Nasionalisme Bendera - Oleh: Ardi Winangun, Pengamat Politik

Selama Piala Dunia 2014 di Brasil berlangsung, tumbuh rasa nasionalisme di negara-negara peserta. Mereka menggunakan simbol-simbol patriotik, seperti bendera dan lagu kebangsaan, untuk menumbuhkan semangat bagi para pemainnya untuk tak kenal menyerah dan lelah dalam bertanding demi nama keharuman bangsa dan negara.

Tumbuh rasa nasionalisme dari dampak Piala Dunia itu salah satunya ditampakkan oleh Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Untuk menyemangati rakyat Inggris dan pemain Timnas Inggris, Cameron, mengeluarkan perintah untuk mengibarkan bendera nasional Inggris di 10 Downing Street London ketika tim yang berjuluk tiga singa itu berlaga. Meski akhirnya Inggris pulang lebih awal karena dalam laga babak awal sudah tersingkir.

Harapan dari berkibarnya bendera Inggris di pusat kekuasaan negara yang memiliki banyak koloni itu agar bisa membakar semangat para pemain Inggris untuk berjiwa patriotik dan kesatria sehingga mereka tak kenal menyerah dalam setiap pertandingan. Membangkitkan rasa nasionalisme dengan mengibarkan bendera, seperti yang dilakukan oleh Cameron, sebentar lagi pastinya akan diikuti oleh pemimpin pemerintahan dan negara lain yang negaranya menjadi kontestan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Nasionalisme bendera itu rupanya merembet ke negara-negara yang tidak ikut dalam babak putaran Piala Dunia 2014 di Brasil. Di Indonesia, bendera negara peserta Piala Dunia 2014 di Brasil, terutama negara favorit juara seperti Spanyol, Brasil, Argentina, Inggris, Jerman, dan Belanda, banyak dikibarkan di kampung-kampung dan kota-kota, seperti di Pamekasan, Ambon, Polewali Mandar, Bali, Gorontalo, selama Piala Dunia ini berlangsung. Sehingga bila kita memasuki kampung dan kota itu dan memandang ke langit yang penuh kibaran bendera negara lain, seolah-olah kita bukan berada di Indonesia.

Tak hanya itu, saat nonton bareng Piala Dunia 2002 di Gelora Bung Karno, Jakarta, antara Brasil dan Jerman, puluhan bendera kedua negara itu berkibar-kibar di tribun-tribun di stadion yang dibangun oleh Presiden Soekarno itu.

Antusiasnya masyarakat di kampung-kampung dan kota-kota di berbagai tempat di Indonesia yang mengibarkan bendera negara lain saat hajatan Piala Dunia maupun Piala Eropa, sempat menimbulkan pertanyaan di mana rasa nasionalisme mereka. Sehari sebelum Panglima TNI dan Kapolri berkunjung ke Ambon, Maluku, bendera peserta Piala Dunia yang dipasang di banyak tempat bahkan di sepanjang jalan utama, dibersihkan oleh aparat. Bendera asing itu dibersihkan dengan alasan soal nasionalisme.

Kekhawatiran soal rendahnya nasionalisme di jiwa dan hati rakyat itu penting sebab sepanjang waktu, pemerintah Indonesia terus menanamkan rasa nasionalismenya kepada rakyat dan rasa nasionalisme itu salah satunya diukur dari menghormati, mencintai, dan menghargai bendera nasional, merah-putih.

Namun kekhawatiran memudarnya rasa nasionalisme rakyat Indonesia akibat mereka mengibarkan bendera negara lain tak perlu dirisaukan sebab mereka mengibarkan bendera negara lain bahkan bendera negara yang pernah menjajah Indonesia, seperti Inggris, Belanda, dan Jepang hanya sebatas dukungan emosional kepada tim kesayangan dan itupun paling lama selama sebulan, masa penyelenggaraan final Piala Dunia.

Mereka mengibarkan bendera negara lain juga tidak mengikuti prosedur sebagaimana mengibarkan bendera Indonesia yang harus dengan khidmat, serius, dan tak boleh bercanda. Mereka mengibarkan bendera negara lain dengan cara yang cukup gampang, ambil galah, ikatkan tali bendera, lalu dipancangkan di tempat-tempat yang mereka suka. Akibat yang demikian, tak heran bila kampung-kampung dan kota-kota yang mengibarkan bendera peserta Piala Dunia itu menjadi kumuh. Sama seperti saat kampanye Pemilu, di mana aneka warna bendera berdiri di sembarang tempat.

Tampil menjadi kontestan Piala Dunia tentu membanggakan bagi negara itu. Hal demikian secara langsung akan membangkitkan rasa nasionalisme dan persatuan bangsa. Tampil menjadi peserta Piala Dunia diakui oleh banyak catatan sejarah sepakbola mampu menyatukan bangsa yang pecah.

Untuk itu bila kita ingin bendera negara lain tidak berkibar di kampung-kampung dan kota-kota serta adanya kebanggaan mengibarkan bendera Indonesia tanpa instruksi dari Pak RT, biasanya pada tanggal 17 Agustus, maka Indonesia harus bisa tampil di moment-moment besar, seperti tampil di ajang Piala Dunia. Dengan moment yang penuh dengan rasa dan nuansa patriotik itu secara langsung nasionalisme itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa harus digurui.

Maka di sinilah pentingnya untuk meningkatkan kemampuan Timnas Indonesia dalam setiap event-event internasional. Sayangnya, Timnas Indonesia (senior) tidak mampu banyak berbicara di event internasional. Jangankan tingkat dunia, tingkat Asia Tenggara saja kita masih megap-megap. Bila Timnas Indonesia lebih banyak kalah daripada menang, maka jangan salahkan kalau rakyat Indonesia mendukung Timnas Brasil, Spanyol, Argentina, Jerman, Inggris, dan Belanda. Sebagai bukti mereka pendukung negara itu maka bendera nasional negara yang didukung dikibarkan. (haluankepri.com)

Related posts