Sektor Perikanan Diklaim Mampu Tekan Inflasi

Subang, Jawa Barat

Senin, 07/07/2014

NERACA

Subang – Berdasarkan data dari Bank Indonesia inflasi sampai dengan Juni 2014 berada dilevel 6,70%, tingginya inflasi ini ditengarai karena meningkatnya harga kebutuhan pokok seperti daging sapi, telor, dan ayam apalagi selama bulan puasa sampai dengan lebaran nanti diproyeksikan harga kebutuhan pokok akan terus merangkak naik, yang mengakibatkan inflasi bakal lebih tinggi lagi.

Menanggapi hal itu Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo menuturkan saat ini konsumsi ikan nasional 38 kilogram per kapita pertahun ini diakibatkan masyarakat sudah mulai beralih yang dulunya mengkonsumsi daging baik daging sapi maupun ayam beralih mengkonsumsi ikan. Ikan disamping memiliki gizi yang besar, harag ikan juga terjangkau oleh masyarakat. Dengan harga yang terjangkau otomatis daya beli masyarakat tinggi, harapannya mampu menekan inflasi.

“Jika dikaitkan inflasi saya memang harapkan sektor perikanan mampu menekan inflasi karena ditengah harga kebutuhan pokok lain meningkat, harga ikan masih relatife stabil sehingga terjangkau oleh masyarakat,” kata Sharif, saat melakukan safari ramadan di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/7) pekan lalu.

Bukan hanya itu saja, sambung Sharif, di tengah kebutuhan lain seperti daging sapi impor dari negara lain, produksi sektor perikanan nasional malah surplus bahkan ekspor ikan setiap tahunnya meningkat dimana tahun ini kami menargetkan produksi ikan pada 2014 sebesar 20,05 juta ton. Terdiri dari perikanan tangkap sebesar 6,08 juta ton dan perikanan budidaya sebesar 13,97 juta ton.

Target tersebut tidak terlepas dari pencapaian positif target 2013 yang menunjukan perkembangan positif. Tercatat, nilai ekspor perikanan semester I 2013 mencapai US$1,97 juta dengan volume 621,7 ribu ton. Data ini berarti terjadi kenaikan produksi ikan 4,2% dan untuk volume perdagangan naik 5,3%.

Komoditi udang masih menjadi primadona ekspor dengan menyumbang 36,7 % atau US$ 723,6 juta.“Asal capaian-capaian itu lah kami meyakini bahwa ditengah sektor lain sedang terpuruk, sektor perikanan diharapkan mampu menjadi sektor ketahanan pangan nasional,” ujarnya,

Di samping itu juga bukan hanya dalam negeri saja, sektor perikanan saat ini menjadi andalan ketahanan pangan dunia, dimana diproyeksikan konsumsi ikan dunia per kapita bisa mencapai 19,6 kg pada 2021 mendatang.

Adapun komoditas-komoditas ikan yang menjadi andalan sehingga mampu menekan inflasi adalah seperti lele, bandeng, ikan nila, ikan emas, komoditas seperti inilah yang banyak diminati oleh masyarakat karena harganya yang terjangkau, sehingga disinyalir komoditas inilah yang memberikan kontribusi terhadap penekanan inflasi.

“Komoditas inilah yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap inflasi, karena harga terjangkau oleh masyarakat. Dan saat ini komoditas inilah yang sedang dikembangkan tekhnologinya untuk peningkatan produksinya, seperti yang ditemukan sekarang “lele mutiara” yang bisa lebih cepat panen,” paparnya.

Pada kesempatan berbeda, Bank Indonesia meyakini target inflasi di tahun ini yang sebesar di level 4,5% plus minus 1% dapat tercapai setelah melihat realisasi angka inflasi sepanjang semester I 2014 yang tercatat sebesar 1,99% (inflasi tahun kalender).

"Meskipun ada kenaikan, tetapi kami tetap berada dalamrange4,5% plus minus 1%, ada kecenderungan ke atas, tapi masih dalamrange,"kata Agus DW Martowardoyo, Gubernur Bank Indonesia. Menurut dia, ada dua hal yang perlu diperhatian lebih mendalam agar tidak ada lonjakan inflasi yaituadmisiter pricedanvolatile food. "Saya upayakan pengendalikan inflasi benar-benar dapat dilakukan khususnya mau Ramadan kami musti yakin dua area,admisiter pricedanvolatile food," tutupnya. [agus]