BI Tak Mampu Kendalikan

BUNGA KREDIT BANK TERUS MELAJU NAIK

Rabu, 09/07/2014

Jakarta - Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tampaknya belum dapat membendung laju kenaikan bunga kredit perbankan belakangan ini seiring dengan pelemahan perekonomian nasional. Tingkat bunga pinjaman rata-rata per akhir Mei 2014 berada di level 12,75%, meningkat 150 basis poin dari posisi April sebesar 12,60%.

NERACA

Berdasarkan pemantauan Neraca di beberapa bank besar pekan ini, tingkat bunga pinjaman untuk kredit modal kerja bergerak di kisaran 12%-14% per tahun, lebih tinggi dari akhir 2013 sekitar 10%-12%. Pergerakan kenaikan suku bunga kredit ini erat kaitannya dengan tren suku bunga simpanan yang pada waktu yang sama bergerak naik. Walau Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menetapkan menetapkan LPS Rate maksimum 7,75%, pada kenyataan banyak bank menawarkan suku bunga simpanan lebih dari 11% per tahun.

BI sendiri mencatat rata-rata suku bunga deposito berjangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan pada Mei 2014 masing-masing adalah 8,17%, 8,74%, 8,82% dan 8,06%, lebih tinggi dibandingkan April 2014 yang masing-masing 8,10%, 8,35%, 8,44%, dan 7,80% per tahun.

Menurut pengamat perbankan Iman Sugema, suku bunga kredit perbankan di Indonesia sudah terlalu tinggi. Bahkan bila dibandingkan dengan Malaysia, bunga pinjaman di Indonesia telah kalah bersaing. Dengan suku bunga yang tinggi, kata Iman, telah berdampak pada dunia usaha terutama untuk kalangan UMKM. “Suku bunga kredit kita itu sekitar 11% kalau dibandingkan Malaysia, yang kira-kira hanya 4,7%. Kalau dibandingkan itu maka suku bunga kita double digit”, ujarnya saat dihubungi, Selasa (8/7).

Menurut dia, dengan tingginya suku bunga tersebut pada akhirnya berdampak pada high cost economy di dunia usaha. Dunia usaha belum optimal meningkatkan daya saingnnya, terutama ketika berhadapan dengan industri asing. “Hal ini terjadi karena harus membayar suku bunga yang relatif tinggi. Ini juga ada dampak terhadap pembangunan infrastruktur yang berasal dari pembiayaan perbankan”, ujarnya.

Dia juga menilai sektor perbankan kurang efisien sehingga membebani dunia usaha. Hal ini menurut dia penting, karena menjelang datangnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maka diperlukan efisiensi terutama mengenai suku bunga kredit. “Jadi kalau kita ingin memenangkan persaingan berarti harus menurunkan suku bunga kan. Sumber masalah dari terlalu tingginya suku bunga itu pertama kebijakan BI juga yang menerapkan kebijakan suku bunga acuan yang masih terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga,” ujar Iman.

Sumber masalah lainnya, menurut dia, yakni tren tingginya marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) atau selisih yang besar antara bunga kredit dengan bunga simpanan, dan juga bentuk pasar di tanah air yang oligopolistik. “Dua masalah itu yang harus diselesaikan jelang MEA,” kata Imam.

Turunkan Suku Bunga

Pengamat ekonomi Hendri Saparini mengatakan Suku bunga kredit perbankan terus bergerak naik. Peningkatan ini tentu menambah beban hidup masyarakat yang tinggi. Kenaikan suku bunga kredit tersebut merupakan dampak kenaikan suku bunga simpanan. Terkait dengan ancaman kenaikan suku bunga kredit itu, BI dituntut untuk menegakkan kebijakan suku bunga dasar kredit (SBDK). Inilah tantangan bagi BI untuk membuktikan kedigdayaan SBDK dalam menyetir suku bunga kredit sehingga tidak naik terlalu tinggi.

“Hal inilah yang menjadi tantangan sejati bagi Bank Indoenesia (BI) untuk semakin saksama dalam mengawal suku bunga kredit agar tidak naik terlalu tinggi. Melihat tantangan yang seperti itu maka dibutuhkan kebijakan yang tepat bagi BI untuk meredam suku bunga kredit tidak terlalu tinggi sehingga BI tidak dianggap gagal dalam melakukan kebijakan persuasif penurunan suku bunga kredit,” kata dia.

