Industri Nasional Harus Perkokoh Daya Saing Produk

Sambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Kamis, 10/07/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat berharap para pelaku usaha meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia, tertutama saat pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Dia berharap industri nasional dapat meningkatkan daya saing agar produk-produk Indonesia tidak hanya laku di pasar dalam negeri namun juga di pasar ASEAN.

Hal tersebut disampaikan MS Hidayat belum lama ini di kantornya. Dia juga mengatakan pihaknya mengharapkan kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Kadin, asosiasi atau lembaga-lembaga lainnya dapat ditingkatkan, dengan tujuan memperkokoh kekuatan daya saing dalam rangka menghadapi pasar ASEAN.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung menyatakan bahwa dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan. Menurut Menko, meskipun sudah tergolong baik, tapi dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia, skor Indonesia masih ada di bawah. Tapi memang skor Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam, Kamboja dan Laos.

Menurut data yang didapat dari Kementerian Perindustrian, industri pengolahan non-migas hingga Triwulan I pada tahun 2014, mengalami pertumbuhan hingga 5,56%, atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21%. Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2014 mencapai US$ 14,83 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 3,73% dibandingkan pada April 2014 sebesar US$ 14,30 miliar.

Kontribusi Perekonomian

Terkait daya saing industri Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur, Harjanto mengatakan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor strategis yang terus memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional, diantaranya sebagai penyumbang devisa ekspor non migas, penyerapan tenaga kerja, dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

"Industri TPT menjadi industri penyedia lapangan kerja yang cukup besar di Indonesia. Tenaga kerja yang terserap oleh industri ini, pada tahun 2013 sebanyak 1,55 juta orang di sektor TPT dan sekitar 570 ribu orang di sektor pakaian jadi (garmen). Industri garmen juga turut menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor tertinggi, dimana nilai ekspor dalam kurun waktu lima tahun terakhir mencapai US$ 4,5 milyar. Sementara itu, pada tahun 2013 nilai ekspor industri garmen mencapai US$ 7,30 milyar atau 60% dari total ekspor TPT nasional," jelas Harjanto.

Lebih lanjut Harjanto mengatakan peningkatan nilai ekspor tersebut merupakan hasil kerja keras dan inovasi para pengusaha industri TPT nasional yang terus bertahan dalam menghadapi persaingan global yang semakin tajam akibat munculnya negara-negara pesaing baru. “Dengan adanya globalisasi perdagangan dunia, dampak yang sangat dirasakan adalah tantangan pada kemampuan daya saing industri nasional pada pasar global,” tegas Dirjen BIM.

Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan Industri TPT yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Upaya peningkatan kemampuan SDM Industri TPT melalui pelatihan. Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Peningkatan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri melalui kebijakan non-tariff measures.

Optimalisasi pemanfaatan pasar serta mencari pasar tujuan ekspor baru dengan cara mendorong kerjasama perdagangan dengan negara-negara pasar ekspor industri TPT nasional. “Saya menyambut baik diadakannya pameran ini, selain dapat menjadi ajang promosi untuk memperluas akses pasar, diharapkan juga dapat terjalin kerjasama antara stakeholder industri pakaian jadi sehingga mampu meningkatkan nilai perdagangan yang dapat memberikan manfaat besar bagi dunia industri pertekstilan Indonesia sekaligus mendorong pengembangan industri nasional secara umum,” tegas Dirjen BIM.

Dirjen BIM juga menilai, pelaksanaan pameran ini mempunyai arti yang cukup penting dalam rangka mengajak seluruh instansi Pemerintah baik di pusat maupun daerah, sekolah-sekolah, dan pihak swasta untuk menggunakan seragam dengan harapan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Dirjen PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag), Nus Nuzulia Ishak mengatakan, UKM Indonesia harus selalu bergerak dan berpikir kreatif. Hal ini untuk mengantisipasi perubahan selera pasar lokal maupun dunia. “Hal itu sebagai persiapan menghadapi perdagangan bebas, di antaranya ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015, yang akan membuka peluang sekaligus tantangan pasar yang cukup tinggi," kata dia.

Dirjen PEN juga mengimbau para perajin dan UKM wastra nusantara untuk terus meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya agar dapat memenangkan persaingan tersebut. “Persaingan yang semakin ketat tidak boleh melemahkan semangat berinovasi. Justru harus lebih mendorong semangat dalam menghasilkan produk-produk yang diminati pasar global maupun lokal,” ujarnya.