Konsolidasi Jalan Keluar Bakrieland Dari Kebangkrutan

Meskipun Laba Turun 78,12%

Kamis, 10/07/2014

NERACA

Jakarta – Jika sebagian pelaku bisnis properti tahun ini, masih merasakan pertumbuhan ditengah ketatnya aturan Bank Indonesia (BI) soal uang muka atau LTV. Sebaliknya, kondisi ini bertolak belakang dengan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang justru mengalami penurunan laba bersih sepanjang tiga bulan pertama tahun ini sekitar 78,12% menjadi Rp 68,54 miliar dibanding priode yang sama tahun lalu Rp 313,32 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disamping itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk susut dari Rp7,10 menjadi Rp1,57 per saham. Dijelaskan, anjloknya laba bersih tersebut dipicu merosotnya penghasilan usaha bersih sebesar 40,65% menjadi Rp664,7 miliar dari kuartal I/2013 mencapai Rp1,12 triliun.

Selain itu, rugi bersih entitas asosiasi mencapai Rp279,31 juta dan laba penjualan aset pada periode tersebut hanya Rp71,52 juta dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp434,18 miliar. Sementara laba tahun berjalan dari operasi yang dilanjutkan menurun menjadi Rp69,98 miliar dari Rp299,39 miliar. Sedangkan, tiga bulan pertama tahun ini, perseroan tidak mendapat laba dari operasi yang dihentikan, padahal tahun lalu mencatat laba Rp4,39 miliar.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan sejumlah beban, seperti beban pokok penjualan yang turun tipis menjadi Rp422,95 miliar dari Rp430,29 miliar, beban penjualan menjadi Rp15,56 miliar dari Rp20,96 miliar, serta beban umum dan administrasi menjadi Rp117,28 miliar dari Rp132,76 miliar.

Sementara jumlah aset perseroan per akhir Maret 2014 tercatat Rp12,2 triliun dengan total utang Rp4,86 triliun. Angka tersebut turun dibanding akhir Desember 2013, di mana aset mencapai Rp12,3 triliun dengan total utang Rp5,14 triliun.

Direktur Pengembangan PT Bakrieland Development, Agus J Alwi pernah bilang, masih berlangsungnya bisnis properti perseroan ditengah beban utang yang cukup besar, tidak bisa lepas dari konsolidasi. Menurut Agus, pasca obral aset lahan di Rasuna Epicentrum dan Sentul senilai Rp 3,1 triliun, pihaknya langsung melakukan langkah konsolidasi dan mengerem investasi jorjoran seperti yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya,”Sekarang lebih konsolidasi, tidak akan jorjoran investasi. Bisnis air minum, tol dan yang bukan kompetensi perseroan dilepas. Kami lebih fokus pada properti, dan lebih spesifik lagi properti yang menghasilkan high return seperti landed residential dan apartemen menengah," jelasnya.

Hasil penjualan aset lahan kemudian dibelanjakan lahan di Sidoarjo, Jawa Timur, seluas 500 hektar. Kenapa memilih Sidoarjo yang identik dengan "dosa" Bakrie? Bukankah sama saja dengan bunuh diri?,”Bisnis properti adalah bagaimana memanfaatkan opportunity. Jika terus ngotot membangun properti di pusat Kota Jakarta, seperti Rasuna Epicentrum dengan harga lahan yang sudah tinggi, kami tidak bisa mengharapkan gain yang sama tinggi,”ujarnya.

Oleh karena itu, kata Agus, Bakrieland memilih opsi ekspansi ke daerah. Jika dengan uang Rp 40 juta hingga Rp 60 juta belanja lahan di lokasi premium Jakarta (tepatnya Rasuna Epicentrum) hanya bisa mendapatkan satu meter persegi, maka di Sidoarjo bisa berhektar-hektar,”Lagi pula, pertumbuhan harga lahan dan properti di Jakarta sudah cenderung stuck karena nilainya sudah tinggi. Nah, dengan merambah area garapan baru, kami bisa menciptakan pertumbuhan yang sangat menjanjikan dengan pengembangan properti terintegrasi," papar Agus. (bani)