Akhir 2014, BI Rate Bakal Terkerek 50 Bps

Pemerintah Baru Diprediksi Menaikkan Harga BBM Bersubsidi

Rabu, 09/07/2014

NERACA

Jakarta - Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) diperkirakan tidak akan mengalami penurunan hingga akhir tahun 2014, justru diperkirakan naik 50 basis poin (bps) hingga akhir 2014. Kenaikan ini akan memicu kenaikan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit industri perbankan lebih dari 50 bps atau 0,5% sampai akhir tahun ini.

“Saya prediksi BI Rate masih bisa naik sampai 8% di akhir tahun ini,” kata Chief Economist Standard Chartered Bank Indonesia, Fauzi Ichsan di Jakarta, Senin (7/7).

Menurut dia, kondisi ini disebabkan kemungkinan besar pemerintah baru akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Akibatnya inflasi akan naik kemungkinan sampai 8%. Tentu BI Rate akan naik mengimbangi kenaikan inflasi.

Fauzi juga mengakui kenaikan ini akan semakin memperberat beban debitur. Kondisi ini sebetulnya bisa diatasi jika perolehan laba bank bisa diturunkan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per April 2014, suku bunga simpanan deposito naik dari 5,45% - 6,07% di April 2013 menjadi 7,83% - 8,79% di April 2014.

Sementara suku bunga kredit modal kerja naik dari 11,45% di April 2013 menjadi 12,40% di April 2014. Sedangkan suku bunga kredit investasi naik dari 11,21% di April 2013 menjadi 12,06% di April 2014. Terakhir, suku bunga kredit konsumsi naik dari 13,22% di April 2013 menjadi 13,25% di April 2014.

Kemudian Fauzi juga mengungkapkan kecil kemungkinan BI memangkas BI Rate di tahun ini. BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi di masa-masa yang akan datang.

"Prospek kenaikan BBM dan dampak terhadap kenaikan inflasi akan menyulitkan BI menaikkan suku bunga acuan,” tandas dia.

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Chief Economist DBS Bank, Gundy Cahyadi. Dia mengatakan dengan melihat situasi ekonomi Indonesia yang masih dihantui ketidakpastian, Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan posisi suku bunga acuan atau BI Rate pada level 7,5%.“Meski momentum pertumbuhan PDB berkurang, tapi menjaga keseimbangan neraca perdagangan menjadi sebuah prioritas sekarang,” kata dia.

Dia melihat bahwa BI masih akan terus mengetatkan kebijakan moneter dengan tujuan agar mampu menjaga inflasi inti pada koridor yang telah ditetapkan. Namun, tidak dipungkiri masih akan ada risiko yang menghadang di masa mendatang.“Untuk sekarang, kita melihat BI Rate akan tetap stabil pada angka 7,5% selama sisa akhir tahun ini," tandas Gundy.

Respon BI

Pada kesempatan yang berbeda Ekonom UI Telisa Aulia Falianty mengatakan bahwa biasanya BI menurunkan BI Rate salah satu respon BI terhadap penurunan inflasi terhadap suku bunga memang lambat. Tapi, respon sangat cepat untuk menaikkan suku bunga jika terjadi kenaikkan inflasi. Selain internal, adanya kebijakan BI mempertahankan suku bunga masih di level 7,5% karena melihat kondisi eksternal adanya tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).“Memang respon penurunan dari inflasi biasanya disikapi lamban oleh BI,” imbuh dia.

Selain itu, lanjut Telisa, upaya BI mempertahankan suku bunga acuan karena melihat kemungkinan risiko terhadap para pemodal maupun investor. Namun sebenarnya, yang bermasalah dengan suku bunga biasanya investor jangka pendek.“Kalau investor jangka panjang tidak ada masalah dan tidak mengkhawatirkan dengan suku bunga," tukas Telisa.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo pernah berjanji tidak akan menaikkan BI Rate melebihi 7,5%. Mantan Menteri Keuangan tersebut mengungkapkan kalau ada isu BI akan menaikkan suku bunga acuan adalah tidak benar. Hal tersebut hanya kabar angin. Dia memahami dengan baik perbaikan ekonomi dan tidak mungkin menggencet sektor rill."Jadinya secara umum ditanya apakah Bank Indonesia akankah BI Rate naik. Saya jelaskan kondisi pasar keungan saat sekarang dan moneter kurang lebih akan dipertahankan. Tidak betul akan ada peningkatan BI Rate," kata Agus Marto, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, dalam merumuskan kebijakan moneter saat ini, BI tidak hanya berpatokan pada pengendalian tingkat inflasi. Namun, pada saat yang sama juga bertujuan untuk menekan defisit transaksi berjalan yang saat ini masih di atas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). [mohar]