BPH Migas Akan Koordinasi Jaga Kuota BBM

Hilir Energi

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy N Sommeng di Jakarta, Jumat mengatakan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk pelaksanaan pengendalian pemakaian BBM subsidi agar sesuai kuota APBN Perubahan 2014 yang ditetapkan sebesar 46 juta kiloliter.

Angka 46 juta kiloliter merupakan kesepakatan pemerintah dengan DPR, sehingga mau tidak mau harus dilaksanakan. Andy mengatakan, upaya yang dilakukan antara lain pengurangan mulut keran (nozzle) BBM subsidi di SPBU kota-kota besar. "Untuk pengurangan 'nozzle' bisa dimulai di wilayah Jakarta Pusat dan selanjutnya meluas ke kota-kota lain," ujarnya pekan lalu.

Berdasarkan catatan BPH Migas, konsumsi BBM subsidi sampai semester pertama 2014 sudah mencapai 52% dari kuota 46 juta kiloliter. Pertamina memperkirakan realisasi konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi bakal melebihi kuota APBN Perubahan 2014 sebesar 46 juta kiloliter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, mengaku optimistis dapat mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi, khususnya menjelang Lebaran. Salah satu caranya adalah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi BBM bersubsidi ketika Lebaran 2014 dan Tahun Baru 2015. "Lebaran dan Tahun Baru, saya mengimbau masyarakat janganlah masih meminta (BBM) yang bersubsidi. Belilah yang nonsubsidi," kata Wacik.

Dalam APBN-P 2014, jatah BBM bersubsidi sebanyak 46 juta kiloliter. Jumlah tersebut turun 2 juta kiloliter dari APBN 2014 yang kuota BBM bersubsidinya diketok 48 juta kiloliter. Wacik pun optimistis bisa menjaga kuota tersebut agar tidak jebol. "Feeling saya bisa, kalau kita bekerja keras cegah kebocoran dan menjaga penggunaan BBM bersubsidi ramai-ramai," ujarnya.

Sementara menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada Ramadhan-Idul Fitri tahun ini diperkirakan meningkat. Arus mudik dan arus balik memicu tingginya aktivitas transportasi sehingga konsumsi BBM pun melonjak. Meski demikian, PT Pertamina (Persero) menyatakan masyarakat tidak perlu khawatir adanya kelangkaan. Perusahaan pelat merah tersebut akan menjaga pasokan di atas 18 hari.

"Yang penting bahwa stok itu kita pastikan di atas 18 hari untuk menjaga pasokan kepada masyarakat aman. Kita harapkan masyarakat tak perlu khawatir," ujarnya.

Ali menyebutkan konsumsi untuk premium rata-rata nasional per hari adalah 80 ribu kiloliter. Pada periode puasa hingga lebaran, kenaikan konsumsi akan mencapai 10%.

Sementara untuk solar justru berbeda. Konsumsinya malah turun sampai 5% dari rata-rata-rata nasional yang 42 ribu kiloliter per hari. Ini karena biasanya satu minggu sebelum dan setelah lebaran, tidak ada aktivitas di beberapa sektor ekonomi seperti pertambangan, alat-alat berat, hingga manufaktur.

"Banyak truk seminggu sebelum dan setelah lebaran, angkutan berat, itu nggak boleh beroperasi. Pabrik pertambangan juga tutup karena pegawainya libur," tutupnya.