Menurut dia, kebijakan yang bisa diambil pemerintah (dalam hal ini BI) memang tidak banyak. Namun, harapannya dengan terbentuk pemerintah baru ada ekspektasi masyarakat yang positif sehingga BI menurunkan suku bunga ke tingkat yang lebih rendah sehingga membuat pemain di sektor keuangan maupun riil memiliki ekspektasi positif. Kemudian diharapkan tren suku bunga yang masih tinggi diharapkan tidak memicu perang bunga simpanan di bank. Suku bunga simpanan di bank perlu disesuaikan dengan ketentuan bunga penjaminan LPS.

“BI harus berusaha mengeluarkan kebijakan yang tepat dalam menahan laju suku bunga kredit. Kemudian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mengawasi dan meminta bank agar tidak terlalu tinggi menaikkan bunga kredit sehingga kenaikan ini tidak akan menjadi beban pembiayaan. Bahkan dengan kondisi kenaikan bunga kredit ini, maka daya beli masyarakat akan menurun,” ujar Hendri.

Sebelumnya Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan suku bunga simpanan terjadi selama periode pengetatan yang dilakukan masih berlangsung. "Dalam konteks ini, suatu kecenderungan yang terjadi dari persaingan (pencarian) dana dan (penyaluran) kredit yang terjadi," ujarnya di Gedung DPR, Senin (7/7).

Menurut dia, kenaikan suku bunga kredit terjadi pada seluruh perbankan. Suku bunga dana, lanjut dia, tergantung pada strategi pendanaan bank. "Umumnya yang naik adalah di suku bunga deposito dan itu terjadi pada BUKU I, II yang bergantung dengan pendanaan seperti ini dalam pencarian dana," jelas Perry.

Kondisi semacam ini diungkapkan Perry terkait dengan sejumlah bank yang masih gencar mengejar target kredit, dan menyebabkan terjadi persaingan dana. Menurut dia, laju kredit perbankan seharusnya diturunkan.

Hendri pun menjelaskan tingginya suku bunga riil sangat berdampak terhadap pelaku usaha, terutama sektor riil dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan hal ini akan meningkatkan rasio kredit bermasalah untuk kredit usaha mikro kecil dan menengah. Ada beberapa penyebab meningktnya NPL UMKM, antara lain naiknya BI Rate sehingga berpengaruh terhadap kenaikan suku bunga kredit UMKM‎. Selain itu, terjadinya kenaikan TDL yang berlangsung secara berkala sehingga memicu inflasi dan mendorong kenaikan biaya produksi.

“Bila pemerintah dan Bank Indonesia tidak berupaya menurunkan BI Rate dalam waktu dekat, risiko terjadinya kredit macet atau non-performing loan (NPL) pada sektor perbankan akan meningkat. Apalagi tekanan dunia usaha tidak saja pada tingginya suku bunga riil, tapi juga kenaikan biaya produksi yang tinggi,” tandas dia.

Pengamat ekonomi UI Eugenia Mardanugraha mengatakan peningkatan suku bunga yang terjadi pada akhir-akhir ini bukan kesalahan dari sebuah kebijakan.Tetapi karena lebih disebabkan oleh kebutuhan masyarakat yang tinggi menjelang lebaran, sehingga masyarakat banyak mencairkan uangnya di bank.

"Kebijakan tidak ada yang salah, hanya saja memang saat ini kebutuhan masyarakat sedang tinggi, makanya banyak mencairkan uang. Dan pola ini memang terjadi menjelang atau selama lebaran dan itu biasanya terjadi setiap tahun," ujarnya, kemarin.

Di sisi lain juga, sambung Eugenia bank memerlukan likuiditas yang cukup, sehingga untuk menahan keluarnya dana masyarakat, maka bank menaikan suku bunga. "Di tengah tingginya permintaan, makanya bank berusaha memberikan imbalan tinggi dengan menaikkan suku bunga. Harapannya mampu menahan dana masyarakat lebih banyak," imbuhnya.

Adapun dia memproyeksikan suku bunga akan turun kemungkinan setelah lebaran, pemilihan presiden (Pilpres), dan piala dunia. "Kebetulan waktu ini banyak momen yang bersamaan, mulai dari pilpres, puasa dan lebaran, dan juga piala dunia. Makanya suku bunga naik, tapi kemungkinan besar setelah momen-momen itu selesai akan kembali turun," ujarnya.

Adapun disinggung upaya persuasif dari Bank Indonesia dan OJK, menurut dia, tidak akan berdampak dan tidak mempunyai multiplier efect jika memang suku bunga acuan masih tetap sama. "Upaya persuasif BI dan OJK tidak akan efektif kalau BI Rate nya masih tinggi, kecuali berani menurunkan masih ada kemungkinan," ujarnya. bari/agus/mohar