BI Rate Diprediksi Bertahan Hingga Akhir 2014

NERACA

Jakarta - Melihat situasi ekonomi Indonesia yang masih dihantui ketidakpastian, Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan posisi suku bunga acuan atau BI Rate pada level 7,5%. “Meski momentum pertumbuhan PDB berkurang, tapi menjaga keseimbangan neraca perdagangan menjadi sebuah prioritas sekarang,” kata Kepala Ekonom Bank DBS, Gundy Cahyadi, kemarin.

Dia melihat bahwa BI masih akan terus mengetatkan kebijakan moneter dengan tujuan agar mampu menjaga inflasi inti pada koridor yang telah ditetapkan. Namun, tidak dipungkiri masih akan ada risiko yang menghadang di masa mendatang. “Untuk sekarang, kita melihat BI Rate akan tetap stabil pada angka 7,5% selama sisa akhir tahun ini," tandas Gundy.

Pada kesempatan yang berbeda Ekonom UI Telisa Aulia Falianty mengatakan bahwa biasanya BI menurunkan BI Rate salah satu respon BI terhadap penurunan inflasi terhadap suku bunga memang lambat. Tapi, respon sangat cepat untuk menaikkan suku bunga jika terjadi kenaikkan inflasi. Selain internal, adanya kebijakan BI mempertahankan suku bunga masih di level 7,5% karena melihat kondisi eksternal adanya tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). “Memang respon penurunan dari inflasi biasanya disikapi lamban oleh BI,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Telisa, upaya BI mempertahankan suku bunga acuan karena melihat kemungkinan risiko terhadap para pemodal maupun investor. Namun sebenarnya, yang bermasalah dengan suku bunga biasanya investor jangka pendek. “Kalau investor jangka panjang tidak ada masalah dan tidak mengkhawatirkan dengan suku bunga," tukas Telisa.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo pernah berjanji tidak akan menaikkan BI Rate melebihi 7,5%. Mantan Menteri Keuangan tersebut mengungkapkan kalau ada isu BI akan menaikkan suku bunga acuan adalah tidak benar. Hal tersebut hanya kabar angin. Dia memahami dengan baik perbaikan ekonomi dan tidak mungkin menggencet sektor rill. "Jadi secara umum ditanya apakah Bank Indonesia akankah BI Rate naik. Saya jelaskan kondisi pasar keungan saat sekarang dan moneter kurang lebih akan dipertahankan. Tidak betul akan ada peningkatan BI Rate," aku Agus Marto, belum lama ini.

Menurut dia, dalam merumuskan kebijakan moneter saat ini, BI tidak hanya berpatokan pada pengendalian tingkat inflasi. Namun, pada saat yang sama juga bertujuan untuk menekan defisit transaksi berjalan yang saat ini masih di atas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). [agus]

BERITA TERKAIT

Akhir 2019, PNM Targetkan Nasabah Mekaar Capai 6 Juta Orang

Akhir 2019, PNM Targetkan Nasabah Mekaar Capai 6 Juta Orang NERACA Jakarta - PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM…

Penanaman Modal Asing - Pemerintah Bidik Investasi Industri Elektronika Hingga Rp2,3 T

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan investasi di sektor industri elektronika dan telematika. Tujuannya untuk memperdalam struktur manufakturnya…

DEFISIT APRIL 2019 TERBESAR SEJAK JULI 2013 - NPI Alami Defisit Hingga US$2,5 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada April 2019 defisit sebesar US$2,50 miliar. Defisit tersebut disebabkan oleh…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BRI Syariah dan Paytren Lanjutkan Kerjasama

      NERACA   Jakarta - Anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), BRI Syariah dan Paytren lanjutkan kolaborasi terkait…

Bank Bukopin Siapkan Rp1 Triliun untuk Pembiayaan Kendaraan

    NERACA   Jakarta - PT Bank Bukopin Tbk (Bukopin) menyiapkan kredit modal kerja hingga Rp1 triliun untuk pembiayaan…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada rapat…