Bankir Sambut Positif Penerbitan NCD - Keamanannya Perlu Dicermati

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan masih menggodok aturan mengenai penerbitan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) oleh perbankan. Bank sentral menargetkan untuk dapat menyelesaikan dan menerbitkan aturan NCD sebelum 2014 berakhir. Hal ini membuat industri perbankan atau para bankir menyambut positif regulasi pelengkap NCD ini.

Sambutan positif ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja. Dia mengungkapkan, NCD dapat menjadi alternatif raihan dana bagi bank. Terlebih jika nantinya instrumen ini diperhitungkan seperti deposito dan dimasukkan dalam komponen rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR).

Sehingga nantinya bank tidak lagi menggantungkan raihan dana dari term deposit yang berbiaya tinggi lantaran harus memberikan suku bunga deposito yang tinggi kepada nasabah. "Kami relatif siap untuk menerbitkan NCD, tergantung teknis persyaratan yang nantinya digariskan oleh otoritas," kata Parwati di Jakarta, Senin (7/7).

Dengan dapat dilakukannya penerbitan NCD oleh perbankan, lanjut Parwati, diharapkan tentunya, suku bunga deposito berdenominasi dolar AS dapat lebih baik lagi. Selain itu, diharapkan dari aturan pelengkap penerbitan NCD oleh bank adalah diversifikasi jangka waktunya.

“Hal yang perlu dicermati atas penerbitan NCD oleh bank adalah mengenai keamanannya. Karena sempat terjadi penyalahgunaan penerbitan NCD pada masa lalu,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Achmad Baiquni sepakat bahwa jika dilihat dari segi biaya dana, NCD akan lebih murah bagi perbankan. Pasalnya, dengan jangka waktu NCD yang lebih pendek ketimbang penerbitan medium term note (MTN) maupun obligasi, tentu ongkos yang harus dibayarkan perbankan menjadi lebih murah.

Selain itu, dengan sifatnya yang negotiable, maka tingkat bunga dari NCD besarannya dapat dilakukan dengan tawar-menawar dan lebih rendah ketimbang term deposit."Negotiable tentu bisa tawar-tawaran dan suku bunganya bisa lebih rendah lagi, sehingga ongkosnya menjadi lebih murah," kata Baiquni.

Solusi alternatif

Dengan penerbitan NCD ini, kata Baiquni, diharapkan tekanan terhadap bank atas suku bunga deposit menjadi lebih ringan. Dengan instrumen NCD ini, menurut Baiquni, bank akan cenderung memilih untuk menerbitkan NCD ketimbang berlomba-lomba menaikkan suku bunga simpanan deposito demi persaingan memperebutkan DPK.

Adapun Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, mengatakan bahwa penerbitan NCD berjangka waktu 3, 6 dan 12 bulan dapat dipakai sebagai alternatif pendanaan bagi bank. Meski begitu, dia menekankan bahwa penerbitan NCD bertenor satu bulan agak berbahaya, terlebih jika diterbitkan dalam jumlah besar.

"Karena kalau tiba-tiba tidak diperpanjang, maka bank akan kesulitan mencari dana penggantinya," jelas Jahja.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, mengungkapkan demi tercapainya keberlangsungan pertumbuhan industri perbankan, maka perbankan harus dapat mengeluarkan instrumen baru untuk mendapatkan likuiditas selain dari deposito.“Saat ini LDR perbankan sudah di level 92%, 98%, bahkan sudah ada yang 100%. Kalau tidak ada instrumen lain selain deposito, setiap bank yang ingin menyalurkan kredit harus mencari tambahan deposito yang kemudian ini menyebabkan deposit rate tambah tinggi,” kata dia.

Mirza juga menyebutkan, perlunya diciptakan instrumen lain selain deposito, namun sekaligus juga dapat dikategorikan sebagai deposit. Instrumen ini, lanjut dia, juga harus memenuhi syarat-syarat seperti kehati-hatian alias prudent, adanya rating dan juga konsep perlindungan investornya. Selain itu, instrumen yang diterbitkan perbankan ini dapat diperdagangkan dalam jangka pendek dan dapat dibeli oleh investor asing. Ini karena instrumen asing memiliki likuiditas yang berlebih.

Pasalnya, kata Mirza, jika NCD yang diterbitkan perbankan diperuntukkan untuk investor domestik, maka nantinya bank hanya melakukan pemindahan capaian deposit kepada NCD tersebut.” Secara otomatis dengan sendirinya kalau aturan LDR-nya lebih dari 92%, bank bisa ekspansi kredit dengan mengeluarkan NCD dan tidak perlu menaikkan bunga simpanan demi mendapatkan deposito,” tukasnya. [mohar]

BERITA TERKAIT

Optimisme Ekonomi Positif Bawa IHSG Menguat

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup menguat seiring penilaian investor terhadap…

Apkasi Sambut Baik Kenaikan Gaji Perangkat Desa

Apkasi Sambut Baik Kenaikan Gaji Perangkat Desa NERACA Jakarta - Pemerintahan desa yang juga memiliki andil cukup besar dalam menjalankan…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Pertahankan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen…

OJK Sebut DP 0% Gairahkan Sektor Produktif

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim kebijakan penghapusan uang muka kendaraan bermotor pada perusahaan…

SMF Kerjasama Operasional dengan Bank Penyalur KPR FLPP

    NERACA   Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dengan bank penyalur…