Kinerja Reksa Dana Dipengaruhi Data Inflasi

NERACA

Jakarta – Inflasi di bulan Ramadhan dan Lebaran menjadi penentu kinerja reksa dana pada kuartal ketiga, disamping suku bunga bank, “Data inflasi kemarin yang di rilis Badan Pusat Statisti, kedua faktor ini cukup stabil dan itu sedikit banyak memberikan dampak positif pada kinerja reksa dana,” kata Analis Millenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga di Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, dia memperkirakan, tekanan inflasi pada kuartal III akan lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya karena adanya Ramadan dan Lebaran. Oleh sebab itu, menurut dia, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus bisa mengeluarkan kebijakan untuk memitigasi tekanan inflasi dan defisit transaksi berjalan, tanpa menaikkan suku bunga.“Karena (menaikkan suku bunga) itu akan berdampak negatif ke pasar keuangan, yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja reksa dana,” ujarnya.

Sekedar informasi, inflasi Juni tahun ini tercatat yang terendah dalam lima tahun terakhir pada periode yang sama, yakni 0,43%. Sementara pada Juni 2013 mencapai 1,03%, Juni 2012 sebesar 0,62%, Juni 2011 sebesar 0,5% dan Juni 2010 sebesar 0,97%.

Dirinya juga memperkirakan, bulan suci Ramadan dan Lebaran sedikit banyak bisa menekan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana lantaran investor membutuhkan dana dalam bentuk tunai pada periode ini,”Artinya, penarikan dana bisa terjadi. Meski begitu, ini hanya bersifat sementara,”tuturnya.

Namun jika dilihat dari kinerja saham, dia memperkirakan, akan ada beberapa sektor yang diuntungkan, seperti komsumsi dan keuangan. Artinya, jika manager investasi jeli untuk masuk ke sektor ini dalam mengelolal portofolio reksa dananya, menurut dia, kinerja reksa dana bisa cukup baik sepanjang Ramadan dan Lebaran.

Sementara analis Riset PT Infovesta Vilia Wati mengatakan, meski umumnya ada potensi inflasi sedikit menanjak pada bulan Ramadan dan Idul Fitri, namun karena sudah diantisipasi sebelumnya oleh investor, maka tidak berdampak signifikan pada kinerja bursa saham maupun obligasi.Akibatnya, dampak pada pergerakan nilai pasar portofolio reksa dana juga cenderung minim. “Sementara dari sisi unit penyertaan, kami juga berpandangan tak ada dampak signifikan pada hal tersebut,” ungkapnya.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan, total AUM reksa dana hingga semester I tahun ini sebesar Rp200,14 triliun, susut sekitar Rp480 miliar atau 0,24% dibanding posisi akhir Mei sebesar Rp200,62 triliun. Sementara jumlah unit penyertaan reksa dana naik sekitar 600 juta menjadi 124,76 miliar dibanding posisi bulan sebelumnya sebanyak 124,16 miliar.

Vilia menyebut, turunnya dana kelolaan industri reksa dana pada Juni dibanding bulan sebelumnya akibat terkoreksinya bursa saham dan obligasi pada periode tersebut. Akibatnya, nilai pasar portofolio reksa dana berbasis saham dan obligasi secara rata-rata mengalami penurunan yang berimbas pada dana kelolaan reksa dana secara total. (bani)

Related posts