BI Rate Bertahan Selama 9 Bulan

NERACA

Jakarta - Seperti sudah bisa ditebak, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 7,5% atau sembilan bulan berturut-turut sejak November 2013 lalu.

"Kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5% plus minus 1% pada 2014 dan sebesar 4% plus minus 1% pada 2015. Bertahannya BI Rate ini juga menurunkan defisit transaksi berjalan (current account deficits/CAD) ke tingkat yang lebih sehat," klaim Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara di Gedung BI, Jakarta, Kamis (10/7).

Dia mengungkapkan, hasil RDG juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,5% dan 5,75%. Bank Indonesia menilai bahwa stabilitas makro ekonomi masih terjaga di tengah proses penyesuaian struktur perekonomian ke arah yang lebih seimbang.

"Namun, ke depan masih terdapat sejumlah risiko dari eksternal dan domestik yang perlu diwaspadai yang dapat mengganggu tercapainya sasaran inflasi dan perbaikan kinerja transaksi berjalan," ujar Tirta. Untuk itu, lanjut dia, Bank Indonesia akan senantiasa memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta kebijakan untuk memperkuat struktur perekonomian domestik dan pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN), khususnya ULN korporasi.

Selain itu, Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan yang lebih berkelanjutan.

Alasan eksternal

Prediksi BI Rate bakal bertahan diungkapkan Kepala Ekonom Bank DBS, Gundy Cahyadi. Dia mengatakan, melihat situasi ekonomi Indonesia yang masih dihantui ketidakpastian, Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan posisi suku bunga acuan atau BI Rate pada level 7,5%. “Meski momentum pertumbuhan PDB berkurang, tapi menjaga keseimbangan neraca perdagangan menjadi sebuah prioritas sekarang,” kata dia.

Dia melihat bahwa BI masih akan terus mengetatkan kebijakan moneter dengan tujuan agar mampu menjaga inflasi inti pada koridor yang telah ditetapkan. Namun, tidak dipungkiri masih akan ada risiko yang menghadang di masa mendatang. “Untuk sekarang, kita melihat BI Rate akan tetap stabil pada angka 7,5% selama sisa akhir tahun ini," tandas Gundy.

Ekonom UI Telisa Aulia Falianty menambahkan, kebijakan BI mempertahankan suku bunga masih di level 7,5% karena melihat kondisi eksternal adanya tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). “Memang respon penurunan dari inflasi biasanya disikapi lamban oleh BI,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Telisa, upaya BI mempertahankan suku bunga acuan karena melihat kemungkinan risiko terhadap para pemodal maupun investor. Namun sebenarnya, yang bermasalah dengan suku bunga biasanya investor jangka pendek. “Kalau investor jangka panjang tidak ada masalah dan tidak mengkhawatirkan dengan suku bunga," tukasnya.

Akhir tahun naik

Akan tetapi, Chief Economist Standard Chartered Bank Indonesia, Fauzi Ichsan berkata berbeda. Dia justru optimistis kalau BI Rate, cepat atau lambat, diperkirakan tidak akan mengalami penurunan hingga akhir tahun 2014. Dia yakin BI Rate bakal naik 50 basis poin (bps) hingga akhir 2014. Kenaikan ini akan memicu kenaikan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit industri perbankan lebih dari 50 bps atau 0,5% sampai akhir tahun ini.

“Saya prediksi BI Rate masih bisa naik sampai 8% di akhir tahun ini,” jelasnya, singkat. Menurut dia, kondisi ini disebabkan kemungkinan besar pemerintah baru akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Akibatnya inflasi akan naik kemungkinan sampai 8%. Tentu BI Rate akan naik mengimbangi kenaikan inflasi.

Fauzi juga mengakui kenaikan ini akan semakin memperberat beban debitur. Kondisi ini sebetulnya bisa diatasi jika perolehan laba bank bisa diturunkan. Kemudian Fauzi juga mengungkapkan kecil kemungkinan BI memangkas BI Rate di tahun ini. BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi di masa-masa yang akan datang. [ardi]

BERITA TERKAIT

Dirut PNM Yakin UKM Akan Bertahan - Saat Ekonomi Global Berubah

Dirut PNM Yakin UKM Akan Bertahan Saat Ekonomi Global Berubah  NERACA Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Permodalan Nasional Madani…

Suzuki Optimistis Ignis Dapat Terjual 2.000 Unit Per Bulan

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menargetkan kenaikan penjualan pada produk city car, Suzuki Ignis, dari rata-rata 1.750 unit tiap bulan…

BMKG Diminta Waspadai Gerhana Bulan Total

      NERACA   Jakarta - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat agar mewaspadai terjadinya pasang maksimum…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pulihkan Penyaluran Kredit, BI Andalkan Makroprudensial

      NERACA   Jakarta - Pelonggaran kebijakan makroprudensial pada 2018 menjadi tumpuan untuk memulihkan penyaluran kredit perbankan yang…

Luncurkan G-Pro, Asuransi Generali Gaet BTN

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali Indonesia) bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero)…

BNI Siapkan Corporate Card untuk Kemenkeu

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menyiapkan BNI Corporate Card yang…