RI Terjebak Middle Income Trap

JIKA PERTUMBUHAN EKONOMI BERTAHAN 5%-6%

Senin, 14/07/2014

Jakarta – Siapapun presiden terpilih nanti akan menghadapi tantangan berat seperti target pertumbuhan ekonomi minimal 9% untuk lima tahun ke depan agar Indonesia bisa lolos dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap), di tengah kondisi defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan (current account) yang belum membaik saat ini.

NERACA

Laporan Bank Dunia yang berjudul “Indonesia: Avoiding the Trap 2014” baru-baru ini mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi hanya 5%-6% per tahun tidak cukup untuk menghindari Indonesia dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

Bank Dunia mengingatkan, sudah banyak negara masuk dalam perangkap middle income trap. Mereka pada awalnya memiliki pertumbuhan sangat cepat, tapi kemudian mengalami stagnasi selama lebih dari satu dekade. “Indonesia akan aman dari jebakan ini jika pertumbuhan ekonominya 9% per tahun,” menurut laporan lembaga keuangan internasional itu.

Menurut country director Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves, dunia saat ini menunggu Indonesia untuk mengambil tempat yang selayaknya sebagai pemimpin global. Tapi untuk mencapai itu, Indonesia harus meningkatkan daya saing dengan menutup kesenjangan infrastruktur dan ketimpangan keterampilan serta meningkatkan fungsi pasar.

Sebagai contoh, negara Brazil yang pernah tumbuh cepat pada dekade 1960 an dan 1970 an, tapi kemudian menglamai dua dekade pertumbuhan yang sangat lambat setelah tahun 1981, ketika mencapai pendapatan per kapita US$3.939, sama seperti Indonesia saat ini.

Selain masalah defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan, stagnasi pertumbuhan di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi suku bunga acuan (BI Rate) yang tetap bertahan tinggi 7,5% dalam 9 bulan terakhir ini, sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan kredit perbankan yang pada akhirnya membuat kinerja sektor riil juga terhambat di negeri ini.

Padahal, Bank Dunia yakin Indonesia bisa melewati middle income trap jika konsisten melaksanakan reformasi hingga ke tingkat daerah. “Risiko dari middle income trap adalah nyata, dan para teknokrat Indonesia sudah selayaknya mulai khawatir tentang hal ini,” ujarnya.

Kualitas Pertumbuhan

Menurut Ketua Program Magister Kebijakan Publik FEUI Telisa Aulia Falianty, memang benar dengan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi,Indonesia bisa terhindar darimiddle income trap. Namun, jika mempertimbangkan kondisi saat ini dan serba dipaksakan,tidak akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Peringatan penting untuk memotivasi,tapi kalau terlalu dipaksakan,pertumbuhan akan bisa mengorbankan beberapa hal juga, jangan sampai seperti “kejar tayang”.

“Target pertumbuhan ekonomi sebesar9%itu tidak bisa dilakukan dalam 3-5 tahun ke depan melainkan harus jangka panjang.Saya kira fokus pemerintah lebih baik pada peningkatan kualitas pertumbuhan,bukan pada besaran saja,”ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Menurut dia,saat ini tidak banyak waktu yang dimiliki untuk persiapan dalam menghadapimiddle income trap.Pemimpin nasional baru nanti harus memanfaatkan kesempatanuntuk melepaskan diri dari jeratan pendapatan kelas menengah itu dinilai singkat dan bisa terlewatkan.

"Jadi, kalau misalnya kita tidak melakukan apa-apa, kita akan kehilangan kesempatan yang besar. Dan itu akan menentukan masa depan kita. Semua pihak harus melakukan upaya lebih keras guna menggenjot ketertinggalan kesiapan menghadapi MEA 2015,” ujar Telisa.

Dia mengatakan, semua pihak terkait diharapkan meninggalkan metode lama yang masih dipakai dengan mencari metode alternatif yang bisa mempercepat pertumbuhan. Pemerintah juga diminta meningkatkan pertumbuhan minimal 8% supaya bisa mencapai negara dengan pendapatan tinggi (high income country),” ujarnya.

Dia pun menjelaskan apabila Indonesia tidak mampu pertumbuhan ekonomi sebesar 9% itu, Indonesia dipastikan menuju middle income trap.Menghindarijebakan ini memang tidak mudah. Apabila pertumbuhan ekonomi yang menurun, melemahnya kurs, inflasi makin tinggi, defisit neraca perdagangan, dan naiknya utang luar negeri mengindikasikan sinyal serius masuk ke perangkap kemandekan pertumbuhan ekonomi (middle income trap).

