Optimalisasi PGN Untuk Tranformasi BBM Ke BBG

Perkuat Infrastruktur SPBG

Selasa, 08/07/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun ada kebijakan Bank Indonesia soal pengetatan uang muka untuk pembiayaan kendaran, namun tidak serta merta membuat pasar otomotif bikin lesu. Sebaliknya, lambat tapi pasti penjualan otomotif tahun ini akan terus tumbuh. Jika tahun 2013 angka produksi mobil mencapai 1.208.165 unit, mengalami kenaikan sekitar 13% dibandingkan dengan angka produksi pada tahun 2012 yang tercatat sebesar 1.065.557 unit.

Maka di tahun ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan, penjualan dapat mencapai 1.250.000 unit. Kondisi ini tentunya memberikan dampak positif karena daya beli masyarakat yang terus tumbuh. Namun disatu sisi menjadi beban bagi anggaran belanja negara yang harus terus mensubsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) seiring dengan pertumbuhan kendaraan. Angka ini belum dihitung dengan penjualan roda dua yang diprediksi tahun ini bisa tembus 8 juta unit.

Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Hanung Budya memprediksi, kuota BBM bersubsidi akan jebol sebelum akhir tahun. Padahal kuota BBM subsidi tahun ini hanya dipatok 46 juta kiloliter seperti tertuang dalam APBN Perubahan 2014. "Prognosa kita enggak melakukan apa-apa 47,621 juta kiloliter," ujarnya.

Asal tahu saja, konsumsi premium tahun ini diprediksi naik mencapai 3,2 juta kiloliter. Dari data Pertamina, selama Januari sampai Mei 2014, realisasi Konsumsi premium mencapai 12.039 juta kiloliter, konsumsi kerosine sebesar 395,800 kiloliter, sedangkan konsumsi solar mencapai 6,544 juta kiloliter. Sehingga total konsumsi BBM subsidi mencapai 18,980 juta kiloliter sebelum masuk semester II 2014.

Sementara menurut Menteri Keuangan, Chatib Basri, dipastikan beban anggaran subsidi BBM tahun ini semakin berat lantaran nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah, “Asumsi kurs rupiah yang meleset mengakibatkan tanggungan negara untuk subsidi BBM bertambah Rp 36 triliun,”ungkapnya.

Mempertimbangkan, beratnya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya untuk mensubsidi BBM yang tentunya dinilai tidak tepat, maka pengalihan penggunaan energi atau konversi BBM ke gas untuk transportasi menjadi sesuatu hal yang mendesak dan diyakini sebagai solusi tepat. Alasannya, selain pasokan gas yang mencukupi juga energi gas bumi dinilai bersih dan ramah lingkungan.

Investasi Jangka Panjang

Menyadari penggunaan energi gas bumi yang belum seutuhnya digunakan secara optimal, maka presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengamantkan kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) untuk segera mempercepat dan memperluas infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi gas yang sangat penting bagi pelaksanaan konversi BBM ke gas untuk sektor transprotasi khususnya dan pembangkit listrik, industri serta rumah tangga,”Pak SBY telah memberikan amanat kepada PGN untuk segera mempercepat dan memperluas pembangunan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi gas,"kata Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PGN, M. Wahid Sutopo.

Asal tahu saja, amanat Presiden kepada PGN untuk membangun transmisi dan distribusi gas karena didasarkan pengalaman perseroan selama 49 tahun dalam mengembangkan infrastruktur gas bumi. Selain itu, kata Wahid Sutopo, transformasi energi BBM ke gas bumi menjadi kebutuhan mengingat jumlah persediaan BBM semakin terbatas. Sehingga perlu dicari alternatif lain untuk menghemat penggunaan BBM dalam keseharian. Salah satunya yakni melalui konversi BBM ke gas untuk sektor transportasi, pembangkit listrik, industri serta rumah tangga."Sampai saat ini kita terus menyerukan dan melakukan itu,”ujarnya.

Pihaknya juga senang mendapatkan dukungan dari DPR, dalam hal ini Komisi VII untuk mempercepat pembangunan fasilitas dan infrastruktur gas bumi. Salah satunya dalam bentuk terminal LNG terapung di Lampung. PGN juga telah membangun lebih dari 6 ribu km jaringan pipa gas, memiliki dua unit floating storage regasification unit (FSRU).

Komitmen PGN mendukung percepatan konversi BBM ke BBG telah dibuktikan dengan pembangunan tiga stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Jakarta. Dimana perseroan telah menginvestasikan dana sebesar Rp45 miliar untuk pembangunan tiga SPBG.

Head of Corporate Communication Vice President PGN Ridha Ababil mengatakan, pembangunan SPBG merupakan upaya perseroan untuk mendukung program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG),” PGN memiliki komitmen tinggi untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembangunan infrastruktur gas bumi agar pemanfaatan gas bumi di Indonesia semakin meningkat. Pembangunan infrastruktur gas memiliki risiko, antara lain pembebasan lahan, perizinan, dan biaya operasi,”ungkapnya.

Disamping itu, PGN akan menambah dua mobile refueling unit (MRU). Kendaraan tersebut berlokasi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dan kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. "Meski secara bisnis tidak menguntungkan, PGN akan mengoperasikan dua MRU lagi sampai akhir tahun,”ujarnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur SPBG dan MRU harus bersinergi dengan peningkatan kendaraan yang menggunakan BBG. Pasalnya, jika kendaraan berbahan bakar gas untuk transportasi sudah banyak, tapi fasilitas pengisian gas tidak tersedia akan percuma saja.

Bahkan setelah mendapatkan tugas dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM), PGN akan membangun 16 stasiun pengisian bahan bakar gas di sejumlah wilayah untuk melayani moda transportasi. “SPBG yang ada sekarang, tidak mencukupi kalau ribuan kendaraan itu datang,” kata Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup.

Rencananya, perseroan akan membangun sebanyak 16 SPBG yang berlokasi di Jabodetabek dan Sukabumi, Jabar sebanyak 12 unit, lalu Jatim 3 unit, dan Pakanbaru, Riau 1 unit. Sebagian besar SPBG yang dibangun, kata dia, nantinya mendapat suplai gas langsung melalui pipa (online) dan setidaknya dua unit lainnya berjenis MRU. Pihaknya memperkirakan, dana investasi yang dibutuhkan pada tahun depan sebesar Rp260 miliar. “Kami siapkan kas internal Rp260 miliar,” ujarnya.

Tentunya, dengan besarnya investasi yang di keluarkan PGN untuk membangun SPBG merupakan langkah strategis jangka panjang untuk memulai percepatan BBM ke BBG, sehingga tercipta pula ketahanan energi yang bersih dan ramah lingkungan. (bani)