Kinerja Reksa Dana Saham Melesat Tajam - Berikan Return Sebesar 16,80%

NERACA

Jakarta - Kinerja reksa dana saham sepanjang semester I tahun ini melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari sisi imbal hasil (return) rata-rata yang diberikan. Berdasarkan data PT Infovesta Utama, reksa dana saham memberikan return rata-rata sebesar 16,80%, sedangkan IHSG hanya 14,14%. Informasi tersebut disampaikan PT Infovesta Utama dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

PT Infovesta Utama juga menjelaskan, reksa dana campuran memberikan return rata-rata 9,90% dan pendapatan tetap 3,35%. Dibanding periode yang sama tahun lalu, kinerja reksa dana enam bulan pertama tahun ini lebih baik. Dengan kinerja rata-rata IHSG sebesar 11,63%, kinerja reksa dana saham 12,66%, reksa dana campuran 7,61% dan reksa dana pendapatan tetap minus 2,91%.

Menurut Analis Riset PT Infovesta Utama Vilia Wati, membaiknya kinerja reksa dana tahun ini karena didukung data makroekonomi Indonesia dan global yang positif, seperti neraca perdaganganm inflasi, nilai tukar. Selain itu, laporan keuangan emiten, kebijakan moneter The Fed, aliaran dana asing yang masuk ke pasar modal domestik dan perkembangan kondisi politik di Tanah Air.

Adapun, sembilan reksa dana saham yang diriset PT Infovesta dengan return tertinggi hingga akhir Juni lalu, yakni, Dana Pratama Ekuitas dengan return rata-rata 32,90%, Pratama Saham dengan return rata-rata 29,64%, Pratama Equity dengan return rata-rata 25,71%, RHB OSK Prime Equity Fund dengan return rata-rata 23,88%, NISP Indonesi Sector Leader dengan return rata-rata 23,60%.

Kemudian ada RHB OSK Aplha Sector Rotation dengan return rata-rata 23,43%, Ashmore Dana Progresif Ekuitas Nusantara dengan return rata-rata 22,38%, Prospera Bijak dengan return rata-rata 22,11% dan Mandiri Investa Ekuitas Syariah dengan return rata-rata 21,34%.

Sebelumnya, analis Millenium Danatama Asset Management, Desmon Silitonga pernah menuturkan, inflasi di bulan Ramadhan dan Lebaran menjadi penentu kinerja reksa dana pada kuartal ketiga, disamping suku bunga bank, “Data inflasi kemarin yang di rilis Badan Pusat Statisti, kedua faktor ini cukup stabil dan itu sedikit banyak memberikan dampak positif pada kinerja reksa dana,”ungkapnya.

Kendati demikian, dia memperkirakan, tekanan inflasi pada kuartal III akan lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya karena adanya Ramadan dan Lebaran. Oleh sebab itu, menurut dia, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus bisa mengeluarkan kebijakan untuk memitigasi tekanan inflasi dan defisit transaksi berjalan, tanpa menaikkan suku bunga.“Karena (menaikkan suku bunga) itu akan berdampak negatif ke pasar keuangan, yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja reksa dana,” ujarnya.

Inflasi Juni tahun ini tercatat yang terendah dalam lima tahun terakhir pada periode yang sama, yakni 0,43%. Sementara pada Juni 2013 mencapai 1,03%, Juni 2012 sebesar 0,62%, Juni 2011 sebesar 0,5% dan Juni 2010 sebesar 0,97%. Dirinya juga memperkirakan, bulan suci Ramadan dan Lebaran sedikit banyak bisa menekan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana lantaran investor membutuhkan dana dalam bentuk tunai pada periode ini,”Artinya, penarikan dana bisa terjadi. Meski begitu, ini hanya bersifat sementara,”tuturnya. (bani)

Related posts