Penjualan Astra Agro Terus Tumbuh

Dampak Rupiah Melemah

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) belakangan ini terus bergerak naik. Selain dipengaruhi tingginya permintaan pasar global terhadap CPO (khususnya dari India dan China), hal ini juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah untuk mencampur biodiesel dengan bahan bakar solar dalam negeri.

Alhasil, produk CPO Indonesia yang sebelumnya banyak diekspor, kini harus berbagi demi pemenuhan kebutuhan biodiesel dalam negeri. Jadi wajar saja jika harga emas cair (CPO) di pasar global terus terkerek. Ditambah, penurunan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS, ikut mendorong kinerja Emiten sawit Tanah Air, yakni PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Di triwulan pertama 2014, produsen sawit milik Grup Astra ini berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 784,6 miliar. Angka ini melonjak 120,2% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 356,4 miliar. Kenaikan laba, salah satunya didukung oleh pendapatan yang meningkat sebesar 36,8% pada triwulan pertama 2014 menjadi Rp 3,72 triliun dari Rp 2,73 triliun di triwulan pertama 2013.

Head of Public Relations AALI Tofan Mahdi, menuturkan, bahwa kinerja cemerlang yang AALI raih di triwulan pertama ini salah satunya memang dipicu oleh kenaikan harga CPO belakangan ini. Untuk harga jual rata-rata CPO AALI di periode Januari-April 2014 mencapai Rp 8.900 per kg atau meningkat sekitar 36,7% dari harga periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp 6.500 per kg,”Kami sebagai pelaku industri kelapa sawit, tidak bisa mengendalikan harga. Karena harga itu diluar kendali kami. Namun, kami juga tidak mengatakan bahwa ketika dolar AS tinggi terus kita senang, begitu pula sebaliknya. Yang penting saat ini, kami terus menjalankan bisnis dan produksi guna memenuhi permintaan CPO baik dalam maupun luar negeri,"ujarnya.

Menurut Tofan, bahwa berdasarkan data Mei 2014, total lahan tertanam perseroan mencapai 282.000 hektar, dengan penanaman baru 1.219 hektar, dan replanting 50 hektar. Sementara, produksi Tandan Buah Segar (TBS) dalam 5 bulan pertama naik 12% menjadi 2,27 juta ton, CPO Production naik 19,4% menjadi 707 ribu ton.

Dia menegaskan, hampir seluruh produksi CPO perseroan pada tahun ini dipasarkan di dalam negeri. Sedangkan, di tahun lalu itu porsinya masih 97% domestik, dan sisanya diekspor ke China dan India. "Tahun ini semua untuk domestik karena permintaan di dalam negeri terserap semua," jelasnya.

Kemudian realisasi belanja modal (capex) selama kuartal pertama tahun ini, kata Tofan Mahdi, Astra Agro Lestari telah menyerap sekitar Rp716 miliar, sementara total capex yang dianggarkan sepanjang tahun 2014 sebesar Rp3,5 triliun,”Capex periode itu untuk pembangunan pabrik dan pengembangan. Sebagian besar pembiayaannya diambil dari dana internal dan ada juga pinjaman perbankan," katanya.

Dia menambahkan bahwa perseroan juga sedang menjajaki lahan yang dianggap potensial untuk menunjang kinerja perseroan, “Total lahan yang sudah ditanami saat ini mencapai sekitar 282 ribu hektare. Total pabrik kelapa sawit kita ada 26 unit dengan kapasitas produksi CPO 1.280 ton per jam," ujar Tofan Mahdi. (bani)