Membekali Anak : Dulu, Sekarang, dan yang Akan Datang

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Jumat, 11/07/2014

Memang ada beberapa cara di dalam memberikan bekal hidup bagi anak-anaknya. Ada orang tua yang lebih memilih cara praktis, memberikan bekal anaknya berupa harta kekayaan. Masing-masing anaknya dibuatkan rumah, disediakan tanah, ternak, atau usaha, sebagai modal hidupnya. Tentu orang tua seperti ini, adalah mereka yang berkecukupan. Bagi yang miskin, tentu tidak akan bisa memilih cara ini. Orang miskin biasanya mengarahkan anak-anaknya bekerja apa saja, termasuk menjadi buruh, dan hasil atau upahnya agar bisa dijadikan modal hidupnya kelak.

Selain itu, ada cara yang diangap lebih strategis, ialah para anak-anaknya dikirim sekolah ke kota dengan harapan kelak tatkala lulus bisa bekerja di sektor-sekotor modern seperti menjadi PNS, pengusaha, atau apa saja yang tersedia di kota. Mereka berharap, berbekal ilmu pengetahuan lebih strategis dan tidak akan hilang selamanya. Bermodalkan ilmu pengetahuan seseorang akan bisa memilih bekerja sebagai apa saja. Strategi ini juga didasari alasan, harta kekayaan, manakala tidak mampu mengelolanya, akan segera habis dan akan menjadi miskin kembali.

Tidak saja orang kota, orang desa pun mampu berkalkulasi secara cermat tentang masa depan anak-anaknya. Mereka yang memilih menyekolahkan anaknya ke kota tidak segan menjual tanah, ternak, dan atau apa saja untuk membiayai anak-anaknya bersekolah di kota. Sejumlah biaya yang dikeluarkan itu dianggap sebagai investasi masa depan bagi anak-anaknya. Dahulu strategi seperti itu banyak berhasil, terbukti banyak anak yang berasal dari pedesaan menempati posisi-posisi strategis di kota, baik di perusahaan, kantor-kantor pemerintah, lembaga pendidikan, politik, menjadi tentara, dan lain-lain.

Keberhasilan itu, memotivasi yang lain, sehingga banyak anak desa menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di kota. Hanya kemudian sayangnya, setelah mereka lulus, peluang untuk mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak semudah dulu. Akhirnya, tidak sedikit para sarjana pulang ke desa, namun belum tentu memperoleh peluang pekerjaan di tempat kelahirannya itu. Jargon ideal yang selalu terdengar, bahwa seharusnya para sarjana pulang kampung untuk membangun desanya, ternyata tidak mudah direalisasikan.

Bagi yang memiliki modal, mereka masih tertolong, yaitu membuka usaha. Tetapi bagi mereka yang hartanya sudah habis untuk membiayai sekolah, maka tidak ada pilihan lain kecuali bekerja apa adanya, baik di desanya sendiri atau pergi ke kota lagi untuk mendapatkan pekerjaan seadanya. Problem seperti digambarkan itu, tentu sudah diketahui sendiri oleh para mahasiswa yang berasal dari desa. Bagi mereka yang tidak berani menghadapi tantangan itu, akhirnya lebih memilih untuk menunda lulus kuliahnya. Pilihan itu dirasakan lebih aman daripada lulus dan harus menganggur.

Semakin banyaknya sarjana menganggur adalah merupakan problem yang seharusnya segera dicari jalan keluarnya. Memang, siapapun tidak mudah menyelesaikan, termasuk pemerintah dan juga perguruan tinggi yang memproduk sarjana itu. Dulu pernah dikembangkan program sarjana masuk desa, yang dikenal dengan program TKS atau Tenaga Kerja Sukarela. Setelah bekerja beberapa tahun di desa dan kemudian ada formasi pengangkatan sebagai PNS, mereka itu diprioritaskan untuk diangkat sebagai pegawai pemerintah. Persoalan penganguran sarjana tersebut, di dalam debat Capres yang lalu, ternyata kurang mendapatkan perhatian. Mungkin saja, karena problem itu sudah terjadi sejak lama, akhirnya tidak dianggap lagi sebagai persoalan yang mendesak untuk dipecahkan.

Pengangguran sarjana sebagaimana digambarkan di muka, oleh orang tua sekarang ini juga sudah dipahami. Sebagai jalan ke luar, bagi mereka yang dalam keadaan ekonominya terbatas, berada di pedesaan, lebih memilih jalan praktis. Setelah anaknya lulus sekolah, tidak harus sampai ke perguruan tinggi, dianjurkan untuk bekerja. Mereka sebagian memilih pergi ke luar negeri untuk menjadi pekerja apa saja, atau ke kota. Bertahan di desa menjadi petani juga tidak selalu menarik, karena hasilnya tidak mencukupi. Itulah problem besar yang dihadapi oleh orang tua sekarang dalam menyiapkan anaknya di masa depan.

Memecahkannya, kiranya pemerintah bekerjasama dengan pemodal, sekalipun juga tidak gampang, bisa membuka berbagai usaha baru yang bisa menyerap tenaga kerja itu. Memang negeri ini agaknya aneh, sebagai bangsa agraris, tetapi ternyata masih mengimpor berbagai kebutuhan pokok, seperti beras, gula, buah-buahan, jagung, kedelai, dan bahkan garam sekalipun. Perlu dicari siapa dan titik mana sebenarnya yang salah hingga menjadikan keadaan aneh seperti ini. Padahal umpama, pemerintah mau sebetulnya masih ada peluang luas. Yakni memodernisasi pertanian secara besar-besaran hingga akhirnya membalik keadaan, yaitu dari menginport menjadi pengeksport berbagai hasil pertanian dan peternakan. Dengan begitu akan membuka lapangan kerja baru, sehingga generasi muda tidak perlu hijrah ke mana-mana hanya sekjedar mencari sesuap nasi.

Demikian pula, lembaga pendidikan harus dirombak secara mendasar dalam berbagai aspeknya. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi korban idealisme para perancang pendidikan yang kurang peduli pada tuntutan masa depan. Tantangan masa depan berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Oleh karena itu, manakala pendidikan anak saat ini disamakan dengan pendidikan 10 dan apalagi 20 tahun yang lalu, maka itulah yang saya maksud, bahwa generasi muda menjadi korban idealisme generasi tua. Pemerintah harus berani mengubah kurikulum, manajemen pendidikan, cara pandang guru, persekolahan, tidak terkecuali ujian nasional harus dilihat kembali secara cermat dan semuanya harus dilakukan perubahan secara mendasar itu. Cara orang desa menyiapkan anak-anaknya saja sudah berubah, maka semestinya pemerintah harus lebih segera melakukan perubahan menyesuaikan dengan tantangan zaman. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)