“Oleh karena itu, Indonesia perlu perubahan mendasar dalam pengelolaan ekonomi sebelum terlambat.Ruang pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi masih cukup besar,tetapi harus diiringi dengan perbaikan yang cukup signifikan, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Indonesia bisatumbuh lebih dari 7%, asal semua pihak mau bekerja keras dan harus berpikir industrialisasi,”ujarnya.

Telisa menambahkan faktor industrilisasi pertanian merupakan kunci pertumbuhan ekonomi.Pemerintah punya prioritas industri nasional, tinggal dijalankan di lapangan. Syaratnya perbaikan infrastruktur untuk mengurangi biaya logistik.

Ekonom utama LIPI Latief Adam menilai, Indonesia masih sangat sulit untuk bisa menjadi negara maju, karena secara pertumbuhan ekonomi jalannya stagnan di kisaran 5%-6% per tahun, itu pun dicapai dengan berbagai upaya keras dari pemerintah.

Jadi untuk mencapai pertumbuhan hingga 9% dalam 5 tahun ke depan, akan terasa sulit. "Memang semuanya tidak ada yang tidak mungkin, tapi harus melihat fakta yang sebenaranya. Jadi memang melihat indikator pertumbuhan ekonomi, sangat sulit Indonesia bisa keluar dari middle income trap," ujarnya.

Karena apa, dia memang setelah krisis ekonomi 1997, dan pada 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia meski tumbuh tapi lamban dan stagnan, serta selalu cenderung masih di bawah proyeksi pemerintah. Meski tumbuh tapi naik turunnya tidak jauh beda misalnya 4% ke 6%. " Jika ingin keluar dari middle income trap harus mampu mengejar pertumbuhan lebih baik, harus bisa mencapai 9% dan stabil. Untuk mengejar itu tidak mudah butuh upaya ekstra keras dari pemerintah. Jika memang pemerintah mampu, Indonesia bisa keluar dari jebakan middle income trap, tapi itu sangat sulit," paparnya.

Untuk mengejar itu tentu saja harus mampu keluar dari pertumbuhan ekonomi rendah dan stagnan, harus ada percepatan pertumbuhan yaitu dengan peningktan di semua sektor, baik dari sisi industri pada penguatan industri padat karya bukan padat modal, peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sebagai penggerak dan aset peningkatan pertumbuhan ekonomi, ekspor yang unggul bukan hanya bahan baku tapi sudah masuk olahan, dan perbaikan infrastruktur sebagai penopang kemajuan semua sektor.

"Harapan besar kita pada pemimpin terpilih mendatang, bisa membalikan keadaan sekarang. Tapi jika tidak, untuk keluar dari lingkaran negara berkembang menjadi negara maju, sebagai negara semula pertubuhannya lamban menjadi cepat, sangat lah sulit. Dan inmbasnya Indonesia akan selalu terjebak masuk dalam middle income trap," tandasnya.

Pengamat ekonomi Universitas Padjajaran Prof Dr Ina Primiana menilai, Indonesua cukup sulit untuk mampu tumbuh rata-rata 9%. Untuk mencapai pertumbuhan tersebut, Ina mengakatan Indonesia perlu memperkuat produk elektronik, industri berteknologi tinggi dan pemerintah harus berkomitmen untuk mempromosikan teknologi dan sains. "Hal inilah yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Jepang maupun Korea Selatan," ujarnya.

Namun demikian, menurut dia, disaat konsumsi terus tumbuh, perusahaan-perusahaan di Indonesia dikhawatirkan tidak cukup berinvestasi di bidang inovasi dan teknologi. "Jika hal ini terus dibiarkan, perekonomian Indonesia bisa terperangkap dalam lingkup pendapatan menengah saja, di mana industri dan pabrik produk mentah dan low-end tertarik berinvestasi, namun tidak akan mampu meningkatkan level industri negara ini. Sekitar 95% negara-negara berpendapatan menengah terperosok dalam apa yang disebut sebagai middle-income trap," ujarnya.

Ina mencontohkan Korsel telah melesat maju dari perekonomian agrikultur menjadi negara industri dan sekarang menjadi negara teknologi informasi. Ini satu-satunya cara kita bisa berhasil menjadi negara maju. "Di Korea, teknologi informasi dan komunikasi (information and communications technology/ ICT) menyumbang 12% dari PDB Korea yang US$ 1,1 triliun, sementara di Indonesia ICT hanya meliputi 0,5% PDB. ICT adalah konvergensi informasi, komunikasi dan teknologi,” ujarnya. bari/agus/mohar