"Menanti Dua Kemenangan Besar Indonesia"

Oleh: Ahmad Qurnia Solahudin. Pemerhati Masalah Sosial Keumatan, Aktif di Kajian Arus Sosial Madan

Senin, 07/07/2014

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

Shaum Ramadhan menurut Abul ‘Ala al-Maududi merupakan sebuah perjuangan dan kegigihan seorang hamba untuk bisa memenuhi keinginan utama yaitu menjadi orang bertakwa, artinya hamba tersebut tidak hanya sebagai muslim tapi mukmin dan meningkat menjadi muttaqien (tingkat tertinggi). Sementara Ibnul Qayyum Al-Jauzi mengartikan shaum ramadhan sebagai bentuk pencucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebelum dapat menapakkan kakinya menuju tingkat atau derajat lebih tinggi, sebuah bentuk hijrah dari kotor menuju bersih.

Ramadhan dapat diartikan sebagai sebuah perjuangan. Perjuangan seorang mukmin menjadi lebih baik yaitu muttaqien. Ramadhan mengajak umat muslim mengerti bahwa untuk lulus ujian muttaqien harus ada perjuangan melewati rintangan yaitu puasa.

Pemilihan presiden 2014 yang bertepatan pada bulan puasa kiranya perlu dimaknai sebagai proses pensucian, pengendalian dan hijrah (perubahan). Dimana sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa saat bangsa Indonesia kerap mengalami konflik (konflik horizontal, disintegrasi dan termasuk persinggungan pendukung capres-cawapres 2014).

Menurut agama Islam, puasa dapat menjadi obat mujarab untuk mengobati berbagai penyakit. Menurut Elson M. Haas, MD (Direktur Medical Centre of Marin), fungsi puasa secara medis adalah: (1) mengurangi purifikasi, (2) peremajaan, (3) istirahat pada organ pencernaan, (4) antiaging, (5) mengurangi alergi, (6) mengurangi berat badan, (7) relaxasi mental dan emosi, (8) perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih seimbang dan lebih terkontrol, dan (9) meningkatkan imunitas tubuh.

Selain itu, puasa dapat mengobati penyakit seperti Influeza, bronkitis, diare, konstipasi, alergi makanan, asma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental, angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia (Elson dalam Liza 2008).

Terkait dengan hal tersebut seperti yang kita ketahui bersama bahwa bangsa ini sedang mengalami berbagai persoalan yang “multikompleks”. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kemiskinan, pendidikan, kesehatan, jumlah desa-desa tertinggal yang bertolak belakang dengan tingginya angka korupsi di Indonesia. Pemilihan presiden yang dilakukan bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan dapat diartikan sebagai sebuah mementum perubahan untuk mencari sosok pemimpin negarawan yang bermartabat, jujur, adil dan beretika/santun yang akan merubah nasib bangsa ini.

Apa yang kita harapkan i bulan suci ini sungguh banyak karena Pilpres jatuh di bulan puasa ini. Harapan kita di bulan puasa ini, kampanye yang tinggal beberapa hari lagi, akan lebih sejuk. Harapan tersebut bukan tanpa alasan karena beberapa pekan ini, kompetisi Pilpres berlangsung sengit,bahkan ada pendapat yang menyatakan bahwa persaingan pada Pilpres kali ini sungguh sangat kompetitif dan cenderung negatif. Isu dan kampanye hitam dimainkan sedemikian rupa untuk mempengaruhi pemilih.Bukan hanya itu. Kompetisi Pilpres seolah tak mengenal ruang dan waktu. Segala hal selalu dikaitkan dengan Pilpres. Di berbagai tempat dan lokasi publik, semuanya hanya mengenai Pilpres. Tak heran, masyarakat seolah dikepung oleh berbagai informasi mengenai Pilpres ini sehingga menyebabkan kejenuhan.Apalagi media televisi yang ada juga berpihak. Tidak ada lagi independensi media, karena pemilik media ikut-ikutan berkompetisi seolah media adalah milik mereka sendiri. Bahkan, salah satu TV swasta yang memihak capres tertentu telah terkena “getah politiknya” yaitu digeruduk Repdem yang berafiliasi politik ke PDIP, walaupun sejumlah kalangan mengkritik cara-cara Repdem yang melakukan aksi vandalisme dan pengerahan massa, karena hal tersebut merusak kebebasan pers.

Dalam setiap pertandingan, selalu ada jeda. Beruntunglah, jeda itu terjadi dengan lebih religius. Bulan puasa ini menjadi sebuah periode jeda yang menyejukkan karena sarat dan penuh dengan ibadah. Kita berharap bahwa tim masing-masing kandidat lebih memperhatikan materi yang akan mereka sampaikan. Tidaklah elok membiarkan fitnah terjadi di bulan yang penuh berkah dengan perilaku menahan dan mengendalikan diri. Bulan puasa ini sebaiknya diisi dengan pernyataan yang menyejukkan hati. Ibadah yang berlangsung kita harapkan tidak akan terganggu dengan komentar, pernyataan atau kampanye yang jauh dari unsur kebaikan dan kesejukan. Kita berharap banyak bahwa saat seperti ini masing-masing tim kampanye akan berlomba-lomba membuat kebajikan denganmemberi contoh melakukan kompetisisehat sambil tetap beribadah.

Untuk itu, masyarakat sebagai bagian penting dalam mewujudkan demokrasi yang bermartabat tentu diharapkan dapat memposisikan diri dengan baik. Tidak mudah terhasut oleh berita bohong (black campaign), terjebak money politik ataupun tindakan-tindakan lain yang dapat mengganggu kekhusuan puasa dan demokrasi kita. Menentukan pilihan atas dua kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tentu harus didasarkan atas hati nurani dan keyakinan bahwa kandidat calon pemimpin yang akan memimpin bangsa ini memiliki kemampuan yang mumpuni guna merubah wajah bangsa indonesia, melepaskan diri dari lubang hitam dan kursi pesakitan yang hingga kini masih menjerat seluruh rakyat Indonesia.

Semoga dua kemenangan besar “ puasa dan pilpres“ tersebut betul-betul diraih rakyat Indonesia sehingga harapan akan terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera mendapat ridha Allah SWT.Nasib Indonesia ditentukan oleh keyakinan rakyatnya sendiri dengan berprilaku jujur, tulus membela bangsa dan negara, dan bertaqwatanpa fitnah , itulah patriot sejati sesungguhnya yang berjihad untuk kebaikan demi kedamaian di hati, kedamaian diumatdan kedamaian dibumi.***