Tingkatkan Penjualan, Citilink Incar Rute TigerAir

Ekspansi di Pasar Regional

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Citilink Indonesia belum memutuskan siapa investor strategis yang akan berpartisipasi dalam mendanai ekspansi bisnis perseroan, namun tidak membuat ekspansi bisnis anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) ini terhambat. Pasalnya, selain rencana penambahan armada baru, Citilink rupanya juga siap mengambil beberapa rute penerbangan domestik milik penerbangan Tiger Air.

Direktur Utama PT Citilink Indonesia, Arif Wibowo mengungkapkan, pihaknya mengincar beberapa rute penerbangan domestik dari maskapai penerbangan TigerAir yang menutup usahanya pada awal Juli 2014,”Kita menunggu pemerintah kalau memang sudah ditawarkan secara resmi, kita akan minta (rute TigerAir). Tapi sebelum ditawarkan, kita juga berusaha mengajukan diri untuk mendapatkan rute yang sebelumnya diterbangi Tiger Mandala," ujarnya di Jakarta, kemarin.

‪Dia menuturkan, rute domestik dari rute TigerAir masih sangat bagus. Sementara untuk rute regional, slotnya masih berhimpitan dengan yang dimiliki maskapai penerbangan berbiaya murah tersebut,”Saya sih masih melihat rute domestik itu sangat bagus. Kemudian yang rute regional, slotnya ada tapi masih berhimpitan dengan slot yang kita punya. Untuk slot yang lain kita masih lihat. Yogya-Pekanbaru kan ada dia, Balikpapan-Solo juga bagus," terang Arif.

Selain itu, lanjutnya, bisnis perseroan di maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) akan terus agresi. Bahkan pada kuartal IV- 2014 mendatang, Citilink merencanakan akan melakukan ekspansi di pasar regional yang sempat tertunda,”Kuartal IV/2014 (ekspansi regional) kayaknya. Jadi gini, regional expansion itu terkait persaingan yang ketat. Contoh Singapura ya, dia kan pemainnya nggak hanya yang low cost, tapi yang full service juga besar-besar," kata Arif Wibowo.

Dia menuturkan, untuk pasar regional yang diliriknya, Singapura dan Kuala Lumpur menjadi target ekspansi utama. Namun, saat ini pihaknya masih fokus untuk memperdalam pasar domestik,”Saya sih tetap melihat Singapura dan Kuala Lumpur. Tapi, fokuskan dulu di domestik deh. Karena PR-nya masih banyak," jelasnya.

Mengenai rute regional Surabaya-Johor yang telah dirambah perusahaan untuk sementara waktu akan dihentikan. Sebagai informasi, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebelumnya memberikan pinjaman sebesar US$ 30 juta kepada PT Citilink Indonesia. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

VP Corporate Secretary Garuda Ike Andriani menjelaskan, transaksi ini pun termasuk transaksi afiliasi yang dikecualikan dari kewajiban untuk mengumumkan keterbukaan informasi. Kemudian untuk mendanai ekspansi bisnis anak usahanya secara berkelanjutan, Garuda Indonesia akhirnya memutuskan untuk menjual anak usahanya PT Citilink Indonesia, “Dari empat peserta yang mengajukan penawaran membeli saham Citilink, saat ini tersisa dua perusahaan," kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.

Disebutkan, kedua perusahaan tersebut diklaim siap menjadi investor strategis bagi PT Citilink Indonesia. Menurut Emirsyah, kedua perusahaan tersebut sedang memasuki tahap negosiasi harga,”Apabila harga tidak mencapai kesepakatan, maka penjualan saham Citilink tidak akan dilanjutkan. Kalau tidak sesuai dengan yang kita harapkan ya tidak akan kita paksakan (dilepas)," ujarnya.

Menurut catatan, Garuda telah menunjuk Standard Chartered Securities sebagai penasihat keuangan (financial advisor) untuk penawaran 40-45% saham Citilink tersebut.

Kata Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, dan Jasa Lain Gatot Trihargo, pelepasan saham Citilink tidak memerlukan persetujuan dari Kementerian BUMN,”Hanya perlu persetujuan dewan komisaris saja. Kan Citilink anak perusahaan Garuda," ujar Gatot.

Dia menilai rencana pelepasan saham Citilink baik karena tidak akan membebani induk perusahaannya. Sebab, tahun lalu Citilink merugi sekitar US$ 48,48 juta. Asal tahu saja, tujuan anak usaha Garuda Indonesia mencari mitra stategis bukan hanya berharap dari segi penyertaan suntikan dana. Namun, lebih ke pengelolaan manajemen bisnis maskapai bertarif rendah (low cost carrier/LCC), sehingga menjadi lebih baik. (bani)