OJK Didesak Optimalkan UKM Masuk Bursa - Tingkatkan Daya Saing

NERACA

Jakarta –Guna meningkatkan daya saing dan memudahkan pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam mencari pendanaan dan ekspansi usaha, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali ditagih untuk segera mengoptimalkan aturan agar UKM bisa masuk ke pasar modal.

Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Sadar Subagyo meminta OJK mengoptimalkan upayanya dalam mendorong usaha kecil dan menengah (UKM) masuk ke pasar modal,”Selama ini pembiayaan dari perbankan lebih berpihak kepada usaha-usaha kelas atas bermodal besar,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, pemerintah dan OJK masih cukup memiliki waktu untuk meningkatkan daya saing bagi pelaku UKM di dalam negeri. Anggota tim sukses bidang ekonomi dari capres dan cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ini juga menyebutkan, tanpa adanya kemampuan berkompetisi bagi UKM nasional, maka dipastikan pada 2015 sektor riil akan dikuasai asing.

Selain OJK, Sadar juga meminta agar upaya peningkatan daya saing juga perlu dilakukan oleh Bursa Efek Indoenesia (BEI) melalui regulasi yang memberikan dispensasi khusus kepada UKM. “Usaha menengah sudah seharusnya dipermudah untuk masuk pasar modal, agar daya saing kita bisa meningkat,” tukasnya.

Namun, selama ini BEI dinilai terlalu banyak aturan yang menyulitkan bagi para pelaku usaha kelas menengah untuk dapat melantai di pasar modal. “Bahkan, seperti regulasi mereka sengaja didesain hanya untuk para pemain besar,” ucap Sadar.

Menurutnya, jika pelaku UKM nasional bisa mencatatkan nama perusahaannya di pasar modal, maka akan terbuka potensi untuk melakukan ekspansi di sejumlah negara Asean. “Kita memiliki beragam produk khas yang tidak dimiliki negara lain. Produk-produk ini yang seharusnya bisa didorong untuk ekspansi,” paparnya.

Sadar menyebutkan, dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang mencapai 7,5% atau tertinggi di kawasan Asia Tenggara, maka sulit bagi UKM nasional untuk mengembangkan bisnis mereka. “Pasar modal bisa menjadi solusi untuk membiayai usaha menengah itu, sehingga peningkatan daya saing bisa tercipta,” tegasnya.

Menurutnya, kategori UKM yang diharapkan bisa listing di BEI adalah perusahaan bermodal minimal Rp500 juta dengan omzet per tahun sedikitnya mencapai Rp100 miliar. Pasalnya, sejauh ini memang ada kekhawatiran bahwa asing akan menguasai saham perusahaan kecil dan menengah yang tercatat di pasar modal.“Penilaian ini harus dikesampingkan terlebih dahulu. Memang banyak orang takut kalau asing akan memborong saham perusahaan pemilik produk khas Indonesia,” ujar Sadar.

Namun, selama perusahaan kategori UKM tersebut mampu menyerap banyak tenaga kerja dan membayar pajak, maka penguasaan asing terhadap saham perusahaan, tidak menjadi permasalahan yang mengganggu ekonomi nasional. “Yang penting itu masih tetap berbendara Indonesia. Jika sudah kuat, selanjutnya mereka bisa ekspansi di kawasan Asean,”paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

OJK Tetapkan DIGI Sebagai Efek Syariah

NERACA Jakarta – Emiten yang bergerak di media digital, PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI) masuk dalam daftar efek syariah…

Rabobank Berupaya Tingkatkan Pembiayaan Pertanian di Jatim

      NERACA   Surabaya - PT Bank Rabobank Indonesia berupaya meningkatkan pembiayaan untuk sektor pertanian dan pertambakan di…

Wings Peduli Kasih Bangun Perpustakaan di Sumba Timur - Tingkatkan Kualitas Pendidikan Masyarakat

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada dunia pendidikan dan kepedulian untuk mencerdaskang bangsa, Yayasan Wings Peduli Kasih (YWPK) yang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Rights Issue Perkuat Struktur Modal FREN

Danai pelunasan utang dan juga belanja modal, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) berencana untuk meningkatkan modal dasar melalui mekanisme penerbitan…

RIMO Catatkan Laba Bersih Rp 83,81 Miliar

NERACA Jakarta - Di semester pertama 2018, PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp83,81 miliar  atau naik 175,14%…

FIF Terbitkan Obligasi Rp 1,3 Triliun

Perkuat modal, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) yang bergerak di bidang pembiayaan, yakni PT Federal International Finance (FIF)…