Saham Bajatama Dalam Pengawasan BEI

Selasa, 08/07/2014

NERACA

Jakarta - Lantaran mengalami penurunan harga dan aktivitas harga di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengawasi pergerakan saham PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA). Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kadiv Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy mengatakan, investor diminta untuk memantau konfirmasi perusahaan atas permintaan bursa dan juga rencana perseroan yang belum mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

Pada perdagangan saham kemarin, saham Baja tak berubah di level Rp680. Harga saham BAJA pada 1 Juli 2014 turun Rp1.660 dan berada di Rp680 pada kemarin. Sebagai informasi, PT Saranacentral Bajatama Tbk tahun ini akan membeli bahan baku baja 70% dari lokal lantaran ditengah fluktuasinya kurs rupiah terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk, Handjaja Susanto mengatakan, untuk mencegah rugi kurs, maka perseroan akan kendalikan dari bahan baku, “Bila dulu 70% impor dari Korea, Thailand, dan Malaysia, sekarang 70% kita beli dari lokal di Krakatau Steel (KS)," ujarnya.

Menurutnya, saat ini harga bahan baku baja dari KS 10% lebih murah dibandingkan impor. Hal itu berbeda dengan dulu di mana baja impor lebih murah. "Kita putuskan beli dari Krakatau Steel karena harganya stabil dan lebih murah 10 persen. Kualitasnya dengan impor juga tidak jauh beda," tukasnya.

Asal tahu saja, tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 10 miliar. Kemudian soal ekspor meski ada kebijakan pemerintah yang melarangnya, namun pihaknya berupaya untuk bisa masuk pasar ekspor. "Kita ada upaya untuk ekspor ke Malaysia atau Thailand karena kita ada keunggulannya karena sama-sama masuk Asean. Jadi, tidak dikenakan bea masuk," ucap Handaja.

Seperti diketahui, tahun 2013 kemarin, produsen baja ini mengalami penurunan laba hingga 508% menjadi minus Rp 77,12 miliar dibandingkan perolehan tahun 2012 yang plus sebesar Rp 18,88 miliar. Di mana, penjualan mengalami penurunan 2 persen dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 1,05 triliun. "Target penjualan tahun ini naik 10%-20% Rp 1,2 triliun, sampai Mei sudah Rp 465 miliar. Target produksinya juga ikuti penjualan 120.000 ton untuk dua lini,”paparnya. (bani)