Produk Pertanian Nusantara Perlu Promosi

Hadapi MEA 2015

Jumat, 11/07/2014

NERACA

Jakarta - Produk pertanian nusantara seperti buah-buahan dan sayuran dinilai masih minim promosi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian Yusni Emilia Harahap menyatakan, menghadapi MEA 2015, upaya mempromosikan produk pertanian menjadi hal yang penting.

Hal itu, katanya ketika membuka Gelar Promosi Cinta Produk Pertanian Nusantara di auditorium Kementerian Pertanian karena perkembangan perdagangan dan lingkungan yang semakin terbuka menjadikan masyarakat memiliki banyak pilihan termasuk pilihan produk dari luar negeri. “Oleh karena itu produk pertanian nusantara perlu mendapat kesempatan promosi yang lebih banyak kepada masyarakat guna menginformasikan keunggulan yang dimiliki,” katanya di Jakarta, Kamis (10/7).

Dia mengakui, potensi sumberdaya alam dalam negeri termasuk produk pertanian memiliki banyak keunggulan, namun kurang disosialisasikan kepada masyarakat. Oleh karean itu, Dirjen menyatakan, pihaknya siap mengupayakan fasilitasi promosi yang lebih mendukung baik berupaka kegiatan maupun sarana penunjang.

Sementara itu Gelar Promosi Cinta Produk Nusantara dilaksanakan oleh Ditjen PPHP bersama Masyarakat Pecinta Buah dan Sayuran Nusantara (MPBSN), pelaku usaha, gabungan kelompok tani, asosiasi petani dan koperasi dalam bentuk bazar. Kegiatan yang digelar selama 10-11 Juli 2014 itu diharapkan menjadi salah satu upaya mempromosikan produk pertanian dalam negeri khususnya sayuran, buah dan jamu.

Dengan demikian, tambahnya, mampu meningkatkan kecintaan dan konsumsi masyarakat terhadap produk nusantara terutama buah dan sayuran. “Hal itu diharapkan menjadi pendorong bagi pengembangan usaha pertanian yang dilakukan para petani,” kata Yusni Emilia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono menilai dimasa mendatang pangan dan energi akan menjadi isu krusial karena terjadi peningkatan permintaan seiring bertambahnya populasi bertambah yang jauh melampaui pasokan. Namun produktivitas dan mutu produk pertanian dinilai masih rendah dan beragam. Karena itu, ia berharap ada peningkatan produk pertanian agar bisa mempunyai daya saing di dunia internasional.

“Pada era perdagangan bebas, produk-produk pertanian akan menghadapi tantangan berat. Karena itu ke depan perlu diupayakan untuk meningkatkan daya saing produk pertanian dengan tujuan pasar ekspor yang lebih luas," kata Suswono.

Pada tahun 2015, pelaksanaan kerjasama bidang ekonomi di lingkungan ASEAN. ASEAN akan menjadi suatu wilayah yang terpadu secara penuh dengan ekonomi global. Suswono mengatakan, menyinggung mengenai perkembangan luas panen padi di Indonesia pada periode 2004-2013, cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata 1,89 persen/tahun yaitu dari 11,92 juta hektare pada tahun 1004 menjadi 13,48 juta hektare pada tahun 2013.

Seiring dengan peningkatan luas panennya, produksi padi nasional pun meningkat sebesar 3,41 persen/tahun, yaitu dari 54,09 juta ton tahun 2004 menjadi 71,29 juta ton tahun 2013. Sementara produktivitasnya meningkat sebesar 1,54%/tahun yaitu dari 4,54 ton/hektare tahun 2004 menjadi 5,15 ton/hektare tahun 2015. Terdapatnya peningkatan areal panen dan produksi padi nasional seiring dengan dicanangkannya program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).

Sementara itu mengenai produksi jagung dari kurun waktu 2004-2013, luas panen secara rata-rata mengalami peningkatan 1,72%/tahun, yaitu dari 3,36 juta hektare tahun 2004 menjadi 3,82 juta hekatare tahun 2013. Suswono menjelaskan produksi jagung meningkat lebih pesat lagi yaitu sebesar 6,20%/tahun yaitu dari 11,23 juta ton tahun 2004 menjadi 18,51 juta ton tahun 2013, sedangkan peningkatan produktivitasnya mencapai 4,68%/tahun yaitu dari 3,43 ton/hektare tahun 2004 menjadi 4,84 ton/hektare tahun 2013.

Sementara itu mengenai luas panen kedelai nasional dari tahun 2004-2013 masih mengalami peningkatan sebesar 0,44%/tahun yaitu dari 565,15 ribu hektare tahun 2004 menjadi 550,80 ribu hektare tahun 2013. Produksinya meningkat relatif lebih tinggi yakni sebesar 1,80 persen/tahun yaitu 723,48 ribu ton tahun 2004 menjadi 780,16 ribun ton tahun 2013. Adapun peningkatan produktivitasnya mencapai 1,48%/tahun, yaitu dari 1,28 ton/hektare tahun 2004 menjadi 1,42 ton/hektare tahun 2013.

Saling Berkaitan

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan sektor pertanian memiliki pengaruh dalam perekonomian nasional. Kondisi makro ekonomi nasional ke depan semakin penuh dengan tantangan. Karena itu, kebijakan pembangunan sektor pertanian harus ditingkatkan untuk memenuhi daya saing kebutuhan ekspor agar tetap unggul di pasar domestik dan ASEAN. “Untuk mencapai hal tersebut, salah satu upaya dalam peningkatan nilai tambah produk adalah melalui kegiatan hilirisasi industri di sektor pertanian nasional,” katanya.

Rusman mengatakan, sebagian besar rumah tangga saat ini masih bergantung di sektor pertanian. Dengan alasan itu, industrialisasi yang relavan dikembangkan adalah industrialisasi pertanian.Industrialisasi pertanian yaitu kegiatan industrialisasi yang memanfaatkan hasil-hasil dari sektor pertanian dalam arti luas. “Melalui pengembangan subsektor agroindustri (industrialisasi pertanian), dapat dipandang sebagai transisi yang paling tepat dalam menjembatani proses transformasi ekonomi di Indonesia,” jelasnya.