Tak Wajar, Harga Ayam di Peternak Terlalu Murah

Harga Jual Lebih Rendah dari Biaya Produksi

Jumat, 11/07/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia Don P Utoyo menyatakan harga ayam pada bulan Ramadan kali ini tidak wajar. Pasalnya harga ayam hidup dijual di bawah biaya produksi. Saat ini, kata Utoyo, Harga Pokok Produksi (HPP) ayam hidup pada kondisi saat ini mencapai Rp18.500-19.500 per kilogram (kg). “HPP ini didapat dari pembelian harga day old chicken (doc) Rp 6.000 per ekor dan pakan 7.000 per kg. Akan tetapi harga jual ayam hidup masih di bawah biaya produksi,” ungkap Utoyo di Jakarta, Kamis (10/7).

Di tingkat pasaran, kata dia, harga ayam hidup peternak selalu ditawar dengan harga yang terlalu murah dengan tujuan spekulasi oleh pedagang maka dari itu menurut dia kondisi tersebut bukan kondisi yang sehat. Ia juga meminta agar pemerintah bisa memfasilitasi pertemuan antara pedagang dengan peternak. “Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempertemukan pedagang bandar ayam dengan produsen agar tidak membeli atau menekah harga di bawah HPP,” jelasnya.

Dia melanjutkan, jika ayam hidup dijual sekitar Rp 18.500-Rp 19.500 per kg maka seharusnya harga karkas daging ayam berada di kisaran Rp 32 ribu-Rp 35 ribu per kg. Namun saat ini, dia mengaku harga ayam hidup ditekan sangat murah, jauh di bawah HPP. Seperti yang terjadi di Sumatra (Palembang dan Lampung) di mana harga ayam hidup dipatok Rp 13.500 per kg- Rp 15 ribu per kg. Kemudian di Lubuk Linggau harga ayam hidup hanya Rp 16 ribu, Bengkulu Rp 16.500 per kg- Rp 17 ribu per kg. Di Medan, harga ayam hidup sebesar Rp 18 ribu. “Hanya Bangka & Belitung yang masih baik ayam hidup Rp 20 ribu -Rp 24 ribu per,” lanjut dia.

Bahkan di Jawa (Banten & Jabodetabek), harga ayam hidup dipatok Rp 15 ribu - Rp 15.500, Jawa Barat Rp 14 ribu- Rp 15 ribu per kg. Jawa Tengah dan Yogyakarta pada kisaran Rp 12.700 - Rp 14 ribu per kg. Untuk di Jawa Timur pada kisaran Rp 13.300 -Rp 14 ribu per kg. Bali sekitar Rp 15.500 per kg dan Lombok sekitar Rp 14.500 per kg. Padahal, menurut dia, produsen, pedagang besar dan kecil, maupun masyarakat saling membutuhkan satu sama lain. Produsen unggas nasional pun sudah berupaya keras memproduksi telur ayam ras dan daging ayam broiler dalam jumlah besar bahkan bisa mencapai swasembada. Di mana, lanjut dia, harga ayam menjadi sangat terjangkau oleh masyarakat, demi untuk mendukung terbentuknya Bangsa yang Sehat dan Cerdas.

Anjloknya harga ayam ditingkat peternak diakui oleh Ketua Persatuan Peternak Ayam Nasional (PPAN) Herry Dermawan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya harga ayam ditingkat peternak cukup tinggi yaitu mencapai Rp21.000-22.000 per kilogramnya pada H-4 menjelang Ramadan. Namun begitu, saat ini harga ayam ditingkat peternak di Ciamis langsung anjlok drastis. Ia mengaku dalam tiga hari terakhir harga ayam hidup di kandang peternak hanya Rp 16.500 per kilogram.

“Empat hari menjelang masuk bulan puasa lalu, harga ayam di kandang peternak lagi tinggi-tingginya mencapai dua puluh satu ribu sampai dua puluh dua ribu per kilogramnya. Tapi, besoknya langsung turun drastis, dalam sehari penurunan harga ayam di kandang sampai tiga ribu per kilogramnya. Dan sudah tiga hari ini harga ayam di kandang peternak hanya dikisaran enambelas ribu lima ratus per kilogram,” ujarnya.

Anjloknya harga ayam pedaging di tingkat peternak ini kata Herry lantaran masuknya ayam dari peternak besar (konglomerat perunggasan) ke pasar-pasar tradisional. Dengan harga ayam hidup dikandang Rp 16.500 per kilogram tersebut kata Herry, peternak saat ini lagi menanggung rugi mengingat biaya produksi (BEP) mencapai Rp 20.000 per kilogram, mengingat harga pakan dan DOC masih mahal.

Kurangi Stok

Mengantisipasi harga ayam yang terjun bebas usai lebaran, Kementerian Perdagangan mengimbau peternak ayam untuk mengurangi pasokan anak ayam atau day old chicken (DOC). “Kami sudah lihat, sifat harga ayam itu pada minggu pertama langsung turun dan akan terjun bebas setelah lebaran. Untuk menjaga itu, saya minta industrinya untuk mengurangi DOC-nya sampai 20%,” kata Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi.

Lutfi mengatakan, pemerintah ingin menjaga agar harga daging ayam tidak terlalu turun drastis, karena akan merugikan para peternak. Sejauh ini tidak ada Permendag khusus yang dikeluarkan untuk imbauan pengurangan DOC pada lebaran tahun ini.

Namun demikian, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina mengatakan, ke depan, Kemendag akan mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan yang menjaga permintaan dan penawaran perunggasan. “Kami sedang menyiapkan Permendag Penataan Pperdagangan Perunggasan. Mengenai, berapa kebutuhannya, bagaimana mengendalikan impor DOC. Tapi ini belum final,” katanya.

Sebagai informasi, harga daging ayam di tingkat konsumen saat ini sudah turun menjadi Rp 28.000 per kilogram. Srie bilang, Kemendag berharap harganya bisa stabil di angka Rp 30.000 per kilogram. “Yang dipikirkan, bagaimana peternak juga dapat harga yang baik. Jangan sampai HPP peternak lebih tinggi daripada harga jual ayamnya,” tukas Srie.