Pengembangan Bioethanol Jalan di Tempat

Harga Terlalu Murah

Kamis, 10/07/2014

NERACA

Jakarta - Pemerintah sedang giat-giatnya mencari solusi dalam menangani permasalah energi. Beberapa cara seperti program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG), mencari energi alternatif yang terbarukan sampai dengan rela memangkas anggaran belanja pemerintah untuk bisa menambal subsidi energi dalam APBN yang diprediksi akan jebol. Namun, ada satu cara yang mudah untuk dilakukan yaitu dengan mengembangkan energi alternatif seperti bioetanol.

Namun demikian, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana melihat pengembangan bioetanol akan sulit. Karena revisi Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol yang menjadi acuan harga, hingga saat ini belum juga tuntas untuk diputuskan. Bahkan, ia menilai HIP saat ini terlalu rendah.

"Permasalahan utama yang dihadapi sekarang adalah HIP yang menjadi acuan harga bioethanol sudah tidak sesuai dengan keekonomian, alias terlalu murah. Inilah salah satu hal yang menjadi penyebab pengembangan bioetanol di dalam negeri sulit berkembang," ungkap Rida di Jakarta, Selasa (8/7).

Dituturkan oleh Rida, saaat ini Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan masih membahas revisi HIP tersebut. Adapun Kementerian ESDM mengajukan usulan kenaikan HIP menjadi sekitar Rp9 ribu per liter. Ini sesuai dengan biaya produksi bioetanol yang sekitar Rp9 ribu-Rp9200 per liter. Sementara harga bioetanol saat ini hanya sekitar Rp8 ribu per liter.

Secara terpisah, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengakui pembahasan revisi HIP ini sudah lama dilakukan dengan Kementerian Keuangan dan produsen bioethanol. Dia optimistis dalam waktu dekat akan segera diputuskan HIP tersebut. "Harga masih terus dibahas dengan Kemenkeu dan produsen bioethanol. Betul, sudah lama, kami optimis akan segera ada kesepakatan," cetusnya. Ia pun berharap agar revisi HIP ini diharapkan mendorong minat produsen untuk mengembangkan bioetanol.

Ketahanan Energi

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X (Persero) Subiyono menegaskan pengembangan energi alternatif seperti bioetanol akan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dan mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan pemerintah.

"Omong kosong dan bohong kalau bicara soal ketahanan energi, tetapi masih bergantung pada energi fosil. Sudah saatnya Indonesia memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk pengembangan energi alternatif, seperti bioetanol," kata Subiyono.

PT Energi Agro Nusantara, salah satu anak usaha PTPN X yang memproduksi bioetanol dari tetes tebu (molasses), merealisasikan ekspor perdana sebanyak 4.000 meter kubik bioetanol "fuel grade" dengan tingkat kemurnian 99,5% ke Filipina.

Ke depan, tambah Subiyono, permintaan bioetanol akan semakin meningkat seiring besarnya kebutuhan bahan bakar nabati untuk energi. Bioetanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar kendaraan akan menjadi primadona, menyusul makin menipisnya cadangan bahan bakar berbasis minyak bumi atau energi fosil.

Menurut ia, kecenderungan menurunnya kemampuan "lifting" (realisasi produksi) minyak bumi Indonesia dan meningkatnya konsumsi bahan bakar merupakan alasan yang kuat untuk mengembangkan potensi bahan bakar nabati menjadi energi alternatif terbarukan.

"Bahan bakar nabati atau biofuel, termasuk di dalamnya adalah bioetanol dari tetes tebu berperan penting untuk menciptakan ketahanan dan kedaulatan energi. Kami mendorong bahan bakar nabati mendapat porsi yang lebih besar dalam pemanfaatan energi nasional. Mudah-mudahan pemerintah baru di bawah presiden terpilih punya kebijakan kuat ke arah tersebut," tambahnya.

Selain menopang ketahanan energi, pemanfaatan bioetanol juga akan meningkatkan kinerja industri gula di Tanah Air, sehingga puluhan pabrik gula yang kini beroperasi tidak hanya bergantung pada pendapatan dari bisnis gula.

Terkait bahan bakar nabati, Subiyono yang juga Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia itu, mencontohkan Brasil yang sukses mendorong pemanfaatan energi berbasis tebu dan saat ini sekitar 19 persen pasokan energi negara tersebut ditopang oleh bioetanol berbasis tebu.

"Latar belakang kami membangun pabrik bioetanol berbasis tebu bukan sekadar mengejar kepentingan bisnis, tetapi ada idealisme untuk mendukung program ketahanan energi. Sayangnya, pemerintah belum begitu berkomitmen terhadap masalah ini," katanya.

Direktur Utama PT Energi Agro Nusantara (Enero) Agus Budi Hartono menambahkan sebenarnya pemerintah sudah menerbitkan regulasi soal penggunaan biofuel sebagai campuran produksi bahan bakar kendaraan, tetapi realisasi di lapangan tidak berjalan maksimal.

"Pemerintah juga telah menyediakan anggaran untuk subsidi produksi biodiesel dan bioetanol yang jumlahnya sangat besar, tapi hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan. Itu pun untuk produksi biodiesel, sementara bioetanol tidak sama sekali digunakan," ujar Agus Budi yang juga Wakil Ketua Asosiasi Produsen Etanol Indonesia itu.

Saat ini, lanjut Agus, kapasitas produksi pabrik bioetanol di seluruh Indonesia mencapai 77.000 kiloliter per tahun. Sementara untuk memenuhi kebutuhan bioetanol yang dicampur dengan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan, dibutuhkan sekitar 120.000 kiloliter per tahun.

"Jadi, sebenarnya kalau semua kompak mendukung pemanfatan biofuel, kita masih kekurangan. Tapi, karena minim dukungan, kami selaku produsen akhirnya memilih ekspor. Pemerintah tidak punya 'good will' untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan," katanya.