Harus Bisa Melihat Yang Tak Terlihat - PIERRE SENJAYA

Di usia yang masih belia, Pierre Senjaya ditantang untuk menggerakkan dan mengembangkan usaha yang sudah dirintis orang tuanya. Apa kata kuncinya? “Kita harus bisa melihat yang orang lain tak melihat.”

Seperti putra mahkota, Pierre pun sudah mulai dipersiapkan mengurus usaha orang tuanya, yaitu lembaga pendidikan Stella Maris. Tugas pertama saat sekolah itu hendak dibuka adalah membagi-bagikan brosur dan memasang spanduk di tempat-tempat strategis. Alhasil, terjaringlah 200 murid baru. Dari satu ruko, akhirnya menjadi delapan ruko pada 1999. Sayap pun melebar hingga jenjang SMP dan SMA. Bahkan, pada 2004, selain mengacu Kemendikbud, kurikulumnya mengadobsi kurikulum dari Cambridge.

Saat masih kuliah di jurusan akuntansi Universitas Bina Nusantara (Binus), Pier pun sudah ditugasi mengurusi keuangan dan administrasi Stella Maris maupun membenahi sistem informasinya. Begitu lulus kuliah pada 2001, langsung menajdi pengurus dan sekaligus programmer. Kebetulan di amelanjutkan S-2 di Jurusan Teknologi Pendidikan di UPH.

Untuk mengasah pengalaman, dia pun bekerja di bagian system analysis selama dua tahun di Bank Lippo dan PT Rimba Dana. Berbekal ilmu dan pengalamannya, Pier pun tak hanya berkutat memimpin Stella Maris. Di bidang konsultasi pendidikan, wirausaha, dan teknologi informasi, dia pun mendirikan empat bidang usaha. Yaitu, iSuccess, lembaga konsultasi kependidikan Asia One, pusat pelatihan komputer Computer First. Satu lagi, usaha yang bergerak di bidang pariwisata, yaitu Belitung Highland.

“Cita-cita besar saya adalah mengembangkan Stella Maris sebagai lembaga pendidikan berkualitas yang kini masih 5 cabang, setidaknya menjadi 20 cabang di kota-kota di Indonesia,” tutur Pierre yang mempunyai hobi di bidang otomotif, yaitu di mobil dan motor gede (moge). Untuk mencapai tekad itu, Stella Maris pun diwaralabakan. Melalui Asia One, dia berhasil membina puluhan pengelola lembaga pendidikan.

Mengapa merambah ke pantai Belitung dengan membangun Belitung Highland Resort? Ditanya demikian, Pierre menyatakan, pulau tu mempunyai pesona yang luar biasa. Bahkan tak kalah dengan kawasan Raja Ampat di Papua maupun pantai Borakai di Filipina. Pantainya dengan pasir putih, lautnya biru. Sebetulnya, Pierre bukan orang pertama yang berinvestasi di sana. Jauh sebelumnya, Hutomo Mandala Putera atau Tommy, sudah lebih dulu menguasai lahan pantai hingga 200 ha. Pierre baru 10 ha. “Kami sebagai pengusaha, sudah semestinya bisa melihat apa yang tidak dilihat orang,” ujarnya.

Menurut dia, ketertarikannya berinvestasi ke pantai pulau Belitung itu sejak melambungnya film ‘Laskar Pelangi’. Awalnya, dia pancing dengan mengadakan touring motor ke sana. Kebetulan dia aktif menjadi pengurus di Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Dia pun berobsesi meningkatkan jumlah wisatawan ke Belitung dari sekarang hanya 100 ribu orang per tahun menjadi sekurangnya 450 ribu orang.

Pengalaman Organisasi

Dengan kemampuan dan pengalaman, Pierre juga berobsesi menciptakan teknologi yang mampu mengubah peradaban manusia menjadi lebih baik dan berkualitas. Apa yang ikut mengubah Pierre menjadi pengusaha muda yang sukses? Dia pun buka kartu. Yaitu bergabung dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI Jakarta sejak 2007. Dia mulai aktif sejak Hipmi Jaya dipimpin Adi Satrya Sulisto dan Andhika Anindyaguna. Banyak pengalaman yang dia peroleh selama bergaul dengan para senior dan sesama wira usaha muda di Hipmi.

“Bersosialisasi, mencari sahabat dan menambah relasi baru selalu menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan,” kata suami Susan Angela ini. Dia meyakini, seorangpemimpin hebat bukanlah dilahirkan,tetapi ditempa oleh pengalaman, jatuh bangun, diremehkan banyak orang, dan berkali-kali mengalami pahitnya kegagalan.

Kini, dia dipercaya menjadi ketua umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Hipmi Jakarta Utara. “Saya lahir dan tinggal selama 35 tahun lamanya di Jakarta Utara. Saya punya banyak teman, juga kenal banyak pejabat di sana. Jadi ini saatnya saya mengabdikan diri membangun wilayah ini,” ujarnya kepada Neraca.

