Kuasai Pangsa Pasar, Phapros Optimalkan Pabrik Baru

Genjot Kapasitas Produksi

Kamis, 10/07/2014

NERACA

Jakarta – Bisnis kesehatan saat ini masih memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan, terlebih saat ini gap antara layanan kesehatan serta tenaga medisnya dengan jumlah populasi masyarakat Indonesia masih cukup lebar. Maka tidak heran, jika saat ini banyak pelaku mulai merambah bisnis rumah sakit. Merespon besarnya potensi pasar kesehatan di Indonesia, juga memberikan berkah bagi industri farmasi dalam negeri seiring dengan permintaan obat yang cukup tinggi.

Berbekal pengalaman yang cukup lama, PT Phapros Tbk mencoba mengambil ceruk pasar yang ada dengan menghadirkan produk obat-obatan baru dan meningkatkan kapasitas produksi. Perusahaan yang juga anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menargetkan peningkatan kapasitas produksi obat tablet hingga 6 miliar tablet.

Direktur Keuangan PT Phapros Tbk, Budi Ruseno mengatakan, peningkatan kapasitas produksi sejalan dengan kehadiran pabrik baru di Semarang yang mulai dibangun akhir tahun ini,”Saat ini produksi obat dalam bentuk tablet sebanyak 2 miliar tablet per tahun. Kemudian dalam bentuk ampul 200 juta pices per tahun pices,”ujarnya.

Dia menuturkan, untuk obat sirup juga ditargetkan menjadi 60 juta set per tahun. Hal ini didasarkan seiring dengan pembangunan pabrik baru di Semarang yang memiliki kapasitas produksi lebih besar. Perseroan sendiri masih fokus produksi obat tablet dan ditargetkan mampu memproduksi hingga dua kali lipat atau sebesar 6 miliar tablet dari produksi saat ini 4 miliar tablet.

Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi yang tinggi dari pabrik baru oleh karena Phapros menerapkan sistem teknologi tinggi untuk obat generik yang tinggi pula permintaanya, terutama melayani kebutuhan obat BPJS Kesehatan. Otomatis penerapan mesin berteknologi akan menekan biaya produksi. "Pabrik baru dominan produksi obat generik. Kita tekan biaya produksi dengan menerapkan sistem kerja mesin yang sudah komputerisasi dengan teknologi baru, sehingga lebih efisien karena man power-nya bisa berkurang hingga 300. Dengan efisensi, harga obat kita lebih kompetitif di pasar karena lebih murah," ujar Budi.

Khusus untuk Antimo, lanjutnya, Phapros akan memproduksi hinggga 5 miliar tablet mulai tahun ini. Produksi obat anti mabuk ini memang sangat akrab dengan masyarakat, dan tak heran sejauh ini Antimo memimpin pasar obat anti mabuk hingga 98%. "Dari total penjualan kita, produk Antimo menyumbang 15% ke total penjualan. Tahun ini target penjualan kita Rp620 miliar," kata Budi.

Masuk Pasar Modal

Untuk mendukung ekspansi pabrik baru tersebut, Phapros mematangkan niat mencari pembiayaan melalui pasar modal dengan mekanisme IPO. Ini sekaligus memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal Phapros lebih dekat, kata Budi.

Adapun dengan rencana melepas saham IPO sebesar 10-20% saham dari total modal disetor, Phapros berharap bisa meraup dana segar dari publik hingga Rp500 miliar. "Saat ini kita telah menunjuk perusahan sekuritas BUMN sebagai penjamin emisi dalam rangka IPO nanti," kata Budi tanpa menyebut sekuritas BUMN yang dimaksud.

Kemudian mengikuti jejak kesuksesan Antimo, Phapros juga ingin memperkenalkan produk vitamin neurotropiknya yakni Bioneuron. Pasalnya sejauh ini, pasar neurotropik di Indonesia masih cukup besar. Data survey industri farmasi mencatat pasar neurotropik di Indonesia mencapai Rp400 miliar per tahun, dengan catatan pertumbuhan tahunan sebesar 10%. "Bioneuron ditargetkan bisa mulai mengambil pasar neurotropik 1%, itu sudah bagus," kata Yudi Dwi Harjo, Product manager PT Phapros Tbk.

Budi menambahkan, khusus untuk produk sejenis Bioneuron, pangsa pasar saat ini mencapai Rp200 miliar per tahun. Phapros berencana mengambil bagian pemasaran Bioneuron hingga 10%. "Target penjualan Bioneuron tahun ini kita targetkan Rp20 miliar. Jadi kita bisa kuasai 10% dari total market sejenis yang diperkirakan sebesar Rp200 miliar," jelas Budi.

Yudi lebih lanjut menjelaskan, Bioneuron sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin neurotropik, yaitu vitamin B1, B6, dan B12 yang berguna untuk mengatur metabolisme dalam saraf, khususnya saraf tepi, agar kinerja tubuh tetap maksimal.

Soal kualitas, kata Yudi, sebagai sebuah perusahaan farmasi tertua di Indonesia, pihaknya sangat memperhatikan kualitas. Apalagi Phapros termasuk satu dari lima perusahaan di Indonesia yang pertama kali mendapatkan sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik [CPOB] pada 1990. Standar kualitas bertaraf internasional juga terbukti dengan perolehan Sertifikat ISO 9001, Sertifikat ISO 14001, dan Sertifikasi OHSAS 18001."Kemasan Bioneuron itu adalah kemasan strip, yang membuat produk ini lebih terlindung dan terjaga kualitasnya," ujar dia. (bani)