IDI Pengaruhi Investasi Indonesia

Penilaian BPS

Senin, 07/07/2014

NERACA

Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin mengatakan, bahwa Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) seyogyanya dapat mempengaruhi para investor yang ingin menanam sahamnya di tanah air. Jika kondisi politik aman, maka invetasi yang masuk besar, tapi jika kondisinya tidak aman akan bertindak sebaliknya.

"Bisa saja mempengaruhi investor. Karena kalau hasil IDI menunjukkan banyak demo dimana-mana dan kurang kondusif, maka investor, terutama investor asing, akan enggan memberikan modalnya," kata Suryamin di Jakarta, Jumat (4/7) pekan lalu.

Sebaliknya, bila IDI yang ditunjukkan terbilang baik, maka investor asing akan datang berinvestasi. Sehingga dapat mendorong nilai investasi Indonesia. Menurut data dari BPS, IDI 2013 dinilai membaik jika dibandingkan dengan 2012. Dimana angkanya meningkat 1,05 poin menjadi 63,68 dari 62,63 berdasarkan skala nol sampai 100.

"Meski mengalami peningkatan, tingkat demokrasi Indonesia masih tetap berada pada kategori sedang," tukasnya. Suryamin mengatakan, angka tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini berada pada kategori transisi demokrasi pasca-reformasi, yang ditandai dengan tingginya partisipasi masyarakat, naiknya kebebasan sipil, namun hak politik masih tersendat dan kurang berfungsinya lembaga demokrasi.

Menurut dia, seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat perlu berpartisipasi dalam meningkatkan IDI, dengan berperan aktif memperbaiki berbagai hal yang kurang berdasarkan rekomendasi IDI dan menambah kebijakan pendukungnya.

"Kami bekerjasama dengan pihak Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk meningkatkan IDI," paparnya.

Sedangkan berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak tahun 2010, penanaman modal asing (PMA) atauforeign direct investmenmemperlihatkan tren kenaikan setiap triwulannya. PMA mengalami puncaknya pada triwulan IV tahun 2013 yang mencapai US$ 7,4 miliar.

Namun, pada awal tahun 2014 tren ini agak sedikit terganggu. PMA turun sebesar US$ 500 juta menjadi US$ 6,9 miliar. Meskipun investasi baru masuk dengan porsi lebih besar yaitu 66,4% dibanding perluasan yang 33,6%.

Indikasi terkuat dari penurunan ini adalah tahun 2014 yang bertepatan dengan agenda politik, yaitu pemilihan umum (pemilu). Agenda yang akan menentukan pimpinan negara tersebut membuat investor tampakwait and see.

Sementara Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Mahendra Siregar mengungkapkan, kaitan antara pemilu dengan realisasi investasi belum dapat dipastikan. Karena sampai dengan saat ini, investor masih menganggap pemilu sebagainon issue.

"Kalau untuk PMA setidaknya pandangan mengenai pemilu masih netral ataunon issueterhadap investasi," ujarnya beberapa waktu lalu. Dia menilai perihal PMA bukan dilihat dari satu kondisi yang temporer atau jangka pendek. Melainkan dengan jangka panjang, seperti kepastian iklim investasi yang kondusif. Berbeda tentunya dengan pergerakan di pasar saham yang sangat sensitif dengan isu temporer. [agus]