Nelayan Diminta Waspadai Gelombang Tinggi

Sektor Perikanan

Jumat, 11/07/2014

NERACA

Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan para nelayan mewaspadai gelombang setinggi tiga hingga lima meter di laut Sumatera bagian barat, selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta Laut Arafuru, karena membahayakan keselamatan jiwa.

"Gelombang tinggi ini terjadi karena angin kencang berkecepatan di atas 40 kilometer per jam yang bertiup secara konstan. Selain itu adanya awan gelap (cumulonimbus) di lokasi tersebut dapat menimbulkan angin kencang dan menambah tinggi gelombang," kata Kabid Informasi Meteologi Publik BMKG Kukuh Ribudiyanto sebagaimana dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis.

Dia menuturkan bahwa BMKG sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti perhubungan laut, pelabuhan dan organisasi nelayan untuk menginggatkan nakhoda dan nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah kecelakaan kapal.

Menurut dia, gelombang tinggi ini cukup membahayakan keselamatan kapal dan para penumpangnya, apalagi menjelang arus mudik Lebaran 2014. "Selama arus mudik Lebaran ini, jumlah penumpang kapal mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan ini dapat mengakibatkan kecelakaan apabila jumlah penumpang melebihi kapasitas muatan kapal," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, nakhoda kapal dan nelayan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak membawa penumpang melebihi kapasitas untuk mencegah kecelakaan kapal. Selain itu, nakhoda kapal diharapkan selalu berkoordinasi dengan pihak BMKG, pelabuhan dan sesama nakhoda kapal untuk mengetahui situasi cuaca di laut.

"Jika cuaca di laut memburuk maka diharapkan nakhoda kapal dan nelayan untuk tidak berlayar, karena sangat membahayakan keselamatan penumpang. Berlindunglah di pulau-pulau kecil terdekat apabila dalam perjalanan berlayar dihadang cuaca buruk," katanya.

Masalah cuaca buruk pernah melanda pada awal tahun lalu. Kondisi cuaca buruk yang melanda wilayah Indonesia mengakibatkan banjir dan rob. Dampak dari kondisi itu, para nelayan kehilangan mata pencahariannya karena tidak dapat melaut sehingga banyak di antar mereka menderita kerugian. Ditaksir total kerugian yang diderita nelayan akibat cuaca buruk beberapa bulan belakangan ini sekitar Rp 31 miliar.

Gellwynn Jusuf, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan Berdasarkan data yang dihimpun oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), jumlah nelayan yang tidak dapat melalut akibat cuaca buruk pada bulan Januari sekitar 15.459 orang nelayan, dengan potensi kerugian sekitar Rp 31 miliar akibat penghasilan yang hilang karena tidak melaut. “Nelayan yang tidak melaut berada di 6 lokasi sentra nelayan yakni PPN Karangantu, PPN Kejawanan, PPN Palabuhanratu, PPS Cilacap, PPN Pekalongan, dan PPN Prigi,” kata Gellwyn dalam keterangannya yang diterima Redaksi Neraca, awal Februari tahun ini.

Dampak yang ditimbulkan nelayan tidak dapat melaut sangat besar, sambung Gellwyn karena nelayan tidak memperoleh penghasilan karena tidak dapat menangkap ikan, nelayan akan kekurangan bahan pangan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya, dan berkurangnya suplai bahan pangan produk perikanan, baik untuk pasar domestik maupun kebutuhan ekspor. Oleh karenanya DJPT melakukan upaya tanggap darurat melalui penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dan melakukan upaya penangganan secara sistemik.

“Upaya tanggap darurat, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Sosial, CBP tersebut nantinya diberikan kepada nelayan yang terkena dampak cuaca buruk, selain di lapangan, kami juga bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan di Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Sub Dolog setempat” imbuhnya.