Mempertanyakan Pengamalan Pancasila pada Pilpres 2014

Oleh: Azwar Hakim Supraba, Pemerhati politik dan aktif pada Forum Diskusi Kebijakan Publik

Selasa, 08/07/2014

Perkembangan politik menjelang pilpres 2014 terasa semakin menurunkan semangat nasionalisme dan bela negara masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya sikap yang individualis dan egois serta tingginya angka black campaign. Pemuda sebagai garda terdepan generasi penerus dalam membangun, justru terkesan tidak peduli (apatis) terhadap perkembangan masa depan dan masalah bangsa. Bahkan justru terbawa arus, ditandai dengan ketidakpekaan dalam menyaring berbagai informasi mana yang mencerdaskan dan mana yang membodohkan masyarakat.

Generasi muda terkesan terjebak kegalauan, frustasi, krisis identitas dan tidak memiliki karakter/mental pejuang serta rasa nasionalisme. Seharusnya masyarakat Indonesia, lebih khususnya lagi kaum muda bangga dengan memakai falsafah negara kita yaitu Pancasila. Pancasila dapat dikatakan sebagai wujud kristalisasi dari kebudayaan bangsa Indonesia.

Ada kesepakatan dalam pendiri NKRI, bangsa Indonesia memproklamasikan dengan kedewasaan yang menginginkan persatuan dan kesatuan, untuk perdamaian, kesejahteraan masyarakat di seluruh NKRI. Untuk itu, merupakan tugas kita semua untuk memajukan dan menjaga keutuhan Kedaulatan NKRI dengan memahami tentang Pancasila dalam arti Wawasan Nusantara. Rakyat Indonesia harus saling menghormati adanya perbedaan suku, agama, bahasa, adat istiadat dan budaya sebagai Pemersatu Bangsa. Rakyat Indonesia juga harus punya harga diri, jati diri dan jangan sampai mudah di pecah belah karena adanya perbedaan tersebut.

Pancasila dan UUD 1945 adalah pondasi tegak berdirinya negara Indonesia. Kondisi ini terjadi karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan. Rohnya adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur serta berkepribadian luhur. Apabila fondasinya tiada maka tamatlah NKRI. Negara berdiri tanpa fondasi yang kuat akan mudah ditaklukan (dijajah secara budaya, ekonomi, ideologi dan politik). Untuk itu, integrasi dalam kesatuan bangsa Indonesia adalah pembauran sehingga menjadi satu kekuatan yang bulat dan utuh karena heterogenitasnya masyarakat dan budaya maka perwujudan integrasi nasional adalah bentuk NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Demokrasi telah mengamanatkan kedaulatan ditangan rakyat. Dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya seorang pemimpin harus lahir dari tengah masyarakat dan mencari pemimpin harus dilihat dari rekam jejaknya, karena orang yang tidak pernah mengalami dan menyanggupi dengan apa yang disampaikan atau dilakukannya kecenderungan hanya kamuflase semata. Pilpres 2014 bukan sekadar mencari pemimpin semata, namun harus membawa bangsa Indonesia lepas dari jeratan kemiskinan, pembodohan, perampokan uang rakyat (KKN) dan terpenting harus mampu mengembalikan kejayaan Indonesia, yaitu Bangsa yang disegani oleh Asing.

Menjadi sesuatu yang sangat disayangkan ketika KPU tidak mencantumkan tema tentang pancasila dalam debat Capres dan Cawapres 2014 ini. Padahal nilai-nilai Pancasila merupakan hal yang penting. Pondasi awal untuk membangun martabat bangsa. 5 (lima) dasar dalam pancasila telah merangkum tujuan dan arah kebijakan bangsa.

Pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang tidak terlalu berambisi mengejar jabatan demi kepentingan pribadi, menanamkan permusuhan dengan lawan-lawan politiknya. Pemimpin yang Pancasilais adalah sosok pemimpin yang selalu dengan teguh mengamalkan sila-sila Pancasila dengan sempurna. Pemimpin yang memiliki jiwa religiositas sesuai dengan sila pertama Pancasila, selalu menanamkan jiwa-jiwa keadilan dalam setiap aspeknya, bersikap toleran dan terbuka sebagai jalan untuk mempersatukan semua unsur perbedaan yang ada, dan selalu bijak dalam pengambilan keputusannya.

Setiap pemimpin bangsa Indonesia tentu harus memiliki dan mengamalkan nilai dalam butir-butir pancasila tersebut dengan baik. Karena Pancasila bukanlah pajangan semata, pelajaran anak-anak sekolah tanpa makna. Tetapi Pancasila merupakan dasar negara kita, dasar dalam membangun NKRI yang berdaulat yang harus hidup pada jiwa setiap rakyat dan bangsa Indonesia.

Apabila seorang pemimpin tidak memahami masalah yang dihadapi rakyatnya dan keinginan rakyat maka pemimpin itu tersebut tidak akan mampu melakukan apa-apa. Pilpres hanyaah menjadi aktivitas rutin dalam jangka 5 tahun tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan bagi masa depan Rakyat Indonesia. Untuk itu, rakyat harus jeli dalam mengamati program kerja calon pemimpinnya, rasa nasioalisme dan jiwa Pancasilanya. Tidak mudah termakan pencitraan, isu black campaing atau pun propokasi-porokasi yang menyesatkan lainnya.

Maraknya black campaign yang sudah diluar batas kewajaran ini membuat akademisi di Universitas Madako, Toli-Toli, Sulawesi Tengah, Prof. DR. Drs. H. Mohammad Ma’ruf Bantilan, MM, MBA, Ph.D merasa prihatin. Sebab kampanye hitam tersebut sama halnya memberikan pendidikan politik yang tidak sehat bagi masyarakat.Kampanye dalam Pemilu baik itu Pilkada, Pileg maupun Pilpres, kata Ma’ruf, semestinya lebih mengedepankan ide, bahwa sang kandidat ingin berbagi dengan pemilih. “Celakanya sekarang yang terjadi, pendukung kandidat menggunakan kampanye berupa sindiran atau rumor yang merusak kredibelitas calon lainya. Ini semua sangat tidak etis,” ujarnya saat menjadi pembicara Dialog “Optimalisasi Peran Mahasiswa dalam Mengawal Pemilu 2014 Damai sebagai Upaya Mewujudkan Nilai-Nilai Pancasila” di Hotel Bumi Harapan, Toli Toli, Sulawesi Tengah. Menurutnya kampanye hitam yang cenderung mengumbar fitnah, kabar bohong dan rumor untuk menyerang kandidat ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia yang berada di dalam tim sukses masing-masing calon sangat rendah.

Untuk itu, dalam pemilu presiden 2014 ini sangat diharapkan mampu melahirkan negarawan yang mampu mengamalkan butir-butir pancasila. Bukan pemimpin yang hanya menabur benih permusuhan, benih kedengkian di masyarakat. Bangsa ini tidak hanya butuh pemimpin dengan segudang program kerja, segudang cita-cita tanpa bukti nyata. Tetapi Indonesia harus kembali berjaya seperti cita-cita para pendiri bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Dan sekarang saatnya pemimpin Indonesia harus membenahi dan menciptakan peraturan perundang-undangan sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Semoga Pemilu Presiden 2014 ini berjalan dengan damai, jujur dan bermartabat, serta tanpa kekerasan, kita percaya para kandidat dapat menjaga para pendukungnya untuk dapat menahan diri dan tidak terprovokasi, karena sesungguhnya kita semua bersaudara, sebangsa dan setanah air. Mari Kita tegakkan dan amalkan Pancasila dalam setiap langkah kita bernegara dan berbangsa.***