Fluktuasi Pilitik Pengaruhi Rupiah

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta - Chief Economist Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan menuturkan, fluktuasi politik mempengaruhi lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi selama dua minggu terakhir. "Rupiah tertekan dua minggu terakhir ini ada beberapa alasan, salah satunya ketidak pastian politik. Sebab dikhawatirkan, siapapun yang menang itu menangnya tipis," katanya di Jakarta, pekan lalu.

Fauzi mengatakan, apabila kemenangan capres yang baru terpaut tipis, otomatis untuk melakukan reformasi ekonomi akan sulit, maka rupiah akan tetap tertekan di level Rp12 ribu per dolar AS. Dia juga menambahkan, rupiah diperkirakan akan kembali menguat ke arah Rp11.500-Rp11.600 pasca-pemilihan presiden dan pembentukan kabinet baru pada Oktober 2014 mendatang.

"Kenapa, pertama kami melihat defisit neraca berjalan Indonesia akan lebih kecil di semester kedua tahun ini dengan tetap tingginya suku bunga Bank Indonesia," kata dia. Kedua, lanjut Fauzi, dengan berkurangnya ketidak pastian politik, otomatis aliran modal asing akan kembali ke Indonesia dan hal ini membuat rupiah menguat kembali ke Rp11.600 per dolar AS di akhir 2014.

"Apalagi jika pemerintah yang baru nanti membentuk tim ekonomi yang 'market friendly'," terang Fauzi. Dia menambahkan, lemahnya nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh repatriasi deviden, yakni perusahaan swasta yang dimiliki investor asing mulai mengirimkan deviden ke negara asal investor pada Juni dan pembayaran utang luar negeri yang dilakukan di akhir triwulan atau semester. [ardi]