Pasar Obligasi Masih Bergerak Positif - Menanti Hasil Pilpres

NERACA

Jakarta – Hasil pemilu presiden (Pilpres) menjadi gambaran bari pelaku pasar untuk merencanakan bisnis kedepan. Kendatipun, pemilu tahun ini diyakini akan berjalan damai. Namun pelaku pasar dan investor lebih bersikap rasional, terlebih dalam menerbitkan obligasi.

Menurut Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing, pasar obligasi akan bergerak positif ketika sudah mendapatkan hasil dari Pemilihan Presiden (Pilpres). Karena sebelum pilpres, pasar obligasi bergerak cenderung mendatar lantaran tendensi BI rate yang tidak berubah, yield juga tak berubah bahkan untuk tenor yang 10 tahun cenderung mengalami penurunan menjadi 8,13%,”Akan tetapi semakin kesini para investor memberikan sentimen positif karena mereka para investor menilai pemenang dari pilpres sudah terlihat. Terlebih dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan pemilihan presiden dalam satu putaran. Ini tentunya memberikan dampak positif terhadap pasar karena kalau semakin lama maka akan menimbulkan ketidakpastian,” ungkap Tumpal saat dihubungi Neraca, kemarin.

Untuk pasar obligasi pasca pilpres, Tumpal memandang ada dua perbedaan yang akan ditimbulkan dari masing-masing Capres dan Cawapres. Untuk Capres nomer urut satu, lanjut dia, pola kebijakan ekonomi akan tidak jauh berbeda dengan pola ekonomi yang telah berjalan 10 tahun terakhir sejak kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Hatta Rajasa adalah orang pemerintahan, apalagi dia (Hatta) yang mempromosikan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Jadi saya rasa, ketika Capres nomer urut satu menang maka program MP3EI akan kembali digenjot dan dimaksimalkan,” katanya.

Sementara untuk Capres nomer urut dua, Tumpal menilai pola ekonomi akan jauh berbeda karena Capres tersebut lebih memaksimalkan potensi-potensi di daerah. Hal ini, kata dia, akan berjalan baik untuk pertumbuhan pembiayaan di daerah. “Antara ekonomi dan bonds itu terkait, artinya jika daerah semakin dikembangkan dan diberdayakan maka lembaga obligasi juga akan semakin berkembang dan ramai,” katanya.

Terkait dengan IHSG, menurut dia, pergerakan IHSG tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi. “Untuk di 2014, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat karena siklus ekonominya dan situasi politik karena ada Pilpres. Sementara untuk 2015, kondisi bisa dilihat jika stabilitas ekonomi bisa dijaga dengan pemerintahan yang baru. Kalau stabilitas tidak bisa dijaga, maka hal itu akan mempengaruhi pergerakan IHSG yang bakal anjlok,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada pernah bilang, pasar obaligasi saat ini tidak hanya dibanyangi hasil dari pilpres mendatang, tetapi juga dibayangi laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus bergerak fluktuatif,”Aksi mengamankan posisi dan menjauhi pasar berpotensi terjadi jika pelaku pasar menilai hasil dari pilpres tersebut tidak sesuai harapan,”ujarnya. (bari)

BERITA TERKAIT

Pilpres 2019: Benahi Ekonomi, Hapus Oligarki

Oleh: Sarwani Pilpres 2019 usai sudah.  Indonesia akan memiliki presiden hasil pilpres pada Oktober tahun ini. Banyak harapan yang dipikulkan…

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - Danamon Tawarkan Kupon Hingga 9,00%

NERACA Jakarta — Perkuat likuiditas dalam menunjang ekspansi bisnisnya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk berencana menerbitkan obligasi sebagai bagian dari…

Soal Anak Usaha Baru Jiwasraya - BTN Masih Timang Valuasi dan Prospek

NERACA Jakarta –Sukses mengakuisisi 30% saham PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNMIM), memacu pengembangan bisnis PT Bank Tabungan Negara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Rugi Mustika Ratu Membengkak 71,21%

Performance kinerja keuangan PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) belum membuahkan hasil. Pasalnya, perseroan masih membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada…

Pefindo Sematkan Rating A- Adhi Karya

Melesatnya pencapaian kinerja keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) belum membawa pengaruhi positif terhadap rating perseroan. Sebaliknya, PT Pemeringkat…

Acset Bukukan Rugi Bersih Rp 90,69 Miliar

NERACA Jakarta - PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mencatatkan rugi bersih di kuartal pertama 2018 sebesar Rp90,69 miliar, berbalik dibandingkan…