Indonesia Jadi Pusat Busana Muslim Dunia

Prediksi Tahun 2020

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta - Indonesia yang jumlah penduduknya terbesar dan mayoritas muslim serta lahirnya desainer-desainer busana muslim ternama menjadi keunggulan untuk mencapai pusat busana muslim dunia. Hal tersebut seperti yang dikemukakan Menteri Periwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bahkan pihaknya merasa yakin, Indonesia akan menjadi pusat busana muslim dunia pada 2020. "Tentu confident sekali Indonesia bisa jadi pusat busana muslim dunia pada 2020 nanti," katanya. Ia menjelaskan penduduk yang mayoritas beragama islam menjadi panga pasar besar yang harus dimanfaatkan oleh para desainer busana muslim Tanah Air.

Senada dengan Mari, Ketua Umum Jakarta Fashion Week (JFW) Svida Alisjahbana mengatakan bahwa pada 2018, konsumen muslim dunia diprediksi akan mengeluarkan sekitar 232 miliar dolar AS untuk berbelanja busana muslim dan asesorisnya sehingga tren tersebut harus dimanfaatkan oleh para desainer busana muslim Indonesia. "Tentu kita tergugah untuk mendorong para desainer busana muslim bisa menembus pasar dunia," kata Svida.

Pada tiga tahun terakhir, Kemenparekraf bekerja sama dengan Jakarta Fashion Week (JFW) dan British Council mengadakan program Indonesia Fashion Forward (IFF) untuk menelurkan para desainer dalam negeri yang berbakat.

Dalam program IFF ini, para desainer yang terseleksi kemudian mengikuti pembinaan para pakar fesyen dari Center for Fashion Enterprise London untuk mempertajam kreativitas dan meningkatkan kapasitas para desainer lokal.

Para peserta mendapatkan beberapa materi diantaranya tentang cara membuat label yang menarik pembeli, mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi, memahami strategi merek, strategi kerja sama, modifikasi desain, menentukan harga produk yang sesuai dan jurus-jurus untuk menembus pasar internasional.

Dengan program IFF, diharapkan para desainer lokal tidak hanya mendominasi pasar lokal tapi juga mampu menguasai pasar internasional. "Kami ingin para desainer lokal khususnya desainer busana muslim tidak hanya jago kandang, tapi mereka juga bisa menguasai pasar internasional," katanya.

Sebelumnya, Direktur Kreatif Jakarta Fashion Week Diaz Parzada mengatakan tiga lini busana Muslim asal Indonesia kini tengah disiapkan untuk memasuki pasar internasional melalui program Indonesia Fashion Forward (IFF) yang diselenggarakan oleh Jakarta Fashion Week (JFW). "Tiga label ini dipilih karena karakteristik mereka kuat sekali," ujarnya.

Adapun tiga label busana muslim tersebut adalah Dian Pelangi, Jenahara, dan Nur Zahra. Meski busana muslim namun koleksi ketiga label busana ini dikatakan nyaman dan dapat dikenakan oleh siapa saja meskipun mereka tidak mengenakan jilbab atau hijab.

Hal itu menjadi keunggulan dari tiga label tersebut dibandingkan dengan label busana muslim lainnya. "Dengan strategi ini tentu saja karya-karya mereka dapat diserap oleh konsumen di berbagai negara dan siap bersaing dengan busana kategori lainnya," jelas Diaz.

Menurut para ahli dari Centre for Fashion Enterprise asal London yang menjadi pembimbing mereka dalam program IFF, karya milik Dian Pelangi dengan kombinasi warna-warni cerah sangat tepat dengan selera konsumen di Eropa dan Timur Tengah.

Selanjutnya adalah karya-karya Jenahara yang pas untuk pasar Eropa Barat dan Amerika dengan gaya rancang yang minimalis dan cenderung berpalet warna-warna monokromatik. "Kalau Nur Zahra dengan material bahan organik dengan rona alami paling cocok dengan konsumen di Eropa Selatan dan Jepang," imbuh Diaz.

Nilai Belanja

Besarnya nilai belanja muslim untuk pakaian muslim/muslimah, mendorong pelaku usaha Indonesia untuk ikut serta meraih potensi yang besar tersebut. Merujuk data Thomson Reuters dalam State of The Global Islamic Economy 2012, nilai belanja yang dikeluarkan muslim dunia menyentuh angka US$224 miliar untuk belanja pakaian dan sepatu di tahun 2012.

Jika dibandingkan total belanja pakaian penduduk dunia angka ini mewakili 10,6%. Diprediksi angka ini melonjak hingga US$322 miliar di tahun 2018, atau mencapai 11,5% dari pengeluaran global. "Nilai sebesar ini harus dapat diraih oleh pelaku usaha pakaian muslim, termasuk di Indonesia," kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Winandar.

Di antara negara-negara OKI, dalam sektor perdagangan busana muslim saat ini Bangladesh menempati posisi paling tinggi dengan nilai ekspor sebesar US$22 miliar, disusul Turki US$14 miliar. Sedangkan Indonesia berada di angka US$7,18 miliar. Setelahnya ada Pakistan dengan US$3,7 miliar dan Maroko dengan US$2,9 miliar.

Meski demikian, masih ada tantangan yang perlu diwaspadai pengusaha busana muslimah terkait persaingan pasar di sektor ini. Menurut catatan Kemenparekraf, telah ada pemain besar yang lebih dulu menjual produk di pasar busana muslim dunia dan punya brand kuat.

Di antaranya: Shurk di Yordania. Produk yang berasal dari Yordania ini punya pasar utama di Amerika Utara dan Inggris, dengan toko yang tersebar di hampir 50 negara dunia. Rabia Z dan Balqees, asal Uni Emirat Arab. Saat ini produknya telah tersebar mayoritas di negara Inggris, Australia, New Zealand, kawasan timur tengah hingga total ada 45 negara.

Tekbir dan Armine, dari Turki. Produk ini dikenal sejak 1982 dan dijual hingga Eropa dan Mesir. Sampai saat ini mereka sudah punya total 1.400 toko di berbagai negara mulai Amerika, Belanda, Inggris dan Timur Tengah. Islamic Design House, berbasis di Inggris. Produk ini selain di negara asalnya juga sudah tersebar di Amerika, Kanada, UAE dan Yordania.