Prospek Pengawasan Sektor Keuangan Pasca Pemilu

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Selasa, 08/07/2014

Prospek pengawasan sektor keuangan paska pemilu merupakan fungsi sejauhmana pemilu menghasilkan budaya pencerahan di Indonesia. Peraih Nobel Ekonomi Shiller sudah mengingatkan: "There is significant risk of a very bad period, with slow sales, slim commissions, falling prices, rising default and foreclosures, serious trouble in financial markets, and a possible recession sooner than most of us expected.” Pengawasan apapun termasuk sektor perbankan adalah produk dari budaya masyarakatnya.

Sementara itu pencerahan adalah bagian dari proses kebudayaan itu sendiri. Pencerahan adalah sebuah gerakan budaya yang berkembang pada periode abad ke-14 sampai abad ke-17, dimulai di Italia pada akhir abad pertengahan dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Meskipun pemakaian kertas dan penemuan barang metal mempercepat penyebaran ide-idenya dari abad ke-15 dan seterusnya, perubahan Pencerahan tidak terjadi secara bersama maupun dapat dirasakan di seluruh Eropa.

Dalam dunia politik, budaya Pencerahan berkontribusi dalam pengembangan konvensi diplomasi, dan dalam ilmu peningkatan ketergantungan pada sebuah observasi. Sejarawan sering berargumen bahwa transformasi intelektual ini adalah jembatan antara abad pertengahan dan sejarah modern. Meskipun Pencerahan dipenuhi revolusi terjadi di banyak kegiatan intelektual, serta pergolakan sosial dan politik.

Sejarah Pencerahan memperlihatkan bahwa proses ini hanya dapat berlangsung ketika negara itu dipimpin oleh aktor yang tidak terpolusi oleh sejarah buruk bangsa tersebut. Inti dari Pencerahan adalah kemulian manusia. Kemuliaan manusia sendiri terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam semesta (Pico Della Mirandola). Jika proses pencerahan terjadi seiring dengan pemilu maka pengawasan sektor keuangan di Indonesia akan lebih bersifat bottom up ketimbang top down.

Masing-masing pihak menyadari pentingnya pengawasan sehingga fungsi regulator adalah memberikan panduan pengawasan yang juga membantu mereka melakukan pengawasan secara makro yang tidak mungkin dilakukan oleh masing-masing individu. Pembagian tugas antara manajemen risiko secara makro dan mikro menjadi lebih terorganisir dan tidak tumpang tindih. Intinya semua pihak berupaya untuk menyukseskan pengawasan sektor keuangan di Indonesia.

Walaupun demikian permasalahan yang dibahas oleh pengawasan makro dan mikro tetap sama yaitu: Pertama, pembinaan dan pengawasan kondisi keuangan anggota kliring. Kedua, pemungutan dan pengelolaan margin. Ketiga, penyesuaian harga harian. Keempat, pemisahan dana anggota kliring dalam rekening terpisah. Kelima, dana kliring.

Terakhir, penanggulangan cedera janji. proses Pencerahan ini akan diikuti oleh semakin mengecilnya perdagangan oleh orang dalam (inside information). Perdagangan di sektor keuangan akan menyerupai pasar mata uang asing. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada "perdagangan orang dalam" atau informasi "orang dalam" (Insider trading) yang terjadi dalam pasar valuta asing.

Fluktuasi kurs nilai tukar mata uang biasanya disebabkan oleh gejolak aktual moneter sebagaimana juga halnya dengan ekspektasi pasar terhadap gejolak moneter yang disebabkan oleh perubahan dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto , inflasi, suku bunga, rancangan anggaran dan defisit perdagangan atau surplus perdagangan, penggabungan dan akuisisi serta kondisi makro ekonomi lainnya.

Berita utama selalu dipublikasikan untuk umum, sehingga banyak orang dapat mengakses berita tersebut pada saat yang bersamaan. Namun bank yang besar memiliki nilai yang lebih yang penting yaitu mereka dapat melihat arus pergerakan "pesanan" mata uang dari nasabahnya.

Secara ringkas, teori ini menunjukkan bahwa harga suatu instrumen keuangan adalah harga yang efisien dan akan cenderung mengikuti pergerakan secara acak yang ditentukan oleh munculnya berita berita (yang secara acak) dari waktu ke waktu. Oleh karena itu investor instrumen keuangan yang profesional cenderung menghabiskan waktu mereka untuk tenggelam dalam arus informasi yang bersifat fundamental guna memperoleh keuntungan lebih dari pesaing pesaing mereka (terutama investor profesional lainnya) dengan secara lebih cerdas menafsirkan aliran informasi (berita) yang muncul tersebut.

Jika pencerahan muncul setelah pemilu maka regulator sektor keuangan akan melakukan langkah penting membuat kontijensi modal seperti yang diusulkan oleh Shiller yaitu: “Banks need to issue a new kind of debt, known as contingent capital, that automatically converts into equity if the regulators determine that there is a systemic national financial crisis, and if the bank is simultaneously in violation of capital-adequacy.” Kesadaran baru ini hanya akan muncul jika Indonesia benar-benar mengalami periode pencerahan!***