensi yang ada maka sekaranglah saatnya budidaya udang di Jawa Tengah untuk bangkit,” tukas Slamet.

Hal tersebut dibenarkan oleh Sekertaris Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Muncul Jaya, Brebes, yang bernama Munawar. Menurut dia, dulu Brebes merupakan salah satu daerah penghasil udang windu, tapi setelah mewabahnya penyakit pada udang udang windu maka bisnis ini mulai ditinggalkan karena banyak pembudidaya merugi. Tapi setelah adanya percontohan untuk budidaya udang vaname dan melihat keberhasilannya, kini para pembudidaya mulai kembali berbudidaya udang. “Kami ingin mengembalikan lagi kejayaan menjadi produsen udang di Jawa Tengah,” katanya.

Sedangkan Lilis Widyatama, Ketua Kelompok Pokdakan Sadewadadi, Kendal, bercerita, dulunya dia adalah salah satu pembudidaya udang windu. Namun, setelah penyakit menyerang, usahanya terpaksa gulung tikar karena terlilit hutang besar. “Saat memulai berbudidaya udang vaname antara iya dan tidak karena masih dihantui rasa trauma. Tapi ternyata hasilnya sangat luar biasa. Sampai dengan saat ini melihat keberhasilan dari panen udang vaname yang memang mengikuti program tambak percontohan ini masih tidak percaya, karena dulu saya pernah bangkrut karena udang windu. Mudah-mudahan dengan budidaya vaname ini membangkitkan semangat kami untuk kembali berbudidaya udang,” paparnya.