Pasar Yakini Pilpres Sesuai Ekpektasi

Fenomena IHSG Tembus 5000

Rabu, 09/07/2014

NERACA

Jakarta – Melesatnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga tembus level 5000, merupakan respon pelaku positif pelaku pasar terhadap Pemilu Presiden (Pilpres) yang diyakini hasilnya akan sesuai ekpektasi pasar.

Presiden Director Batavia Prosperindo Aset Management, Lilis Setiadi memprediksikan, kondisi pasar saham jika presiden terpilih sesuai ekspektasi market, tentunya euforia akan lebih lama. Namun hal ini tidak akan terjadi jika presiden tidak sesuai ekspektasi market,”Euforia presiden seusai market akan lebih panjang. Karena market senang nih. Kok IHSG sudah 5.000an aja,”ujarnya di Jakarta, Selasa (8/7).

Namun sebaliknya, jika hasil pilpres tidak sesuai harapan pasar, pergerakan indeks BEI kembali ke awal dan tentunya euforianya tidak panjang-panjang gimana. Maksimum bulanan dan bahkan cuma dua minggu. Menurut dia, kalau market sudah panik dan investasi keluar karena presiden terpilih tidak sesuai market akan membuat snowball yang memiliki efek yang lama,”Sehingga pada jual semua dan aksi beli sedikit. Ini membuat balik ke capital market itu butuh waktu dan keyakinan kembali prosesnya, itu enggak sebentar lho. Nah makanya tadi saya bilang, harus ada policy,”tandasnya.

Merespon hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menyambut positif IHSG yang menguat,”Alhamdulillah. Fundamental kita nggak berubah dari dulu, sebetulnya kita sudah keluar dari fragile five saya bilang," ujar.

Tercatat mengakhiri perdagangan Selasa kemarin, indeks di BEI ditutup menguat tajam 35,681 poin (0,72%) ke level 5.024,712. Sementara Indeks LQ45 melaju 10,319 poin (1,22%) ke level 859,412,”Optimisme pelaku pasar terhadap pelaksanaan pemilu presiden yang diyakini berjalan lancar menjadi salah satu faktor positif bagi indeks BEI," kata analis HD Capital Yuganur Wijanarko.

Dia menambahkan, penguatan rupiah terhadap dolar AS yang kembali pada tren penguatan menambah sentimen positif bagi pasar saham di dalam negeri di tengah pelemahan regional. Secara teknikal, lanjut dia, jika IHSG BEI mengalami koreksi setelah mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir namun masih dapat bertahan di atas level 4.980 maka arah selanjutnya indeks BEI dapat menuju 5.200 poin.

Tercatat investor asing memborong saham dalam jumlah besar. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,584 triliun di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 274.043 kali dengan volume 7,868 miliar lembar saham senilai Rp 10,773 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 178 turun, dan 92 saham stagnan.

Beberapa bursa regional masih ada yang terjebak di zona merah akibat sentimen rencana naiknya suku bunga acuan oleh The Federal Reserve. Bursa saham Hong Kong dan Tiongkok berhasil balik arah positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 5.950 ke Rp 199.950, BRI (BBRI) naik Rp 625 ke Rp 11.175, Multi Prima (LPIN) naik Rp 375 ke Rp 5.000, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 24.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 775 ke Rp 27.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 26.750, Mandom (TCID) turun Rp 425 ke Rp 16.075, dan Sorini Agro (SOBI) turun Rp 350 ke Rp 1.850. (bani)