Obligasi di Persimpangan Ekonomi

Oleh : Tumpal Sihombing

Indonesia Bond Strategist - BondRI

Besok final Pilpres 2014. Quo vadis peringkat obligasi ? Tren obligasi sangat dipengaruhi oleh pola kebijakan ekonomi pemerintah. Regulasi dan best practicedalam industri jasa keuangan/pasar modal berada dalam koridor/sasaran ekonomi yang ditetapkan/diterapkan pemerintah. Pilihan kita masing-masing akan turut berkontribusi dalam memilih haluan ekonomi serta dampaknya bagi pasar obligasi, sekecil apapun itu. Ada yang berpendapat bahwa siapapun Presidennya, pasar obligasi tak ada urusan. Itu pendapat keliru dan rabun ekonomi. Mengapa? Mungkin karena perihal obligasi agak jarang tampil dalam rangkaian sesi debat antara Prabowo-Hatta vs Jokowi-Kalla, walau sempat menyinggung defisit.

Apa yang akan terjadi dengan pasar obligasi Indonesia setelah Presiden terpilih pasca 9 Juli 2014?

Jika Prabowo yang terpilih, kebijakan ekonomi ala Hatta Rajasa akan berlanjut dengan intensitas yang semakin tinggi dan masif. Menurut lembaga pemeringkat internasional Fitch, ada 4 poin minus dalam rapor perekonomian Indonesia era Hatta Rajasa sebagai Menko Perekonomian RI, yaitu : Lingkungan bisnis lemah secara struktural; Infrastruktur domestik yang buruk; Pemerintahan yang lemah dan menghambat potensi pengembangan; Korupsi semakin merajalela.

Jika pola kebijakan ekonomi Hatta tetap berlanjut, maka tidak ada jaminan bahwa perubahan ekonomi akan membaik, walau banyak janji politik. Dengan pola kebijakan MP3EI yang sangat diprioritaskan oleh Hatta Rajasa selama ini, kecil peluang perekonomian Indonesia dapat bertumbuh dan stabil dalam suatu kondisi yang dapat mereduksi korupsi. Dampaknya, pola ekonomi biaya tinggi akan terus berlanjut dan ketakmerataan distribusi/alokasi hasil/faktor-faktor ekonomi berpotensi semakin lebar. Ini yang bisa disimpulkan terhadap tren perekonomian menurut Fitch selaku pemeringkat investasi Internasional.

Sebaliknya, jika Jokowi Presiden terpilih, maka prioritas ekstra difokuskan bagi upaya pengembangan daerah dan kapasitas SDM. Sebagai informasi, indikator PDB mengandung 4(empat) komponen, yaitu konsumsi rumah tangga(56%), belanja investasi(32%), pemerintah(7%) dan ekspor-impor(5%). Perekonomian Indonesia didominasi oleh rumah tangga selaku komponen terbesar dalam PDB. Oleh karena itu, komponen inilah yang perlu difokuskan dalam paradigma capacity building, baik selaku konsumen maupun partisipan/kontributorekonomi.

Masyarakat Indonesia harus memperoleh kesejahteraan dan pencerdasan yang lebih gencar serta berkualitas daripada periode sebelumnya. Agar dapat mengatasi pola ekonomi biaya tinggi yang telah menurunkan peringkat kita, maka perilaku efisien dan manajemen sistem pengendalian kinerja/monitoring wajib diimplementasikan. Agar dapat mengatasi kesenjangan distribusi, implementasi tol laut adalah solusi yang praktis, wajar dan adil. Pembangunan ekonomi seperti inilah yang dapat meningkatkan minat investasi investor domestik dan asing. Program seperti inilah yang berpotensi besar meng-upgrade peringkat investasi Nusantara serta meningkatkan creditworthiness level obligasi Indonesia.

BERITA TERKAIT

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

Optimisme Ekonomi Positif Bawa IHSG Menguat

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup menguat seiring penilaian investor terhadap…

Ekonomi Global Mulai Membaik - OJK Bidik Himpun Dana di Bursa Rp 250 Triliun

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis penggalangan dana di pasar modal tahun ini dapat mencapai Rp200 triliun hingga…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Ketika Rakyat Sekadar Tumbal

  Oleh: Gigin Praginanto Antropolog Ekonomi Politik Perekonomian nasional itu ibarat sepeda. Harus selalu dikayuh agar bergerak dan tidak jatuh.…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…