Tenaga Kerja yang Sustainable

Oleh: Nailul Huda

Peneliti Indef

Dewasa ini kita dihebohkan dengan pemberitaan kesiapan Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Setidaknya ada dua pandangan, negatif dan positif. Pandangan negatif muncul berdasarkan perkembangan ekonomi domestik yang masih tersandera beberapa persoalan, seperti kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi pasar tenaga kerja MEA.

Saat ini, mayoritas kualitas tenaga kerja Indonesia masih rendah. Hal ini tercermin dari tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi oleh pekerja tamatan SMP ke bawah. Data dari BPS menyebutkan bahwa 64,63% tenaga kerja merupakan tamatan SMP atau ke bawah.

Selain itu, indikator kesiapan lainnya adalah kualitas pendidikan yang menunjukkan kesiapan bersaing calon tenaga kerja kita. Pendidikan Indonesia saat ini masih mengalami keterpurukan yang terlihat dari penilaian dari lembaga penilaian pendidikan dunia PISA (The Programme for International Student Assessment).

Indonesia dalam data PISA tahun 2012 berada di peringkat 64. Lebih rendah dari Singapore (2), Vietnam (17), Thailand (50), dan Malaysia (52). Selain itu, kinerja pendidikan Indonesia dalam bidang matematika, kemampuan membaca, dan science mengalami kemerosotan (deceleration). Hal tersebut menunjukkan pendidikan Indonesia memerlukan pembenahan jika ingin bisa bersaing dalam pasar tenaga kerja MEA.

Dampak dari kualitas tenaga kerja dan kualitas pendidikan yang masih buruk adalah pasar tenaga kerja domestik rentan kalah bersaing dalam menghadapi akan serbuan tenaga kerja asing. Hal ini diperparah apabila ada eksodus middle-high labor Indonesia ke luar negeri dan Indonesia kebanjiran middle-low labor asing di dalam negeri. Indonesia bisa kekurangan tenaga kerja berkualitas.

Ketidaksiapan Indonesia dalam menyiapkan tenaga kerjanya dalam konteks MEA juga terlihat dari belum adanya kesiapan jangka panjang skala nasional. Terlebih Indonesia akan mengalami bonus demografi penduduk pada tahun 2025. Usia produktif saat itu akan menumpuk. Apabila tidak siap bersaing dalam pasar tenaga kerja, tentu Indonesia akan kehilangan momentum bonus demografi ini.

Dalam menghadapi MEA yang akan berlangsung kurang dari satu setengah tahun lagi, Pemerintah Indonesia harus menerapkan strategi jangka pendek dan jangka panjang. Strategi jangka pendek adalah mempersiapkan tenaga kerja yang sekarang dengan pelatihan-pelatihan yang bisa meningkatan ketrampilan dan produktifitas.

Strategi jangka panjangnya adalah peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan. Strategi ini dapat dilakukan dengan peningkatan kesejahteraan pendidik melalui pemberian insentif yang mendukung produktivitas pendidik. Selanjutnya, anggaran percepatan pembangunan infrastruktur dan sarana penunjang infrastruktur pendidikan perlu diadakan kembali setelah pada APBN 2012-2014 tidak ada anggaran sama sekali.

Selain itu, pemerataan tenaga pendidik juga harus dilakukan bisa melalui skema kerjasama dengan universitas yang concern dalam pendidikan. Hal ini dilakukan agara kualitas pendidikan di luar Jawa tidak jauh ketinggalan dengan di Jawa.

BERITA TERKAIT

Rushuffle Kabinet Tidak Goyahkan Pasar - Kabinet Kerja Dinilai Masih Solid

NERACA Jakarta – Disisa masa pemerintah yang tinggal setahun lagi, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi- JK) kembali melakukan…

Jabar-Shizuoka Jepang Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Jabar-Shizuoka Jepang Eksplorasi Kerja Sama Strategis NERACA Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Pemerintah Prefektur Shizuoka, Jepang mengeksplorasi…

Bisnis Game yang Mulai Berubah ke Mobile - Audition AyoDance Mobile

    NERACA   Jakarta – Industri game di Indonesia tengah mengalami perubahan yang signifikan. Jika sebelumnya, game berbasis Personal…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada Potensi Kebocoran Renovasi GBK - Oleh : Jajang Nurjaman Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA)

Jokowi, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dalam kurun waktu tiga tahun 2016, 2017, dan 2018 menjalankan…

Ancaman Overhang Utang

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF     Dalam tahap membahayakan, utang bukan menjadi penyelamat ekonomi melainkan berpotensi…

Mungkinkah R&D Jadi Perusahaan Teknologi?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Kalau pertanyaan dibuka dengan kata mungkinkah, maka jawaban yang tersembunyi di…