Setidaknya ada lima program yang telah disiapkan Pierre yang dikemas dalam Hipmi Community Programs. Pertama, Hipmi Café, yaitu program kemitraan Hipmi Jakut dengan beberapa café dan resto di kawasan Jakarta Utara. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan brand image organisasi. Jadi, logo Hipmi juga flyer dan banner dipasang di dekat pintu masuk café. Program ini juga meliputi Hipmi Card Member yang memberikan berbagai fasiitas, termasuk diskon transaksi. “Yang paling penting adalah bagaimana meningkatkanloyalitas dan kebanggaananggota Hipmi yang memiliki kartu angggota tersebut,” ujarnya.

Kedua, Hipmi Capital Solution. Program ini digarap agar bisa mengupayakan solusi pembiayaan atau kredit bagi anggota melalui sistem inkubator pengusaha muda. Program ini menunjang program yang dilaksanakan oleh BPD Hipmi Jaya. Ketiga, Hipmi Corner. Yaitu program kemitraan dengan Gramedia Book Store. Tujuannya untuk mengedukasi dan mengenalkan organisasi Hipmi.

Keempat, Hipmi Click and Up Skill. Program ini untuk mewadahi usaha promosi usaha anggota Hipmi Jakarta Utara secara online melalui website infoHipmi.com. Kelima, Hipmi Campus. Program ini menunjang program yang juga sudah dilaksanakan BPD Hipmi Jaya, yaitu mencetak calon wira usaha muda baru dari kalangan kampus.

Di Jakarta Utara, saat ini terdapat sekitar 50 ribu mahasiswa. Mereka potensial dilatih menjadi pengusaha baru dan direkrut menjadi anggota Hipmi. Dari jumlah itu, ditargetkan sekitar 4 ribuan mahasiswa menjadi wira usaha muda. “Tapi, selama tiga tahun kepengurusan ini, kami menargetkan terhimpun sekitar 500 anggota baru,” kata dia.

Program Kemitraan

Saat ini, Hipmi Jaya maupun Himpi tingkat kota, telah memposisikan diri menjadi mitra pemerintah daerah. “Tugas kami adalah meningkatkan program kemitraan dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara,” kata pria kelahiran 1 September 1979 ini.

Apa saja program kemitraan yang diritis Hipmi Jakarta Utara, Pierre menjelaskan, pihaknya mengupayakan disediakannya usaha kecil menengah (UKM) center di setiap pusat perbelanjaan dengan ruang sekitar 500 m2. Salah satu di antara yang sudah terwujud adalah di Mall of Indonesia (MOI), di Kelapa Gading.

Yang terpenting bagi Pierre, adaah bagaimana para wira usaha muda itu mampu menciptakan produk-produk yang unik, kreatif, berkualitas, dan berdaya saing tinggi. “Selain itu, kami juga berharap agar pemerintah, baik pusat maupun di daerah mau berpihak kepada pengusaha lokal. Dengan demikian kita akan bangga dengan produk sendiri,” katanya.

Dia pun menyontohkan, di Korea Selatan, penduduknya bangga menggunakan mobil buatan Korea sendiri dari pada membeli mobil buatan luar. Di Indonesia, kini sudah mulai tumbuh kebanggaan menjadi warga negara Indonesia. “Itu terpampang dalam stiker-stiker yang ada di mobil-mobil, bunyinya DAMN I LOVE INDONESIA, tapi itu jangan jadi slogan saja, tapi harus menjadi gerakan cinta dan pakai produk asli Indonesia,” kata Pier berapi-api.(bani saksono)

BIODATA

Pierre Senjaya

Tempat/tgl Lahir : Jakarta, 1 September 1979 Email : Pierresenjaya@gmail.com / Sql89@yahoo.com Pendidikan : - S1 Ilmu Komputer Akuntansi Universitas Bina Nusantara (Binus)

- S2Magister Ilmu Pendidikan Universitas Universitas Pelita Harapan (UPH)

4. Istri : Susan Angela

5. Anak : a. Clareshia Faye Senjaya (puteri) 2007

b. Moreno Enzo Senjaya (putera) 2009

6. Orangtua : Lukman Senjaya (alm) & Drg. Strela Kwee Senjaya

7. Hobi: : tenis dan otomotif

8. Organisasi : a. INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa)

b. YEC (Young Entrepreneur Council)

c. HDCI (Harley Davidson Club Indonesia)

d. HIPMI (Ketua BPC HIPMI Jaya Jakarta Utara)

9. Perusahaan : PT. Stella Maris International Education

10. Alamat : Cluster Vatican - Sektor 8A, Gading Serpong,

Telepon: (021) 54212 999, Fax: (021) 5421 3000,

Website: www.stellamaris.co.id

11. Pekerjaan : a. Direktur Stella Maris International Education

Ketua Asia One Consulting CEO Sukses Academy Indonesia Ketua Komputer Pertama CEO Indomoge Modal Ketua DRS (Dinamika Rekan Sejati) Direksi MyDNA Thailand

12. Buku : - Good Parents Bad Parents

- The Billionaire Code (bersama Bong Chandra)

Related posts