Tantangan Ekonomi Kian Berat

Siapapun presiden terpilih nanti beserta tim Kabinetnya pasti akan menghadapi tantangan pembangunan ekonomi yang berat dan kompleks.Pasalnya, meski dalam sepuluh tahun terakhir kinerja makroekonomi lumayan bagus, seperti pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,4% per tahun, jumlah kelas menengah yang terus meningkat, dan PDB mencapai US$1 triliun, terbesar ke-16 di dunia.Kondisi riil kehidupan sosial-ekonomi mayoritas rakyat sungguh sangat memprihatinkan.

Lihat saja data BPS mengungkapkan, sekitar 29,1 juta orang (11% total penduduk) masih miskin, dan 70 juta orang hampir miskin. Sekitar 7,39 juta penduduk usia kerja menganggur penuh, dan 37 juta orang setengah menganggur.Tantangan lainnya adalah semakin melebarnya kesenjangan antara kelompok orang kaya dan orang miskin, yang tercermin dari rasio Gini yang pada 2004 hanya 0,31 kini menjadi 0,42.Bayangkan, 40 orang terkaya Indonesia memiliki harta kekayaan lebih besar ketimbang yang dimiliki oleh 60 juta penduduk miskin.

Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan serta jurang antara si kaya dan si miskin yang makin melebar ditengarai telah mengakibatkan semakin marak dan masif nya pencurian, perampokan, konsumsi narkoba, bunuh diri, dan kecemburuan sosial yang acap kali muncul dalam berbagai bentuk demonstrasi serta perkelahian antara kelompok masyarakat.Perlu diingat, bahwa negara dengan rasio Gini di atas 0,45 biasanya selalu diguncang oleh aksi demonstrasi yang brutal atau perang saudara, seperti yang terjadi di Mesir, Syria, dan Libya.

Selain pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan kaya vs miskin, pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya adalah daya saing Indonesia yang masih rendah, yaitu peringkat ke-5 di ASEAN dan peringkat-38 di dunia (WEF, 2013).Padahal, di era globalisasi yang ciri utamanya adalah persaingan antar bangsa yang semakin tajam, hanya bangsa yang memiliki daya saing yang tinggi, yang bisasurviveserta menjadi maju dan makmur.

Apalagi mulai 2015 kita telah sepakat memasuki era pasar bebas ASEAN. Nah, apabila kita gagal meningkatkan daya saing bangsa secara signifikan, niscaya defisit neraca perdagangan dan transakasi berjalan yang sudah berlangsung sejak dua tahun terakhir bakal semakin membengkak. Kegagalan pemerintah dalam membangun kedaulatan pangan dan energi, selain membuat harga bahan pangan dan energi semakin mahal serta biaya hidup dan ongkos produksi industri sangat tinggi, juga telah menyebabkan pasar domestik kita dibanjiri oleh beragam produk konsumsi impor.

Jika mulai tahun depan kita gagal meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional serta menciptakan lapangan kerja yang mensejahterakan rakyat dalam jumlah besar.Maka, potensi bonus demografi yang terjadi sejak 2012 hingga 2030, yang merupakan peluang bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara maju dan makmur, akan sia-sia.Sebaliknya, Indonesia akan terjebak dalam perangkap negara berpendapatan menengah (middle income trap), alias tidak bisa menjadi bangsa maju dan sejahtera.

Mengapa pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi itu tidak mampu mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan masyarakat? Karena, pertumbuhan ekonomi selama dua dekade terakhir kurang berkualitas.Sebagian besar (70 %) digerakkan oleh sektor konsumsi (53%), ekspor komoditas mentah, sektor keuangan, dan sektornon-tradableseperti angkutan, properti,dan dunia hiburan.Kita tahu, bahwa sektor-sektor ekonomi semacam ini hanya sedikit menyerap tenaga kerja. Ini tantangan berat buat presiden terpilih nanti.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Global Mulai Membaik - OJK Bidik Himpun Dana di Bursa Rp 250 Triliun

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis penggalangan dana di pasar modal tahun ini dapat mencapai Rp200 triliun hingga…

Ciptakan Kemandirian Ekonomi - Citi Gelar Literasi Keuangan Bagi Anak Muda

Memacu pertumbuhan literasi keuangan di kalangan anak muda untuk kemandirian finansial, Citi Indonesia bersama Indonesia Bussiness Link (IBL) menggelar program…

Prospek dan Tantangan Ekonomi 2019

Oleh: Sarwani Tahun berganti, ekonomi terus berdenyut memenuhi kebutuhan manusia mencapai kesejahteraan dan kemakmuran baru. Harapan dan prospek dikedepankan, namun…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Tingkatkan Kendali Pusat

Kritik tajam Bank Dunia terhadap sejumlah proyek infrastruktur yang dianggap berkualitas rendah, minim dana, tidak direncanakan dengan baik, rumit, dan…

Perlu Aturan Uang Digital

Di tengah makin maraknya peredaran uang digital, hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat…