Cadev Naik Cermin Pasar Positif

Rabu, 09/07/2014

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, menilai peningkatan cadangan devisa sebesar US$700 juta pada Juni 2014 mencerminkan kondisi pasar keuangan yang positif di mana dana masih mengalir ke dalam negeri.

"Kalau cadangan devisanya menunjukkan US$107,7 miliar itu suatu kondisi yang mencerminkan ada dana masuk (capital inflow) ke Indonesia yang cukup baik," kata Agus Marto, di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, tetap adanya konfidensi investor terhadap kondisi pasar keuangan di Tanah Air membantu masih tetap surplusnya neraca cadangan devisa dari bulan ke bulan. Padahal, lanjut Agus Marto, berbagai pihak memperkirakan cadangan devisa akan menurun seiring dengan keberadaan BI di pasar yang cukup aktif.

"Walau kita aktif ternyata jumlahnya masih cukup meningkat. Dalam beberapa minggu terakhir kita memang aktif di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kita ada di pasar untuk meyakinkan volatilitas ada di tingkatan yang wajar," jelasnya.

Sebelumnya, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir pertengahan tahun atau Juni 2014 mencapai US$107,7 miliar, atau naik tipis sebesar US$0,7 miliar dari posisi akhir Mei 2014 yang senilai US$107,0 miliar.

“Peningkatan jumlah cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi transaksi penerimaan devisa hasil ekspor minyak dan gas (migas) Pemerintah yang melampaui kebutuhan pembayaran utang luar negeri Pemerintah,” ujarnya, seperti dikutip dari laman Bank Indonesia, kemarin.

Sementara itu, lanjut Peter, kebutuhan devisa untuk intervensi valuta asing dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah dapat diimbangi dengan kenaikan simpanan deposito valuta asing bank-bank di Bank Indonesia.

Posisi cadangan devisa per akhir Juni tersebut dapat membiayai 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standard kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai kenaikan cadangan devisa berdampak positif terhadap upaya memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. [ardi]