Anderson Tanoto:

Siswa Berkualitas Bermula dari Guru yang Kreatif

Sabtu, 12/07/2014
NERACA Guru berperan besar dalam memotivasi dan memberikan contoh ide-ide kreatif di dalam proses pembelajaran kepada peserta didik. Proses pembelajaran yang baik mampu membuka wawasan, kreatifitas anak didik sehingga mampu berpikir mandiri. Konsep belajar kreatif dan inovatif pada dasarnya merupakan penerapan teori dan praktik dalam kehidupan sehari-hari. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para guru dan tenaga pendidik lain untuk menciptakan sebuah suasana belajar yang efektif sekaligus menyenangkan dan tidak membosankan. Cara-cara kreatif ini telah diterapkan oleh guru dan tenaga pendidik lain di sekolah di Indonesia, dan kisah-kisah inspiratif mereka dikumpulkan dalam dua buah buku, yaitu “Oase Pendidikan di Indonesia” dan “Menjadi Sekolah Terbaik”. Dalam buku Oase Pendidikan,kisah guru di Jogja yang mengajarkan kejujuran pada anak lewat budaya menabung setiap hari ke celengan, Ketika celengan tersebut hilang, sang guru mengajak dialog anak-anak untuk saling mengungkapkan perasaan sejujur-jujurnya. Ada yang marah, kecewa, dan bingung. Tetapi guru mengajak mereka untuk saling memberikan solusi agar masalahnya selesai dengan baik. Selain itu, ada pula kisah kepala sekolah di Tangerang yang mengundang kepedulian anak didiknya untuk membantu temannya yang kesulitan keuangan, dengan ikut membuat jepit rambut yang kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membelikan sepeda bagi anak yang kurang mampu, sebagai transportasi ke sekolah. Penerbitan ke dua buku yang didukung sepenuhnya oleh Tanoto Foundation diluncurkan 12 Juni 2014 lalu di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Anderson Tanoto anggota Dewan Penasihat Tanoto Foundation dalam sambutannya mengatakan, dukungan ini merupakan wujud komitmen Tanoto Foundation untuk menciptakan tenaga pengajar yang berkualitas di Indonesia. Anderson juga mengatakan, ilmu yang ditanamkan oleh ayahnya, Bapak Sukanto Tanoto mengenai tiga hal dalam proses belajar adalah: Pertama, proses belajar tidak terjadi hanya di ruang kelas saja, tetapi juga bisa dimana-mana. Kedua, belajar tidak boleh berhenti pada saat putus atau lulus sekolah. Ketiga, belajar bisa dari berbagai sumber, termasuk dari pengalaman orang lain, yang memberikan peluang perbaikan lebih lanjut. Sementara itu, Prof. Rhenald Kasali sebagai moderator bedah buku dan diskusi mengatakan, sekolah tidak bisa lagi menerapkan cara-cara konvensional yang satu arah, yang tidak merangsang kreativitas dari para siswa. “Buku ini menjadi semacam panduan bagaimana para guru bisa belajar dari orang-orang kreatif dalam dunia pendidikan kita,” ujar dia