Pengusaha Harap Penumpukan Barang Berkurang

Hadapi Lebaran

Jumat, 11/07/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Umum Indonesia National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan bahwa ancaman penumpukan barang atau kongesti di pelabuhan saat puasa dan jelang Idul Fitri selalu menjadi kekhawatiran bagi pengusaha logistik angkutan laut. Kongesti ini selalu menimbulkan kerugian dinilai yang tidak sedikit bagi pengusaha.

Carmelita mengatakan, hingga saat ini, ancaman kongesti tersebut di beberapa pelabuhan di Indonesia masih relatif kecil sehingga belum mengkhawatirkan pengusaha. “Kongesti tidak terlalu besar karena sudah persiapan dari sebelum puasa. Tambahan kapal juga sudah dipersiapkan, jadi tidak akan sampai parah,” ujar Carmelita, di Jakarta, Selasa (8/7).

Meski demikian, ada kondisi-kondisi tertentu bisa membuat kongesti ini muncul seperti faktor cuaca yang buruk dan banjir. "Kecuali hujan dan banjir di mana-mana mungkin akan sulit. Tetapi sementara ini masih normal," lanjutnya.

Carmelita juga menjelaskan, selama bulan puasa ini, terjadi peningkatan kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan akibat meningkatnya permintaan barang-barang kebutuhan masyarakat dalam selama puasa dan jelang Lebaran. “Sekarang tambahan kapal mulai banyak, ke berbagai wilayah. Untuk kegiatan bongkar muat ada peningkatan tetapi tidak setinggi saat sebelum puasa,” kata Carmelita.

Aktivitas tersebut akan menurun jelang Lebaran dan kembali normal setelah sekitar dua minggu setelah Lebaran. "Nanti mau Lebaran mulai menurun, karena orang konsentrasi untuk pulang, untuk penumpang. Paling sesudah dua minggu Lebaran normal kembali," tandasnya.

Sementara itu, Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) mengingatkan ancaman kongesti (penumpukan) di Pelabuhan Tanjung Priok menyusul kenaikan arus barang jelang bulan puasa dan Lebaran 2014. “Hingga saat ini, belum ada kenaikan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok secara signifikan. Akan tetapi, mendekati Ramadan dan Idul Fitri, akan ada lonjakan yang tinggi,” kata Ketua Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Gemilang Tarigan.

Ia mengatakan bahwa antisipasi lonjakan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok yang diperkirakan mencapai 20-30% tersebut tidak hanya dilakukan di kawasan pelabuhan, tetapi juga harus dilakukan oleh operator logistik pelabuhan. Menurut dia kondisi kongesti di pelabuhan dapat diantisipasi dengan memaksimalkan pelabuhan di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok atau yang terdekat, seperti Pelabuhan Marunda, Cikarang Dry Port (CDP), Tanjung Perak, dan Tanjung Emas.

Tarigan mengusulkan shipper dapat mengalihkan sebagian impornya keluar pelabuhan Tanjung Priok sehingga akan membantu mengurangi kongesti di pelabuhan internasional tersebut. Namun, kendala lain adalah untuk mengatasi kongesti bila terjadi di jalan raya akibat lonjakan arus barang secara tiba-tiba tersebut. “Kondisi kongesti di darat sulit terhindarkan. Kenaikan arus barang yang cenderung terjadi secara tiba-tiba di Pelabuhan Tanjung Priok akan memicu meningkatkan volume kendaraan berlalu lintas sehingga mengancam terjadinya kongesti di jalan raya,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menghimbau para shipper agar mulai mengalihkan import barangnya ke Cikarang Dry Port (CDP) atau pelabuhan laut seperti Tanjung Perak dan Tanjung Emas agar tidak mengalami dwelling time sampai dua minggu di Pelabuhan Tanjung Priok. “Puasa dan Lebaran sudah semakin dekat, biasanya akan terjadi lonjakan arus barang secara signifikan. Kalau tidak diantisipasi dari sekarang dengan pengalihan, Priok terancam kongesti akibat kepadatan arus masuk dan keluar barangnya,” ujar Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Masita.

Zaldi mengatakan, kepadatan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok setiap menjelang puasa dan Lebaran selalu menjadi ancaman bagi memburuknya performance dwelling time di pelabuhan tersebut.

"Jika dwelling time di Priok terus memburuk, citra sistem logistik di Indonesia akan memburuk di dunia internasional. Sudah saatnya, impor maupun ekspor melalui Tanjung Priok dialihkan melalui pelabuhan lain agar kegiatan ini tidak menumpuk di satu pelabuhan," katanya.

Zaldi menilai, kondisi itu terjadi karena Otoritas Pelabuhan (OP) dan PT Pelindo II tidak siap mengantisipasi kenaikan arus barang. Pihaknya bahkan pesimis, kemampuan OP maupun manajemen PT Pelindo II dapat mengatasi sendiri masalah tersebut karena kondisi kapasitas dan ketersediaan infrastruktur di pelabuhan internasional itu masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang, apa saja usaha OP untuk menghadapi lebaran dimana kapasitas infrastruktur tetap sama dengan tahun lalu, tapi volumenya akan naik 20% hingga 30%. Belum ada langkah kongkretnya,” tambahnya.