Hasil Pilpres Membayangi Pasar Obligasi

Investor Mulai Cari Aman

Selasa, 08/07/2014

NERACA

Jakarta – Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tinggal menghitung jam atau tepatnya, Rabu (9/Juli) nanti. Kondisi ini disikapi pelaku pasar dengan penuh khawatiran dan memilih wait and see, apakah hasil pemilu Presiden (Pilpres) akan berjalan aman atau tidak. Sehingga, hal tersebut memberikan banyak sentiment terhadap laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan juga pasar obligasi dalam negeri.

Bahkan menurut Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA), Reza Priyambada, pasar obaligasi pada pekan ini tidak hanya dibanyangi hasil dari pilpres mendatang, tetapi juga dibayangi laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus bergerak fluktuatif,”Aksi mengamankan posisi dan menjauhi pasar berpotensi terjadi jika pelaku pasar menilai hasil dari pilpres tersebut tidak sesuai harapan,”ujarnya dalam risetnya yang disampaikan di Jakarta, Senin (7/7).

Kendati demikian, dia berharap, apapun hasil pilpres agar bisa diterima pasar dan dapat menghilangkan kekhawatiran negatif akan memburuknya keadaan. Pelaku pasar diharapkan tetap bersikap rasional. Sementara pasar obligasi, baik obligasi pemerintah maupun korporasi pada pekan lalu naik didukung positifnya rilis data makroekonomi Indonesia dan terapresiasinya rupiah. Salah satu obligasi korporasi yang mendapat respon positif adalah Obligasi PWON senilai US$ 168 juta, yang diterbitkan PT Pakuwon Jati Tbk, yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 15 kali,”Sementara meski mayoritas obligasi mengalami penurunan imbal hasil (yield), tetapi diantaranya mengalami kenaikan untuk obligasi tenor pendek karena pelaku pasar lebih memilih obligasi tenor panjang seiring peningkatan harga obligasi tenor panjang dibanding tenor pendek," tutur dia.

Pemerintah pada pekan lalu menyerap lelang surat berharga syariah negara atau sukuk negara, yang diwarnai permintaan yield tinggi. Pemerintah menyerap Rp1,16 triliun atau di bawah target indikatif sebelumnya Rp1,5 triliun dan di bawah total penawaran yang masuk sebesar Rp1,96 triliun.

Sementara pada pekan ini, pemerintah akan melakukan lelang SUN sebesar Rp10 triliun, besok. Adapun seri-seri yang dilelang, yakni Seri SPN12141009 (reopening) dengan pembayaran bunga secara diskonto dan jatuh tempo pada 9 Oktober 2014 dan Seri SPN121510710 (new issuance) dengan pembayaran bunga diskonto dan jatuh tempo pada 10 juli 2015.

Selain itu, Seri FR0069 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,875% dan jatuh tempo pada 15 April 2019, Seri FR0071 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 9% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2029, dan Seri FR0068 (reopening) dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,375% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2034.

Sebelumnya pakar obligasi dari Bond Strategist, Tumpal Sihombing pernah bilang dalam tulisannya kepada Neraca, secara historis pergerakan indeks harga obligasi berkorelasi erat dengan peristiwa politik tanah air. Jangankan pilpres, pergantian menkeu saja bisa membuat indeks obligasi mengalami fluktuasi tinggi,”Investor senantiasa waspada dengan dampak kebijakan ekonomi pemerintah yang baru,”ujarnya. Menurutnya, yang namanya investor rasional secara pribadi sudah memiliki preferensi siapa yang jadi Presiden, namun tak diungkapkan blak-blakan, “Karena bagaimanapun jua, beda Presiden, pasti beda kebijakan, yang berdampak pada beda outcome (imbal hasil) pada masing-masing portofolio investasi (dana/fisik) yang mereka miliki di pasar domestik. Itu kenyataan,”tandasnya.

Dirinya menyakini, dalam jangka pendek jika yang kalah dalam pilpres nanti tidak marah-marah, maka perekonomian tetap stabil plus capital inflow dalam kondisi pertumbuhan ekonomi memelambat. Jika pilpres mengalami keributan, rupiah berpotensi terjerembab melampaui Rp 13,000 per dollar AS dan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun akan berpotensi melampaui figur 9.00%.(bani)