Aturan IPO Perusahaan Tambang Molor

Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal aturan perusahaan tambang yang belum untung bisa untuk listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum juga rampung pembahasannya. Itu artinya, perusahan tambang yang belum mengantungi untung hasil eksplorasi dipastikan tidak bisa mencatatkan saham perdananya di pasar modal melalui initial public offering (IPO).

Direktur BEI, Hoesen mengatakan, peraturan untuk listing bagi perusahaan tambang belum selesai pembahasannya,”Minta maaf belum selesai kenyataannya. Guidance masih dibuat bagian peraturan," ujarnya di Jakarta, Senin (7/7).

Dijelaskan, alasanya, pihak BEI bersama dengan OJK masih mengkaji aturan tersebut."Yang kendala guainde pencatatan saham pada pengkajian proyeksinya. Semoga secepatnya. Kalau dah gini ngomong lagi nanti bosan kasih target," tandasnya.

Menurut Hoesen, bagi perusahaan tambang yang baru menjalankan usaha tambang, biasanya belum memiliki reveneu. Hal tersebutlah yang menadi kendala,”Sekarang tambang historikal finance yang di peraturan, akan beroperasi yang akan berpendapatan harus ada bisnis plan. Itu yang prospetkif ke depan," tambahnya.

Asal tahu saja, pihak BEI menjanjikan aturan kemudahaan perusahaan sektor pertambangan untuk melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) akan rampung tahun ini. Hoesen pernah bilang, pembahasan perihal peraturan IPO perusahaan tambang telah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Hoesen mengungkapkan, untuk merampungkan peraturan bursa untuk perusahaan tambang yang IPO memang tidak mudah. Pasalnya, sebelum disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), peraturan ini didiskusikan dengan pihak Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM sebagai departemen yang membawahi perusahaan tambang.

Kata Hoesen, pihaknya juga diskusi dengan pelakunya seperti IAGI, Perhapi, “Tidak hanya itu, kita ngbrol banyak dengan pelaku industrinya. Intinya kesulitannya karena prosedur izinnya, kan ini harus di sinkronkan, ada izin di tingkat dua seperti pemda, tingkat pusat bagaimana. Yang penting pelan-pelan, kita juga belajar. Ini ada kemajuan, dulu peraturannya masih di gawang kita, sekarang sudah digawang lawan, tinggal eksekusi saja," tuturnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

Surya Fajar Capital Serap Dana IPO 67,33%

NERACA Jakarta - PT Surya Fajar Capital Tbk (SFAN) telah menyerap dana hasil initial public offering senilai Rp26,9 miliar atau…

Emdeki Realisasikan Dana IPO Baru 30,05%

Per Juni 2019, PT Emdeki Utama Tbk (MDKI) baru merealisasikan dana hasil penawaran umum saham perdana sebesar 30,05% dari dana…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…

Siapkan Dana Investasi US$ 100 Juta - Saratoga Bangun Rumah Sakit di Bekasi

NERACA Jakarta –Genjot pertumbuhan portofolio investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) terus mengembangkan investasinya. Salah satunya yang tengah dikembangkan…