Saatnya Investor Masuk Ke Pasar Modal

NERACA

Jakarta–Pascapemilihan presiden (Pilpres) pada Rabu, 9 Juli 2014, investor yang ada di Indonesia perlu menyikapi momentum tersebut dengan baik, mengingat Pilpres berjalan secara aman dan damai. Para investor perlu memanfaatkan momentum tersebut dengan memilih dan memilah investasi yang sesuai.

Analis Teknikal PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, tidak dipungkiri Pilpres yang berjalan secara aman dan damai tersebut memiliki dampak terhadap stabilitas perekonomian. Karena itu, investor jangan takut untuk menanamkan investasi di Tanah Air,”Saya rasa eforia ini menjadi wajar karena ada keyakinan Pilpres berlangsung secara damai dan ada kepastian bahwa perekonomian berjalan dengan baik seiring dengan kestabilan politik”, kata Wiliam, di Jakarta, Kamis (10/7).

William menekankan agar momentum baiknya perekonomian Indonesia saat ini perlu dimanfaatkan sedemikian rupa oleh para investor. Bila optimalisasi tersebut bisa terlaksana maka bukan tidak mungkin akan berdampak pada perbaikan perekonomian sepanjang tahun ini. “Harus dingat bahwa jangan terlalu larut dalam euforia sehingga lupa akan rencana investasi masing-masing”, tandas William.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen menegaskan, perbedaan hasil hitung cepat (quick count) pemilu presiden dari lembaga survei tidak terlalu mempengaruhi psikologis investor untuk berinvestasi di pasar modal,”Walaupun ada perbedaan, tetapi proses pilpres berlangsung cukup lancar, tertib, dan masyarakat juga antusias sehingga membuat kepercayaan investor tetap baik terhadap pasar modal," ujar.

Dia mengatakan bahwa melihat kondisi yang baik itu maka pelaku pasar kembali melanjutkan aksi beli saham di BEI, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali meningkat. Dalam data BEI, penguatan IHSG pada Kamis ini (10/7) merupakan lanjutan kenaikan hari sebelumnya. Pada Senin (7/7), IHSG naik 1,70% ke posisi 4.989 dan pada Selasa (8/7) IHSG meningkat 0,72% menjadi 5.024 poin.

Hoesen juga mengatakan bahwa siapa pun pemenang pilpres tahun ini, itu adalah pilihan masyarakat Indonesia. Sedangkan, anggota Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy menambahkan, salah satu hal utama yang harus dibenahi oleh presiden mendatang adalah birokrasi, dikarenakan hal itu dinilai masih belum ramah bagi investor,”Birokrasi menjadi penghambat utama di bidang pembangunan di Indonesia. Presiden RI mendatang harus bisa mengatasi itu," katanya. (bani)

BERITA TERKAIT

Saham Alfa Energi Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran telah terjadi aktivitas saham di luar kebiasaan, perdagangan saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) masuk…

Kapitalisasi Pasar Sepekan Anjok 6,15%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kapitalisasi pasar atau market capitalization pada pekan kemarin periode 13-17 Mei…

Gelar RUPSLB 2019, PT Pelayaran Tamarin Samudra Targetkan Lima Persen Sahamnya Dimiliki Investor Ritel

Jakarta, PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (Perseroan) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (2/5). Dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasar Properti Masih Tertekan - Intiland Pilih Kerjasama Kembangkan Proyek Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di Maja, Banten, seperti yang sudah dilakukan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) menjadi daya…

Telkom Gelar Safari Ramadhan di Tarakan

Ramadhan kali ini, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) di percaya Kementerian BUMN sebagai PIC bersama Perum Jamkrindo dan PT…

Kantungi Pinjaman Rp 119,92 Miliar - Multipolar Berikan Jaminan Bagi Anak Usaha

NERACA Jakarta - Dukung pengembangan bisnis anak usaha yang seret likuiditas, PT Multipolar Tbk (MLPL) memberikan jaminan atas pinjaman anak…