Menjaga Sentimen Positif

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pelaksanaan pemilu presiden (Pilpres) yang berjalan aman, damai dan terkendali mendapatkan respon positif dari pelaku ekonomi, termasuk pelaku pasar modal. Terlepas hasil pilpres pekan ini menimbulkan perbedaan pendapat terkait perhitungan cepat (quick count) antar lembaga survei yang saling mengklaim menang. Namun apapun hasil surveinya, setidaknya harus disikapi secara dewasa, rasional dan tidak menelan mentah-mentah hasilnya. Karena perhitungan resmi dan harus di hormati ada di tangan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kedewasaan demokrasi di Indonesia dengan menghindari gesekan konflik antar pendukung, menjadi sentiment positif bagi pelaku usaha dan pasar modal. Oleh karena itu, siapapun pemenangnya nanti, pasar sudah menyambut baik event pemilu lima tahunan ini bisa berjalan damai dan aman. Meskipun tidak bisa dipungkiri, sebagian pelaku pasar modal lebih condong ke salah satu pasangan sehingga hasil pilpres sudah sesuai ekspektasi. Namun toh, jika hasil pilpres pemenang yang gadang-gadang tidak lolos, hal ini juga menjadi sentiment positif karena pemerintah dan rakyat sudah menjaga pilpres dengan damai dan aman.

Tengok saja, sejak awal pekan kemarin, laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus bergerak melesat tajam. Puncaknya, sehari jelang pilpres kemarin atau pada perdagangan Selasa (8/7), IHSG ditutup menguat berada di level 5.000 dan transaksi investor asing melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,584 triliun di seluruh pasar. Bahkan sehari pasca pilpres, indeks BEI Kamis masih di buka menguat 84,90 poin atau 1,69% menjadi 5.109,62.

Begitu optimisnya pelaku pasar, termasuk investor asing untuk terus melakukan transaksi beli di pasar modal memberikan amunisi tambahan bagi investor lokal untuk kembali masuk bursa. Imbas lainnya juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga para investor asing makin betah menanamkan modalnya di Indonesia.

Persoalannya, bagaimana menjaga keberlangsungan kondisi ini tetap damai dan aman pasca pilpres nanti, terlebih saat KPU mengumumkan pemenang pilpres nanti. Jangan sampai pemilu yang sudah berlangsung damai dengan euforia rakyat yang begitu besar dinodai oleh sikap para kontestan pilpres dan pendukungnya yang tidak elegant untuk menyatakan siap kalah dan bukan hanya siap menang.

Bagaimanapun juga, roda perekonomian dan roda pemerintahan negara ini tetap harus jalan dan jangan menghabiskan tenaga dan pikiran hanya untuk persoalan gugatan pasca pilpres. Toh, niat yang baik memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara tidak melulu dilakukan lewat jalur kekuasaan pemerintahan, tetapi bisa di luar kekuasaan bersama rakyat ikut mengawasi pemerintahan baru menuju cita-cita yang di inginkan tercpitanya pemerintahan yang bersih, adil dan kemakmuran untuk rakyat.

Perjalanan bangsa dan negara ini cukup panjang, jangan hanya berhenti setelah pilpres saja. Tetapi bagaimana menciptakan daya saing dan perekonomian yang handal dibandingkan dengan negara lain. Apalagi, tahun depan atau tepatnya tahun 2015 nanti, Indonesia dihadapkan persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dituntut adanya kerjasama dan keharmonisan pemerintah bersama rakyat untuk menjadi pemenang dan bukan sebaliknya menjadi pasar. Jangan sampai, negara yang dibangun para pendiri negara ini dengan korban darah dan air mata, disia-siakan begitu saja hanya karena perselisihan antar saudara se-bangsa akibat konflik pasca pilpres.

BERITA TERKAIT

Laju IHSG Kembali Cetak Rekor 6.444,51 Point - Sentimen Perombakan Kabinet

NERACA Jakarta –Lagi, tren penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor baru di posisi 6.444,51 poin seiring dengan…

Menjaga Persatuan di Tahun Politik

  Oleh : Sulaiman Rahmat, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Dalam menyambut awal tahun baru banyak…

Transaksi Saham Sepekan Rp 7,60 Triliun - IHSG Bergerak Positif 0,25%

NERACA Jakarta – Perdagangan pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik 0,25% ke level 6,370.65 poin dari 6,353.73…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ancaman Overhang Utang

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF     Dalam tahap membahayakan, utang bukan menjadi penyelamat ekonomi melainkan berpotensi…

Mungkinkah R&D Jadi Perusahaan Teknologi?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Kalau pertanyaan dibuka dengan kata mungkinkah, maka jawaban yang tersembunyi di…

Gaduh Pilkada Serentak

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi   Dosen Pascasarjana  Universitas Muhammadiyah Solo Konflik pilkada serentak telah dimulai dan beralasan…